Kubu Raya, HMASS.CO — Pengurus Cabang Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (PC HMASS) Pontianak bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Darul Ulum (STITDAR) Kubu Raya sukses menggelar seminar bertajuk “Aswaja dan Tantangan Kebangsaan” pada Jumat pagi (17/10).
Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Alil Wafa, M.Pd., Ketua Umum Pengurus Pusat Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (PP HMASS) sekaligus pengajar di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, sebagai narasumber utama. Seminar diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika STITDAR dengan antusiasme tinggi.
Dalam pemaparannya, Ustadz Alil Wafa menjelaskan bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama sering kali berakar pada perbedaan paradigma dalam memahami dalil. Keragaman hasil ijtihad tersebut, menurutnya, tidak seharusnya dianggap sebagai pertentangan, melainkan rahmat yang memperkaya khazanah keilmuan Islam.
Beliau mencontohkan perbedaan pandangan antara Imam Malik dan Imam Syafi’i terkait posisi doa qunut dalam salat Subuh. Imam Malik berpendapat qunut dilakukan sebelum rukuk, sedangkan Imam Syafi’i menempatkannya setelah rukuk. “Perbedaan ini muncul karena perbedaan riwayat hadis yang diterima masing-masing imam,” jelasnya.
Ustadz Alil menegaskan bahwa perbedaan dalam ranah furu’iyyah (cabang hukum) adalah sesuatu yang dapat ditoleransi, selama dilandasi niat mencari kebenaran dan bukan fanatisme golongan. Namun, ia mengingatkan bahwa sikap merasa paling benar dan menyalahkan pendapat orang lain secara mutlak justru merupakan bentuk intoleransi yang tidak sejalan dengan semangat Aswaja.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa perbedaan tidak dapat ditoleransi apabila sudah menyentuh ranah ushuluddin (pokok-pokok akidah). Menurutnya, kebebasan berkeyakinan tidak bisa dijadikan dalih untuk membenarkan penodaan terhadap prinsip-prinsip dasar agama. “Perbedaan dalam ranah usul bukan sekadar soal tafsir, melainkan bentuk penistaan terhadap ajaran Islam yang tidak bisa dibiarkan atas nama toleransi,” tegasnya.
Mewakili Ketua STITDAR, Abdul Jalil, M.Pd.I., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara HMASS PC Pontianak dan STITDAR Kubu Raya. Ia menilai kegiatan ini sebagai momentum penting untuk memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap aqidah Ahlussunnah wal Jama‘ah, di tengah tantangan ideologi transnasional yang semakin kompleks.
“Kehadiran pemateri dari Pondok Pesantren Sidogiri menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa STITDAR, karena mereka bisa belajar langsung dari sumber keilmuan yang memiliki sanad dan otoritas keaswajaan yang kuat,” ungkapnya.
Seminar berlangsung dalam suasana khidmat dan interaktif, diakhiri dengan sesi tanya jawab yang menggugah semangat intelektual para peserta. Diskusi berjalan hangat dengan topik seputar relevansi ajaran Aswaja dalam menjaga keutuhan umat dan semangat kebangsaan di era globalisasi.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata sinergi antara HMASS dan STITDAR dalam meneguhkan komitmen keaswajaan di kalangan mahasiswa serta memperkokoh nilai-nilai moderasi beragama sebagai benteng dari pengaruh ideologi yang dapat mengancam persatuan bangsa.
Kontributor: Ahmad Zahid
Editor: Fauzan Imron
209 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini


