de918458-7bba-4c62-becb-e1a29fc10d99

LUMAJANG, HMASS.CO

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) tidak hanya membawa perubahan dalam dunia teknologi, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam memahami dan menyikapi informasi keagamaan. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Akidah bertajuk “Artificial Intelligence vs Pemikiran Ulama’ Salaf: Membentengi Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari Serangan Informasi Siber” yang diselenggarakan HMASS Lumajang di Pondok Pesantren Manarul Qur’an, Kutorenon, Jumat (7/8/2026).

Dalam seminar tersebut, Ustaz Ahmad Dairobi Naji selaku pemateri mengingatkan peserta agar tidak menjadikan AI sebagai sumber kebenaran mutlak. Menurutnya, AI pada dasarnya merupakan alat yang dapat membantu manusia mencari, mengolah, dan memahami informasi, tetapi tetap memiliki kemungkinan menghasilkan jawaban yang keliru. “AI bisa salah, sebagaimana manusia juga bisa salah.”

Pernyataan tersebut menjadi salah satu gagasan utama yang disampaikan dalam seminar. Karena itu, persoalan yang dihadapi bukan sekadar memilih antara informasi yang berasal dari AI atau manusia, melainkan bagaimana seseorang mampu menguji dan memastikan kebenaran informasi yang diterimanya.

Pentingnya Bekal Ilmu

Pemateri menekankan bahwa pengguna tidak seharusnya langsung membenarkan setiap jawaban yang diberikan AI. Untuk mengetahui apakah sebuah jawaban benar atau salah, seseorang justru perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai bidang yang sedang dibahas.

Dengan bekal ilmu tersebut, pengguna dapat melakukan tabayyun, membandingkan informasi dengan sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, serta mengenali kemungkinan kekeliruan yang terdapat dalam jawaban AI.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika AI digunakan untuk menjawab pertanyaan seputar agama Islam. Menurut pemateri, jawaban AI sangat dipengaruhi oleh data, sumber, dan pola informasi yang tersedia dalam proses pengembangannya. Dalam kondisi tertentu, AI dapat menghasilkan jawaban generatif yang terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu sesuai dengan fakta atau pendapat yang benar.

Bahasa yang meyakinkan, lanjutnya, tidak otomatis menunjukkan bahwa suatu jawaban benar. Tanpa bekal keilmuan yang memadai, pengguna dapat menerima informasi tersebut begitu saja tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Waspada Informasi Keagamaan

Kekhawatiran tersebut semakin besar ketika pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan akidah, fikih, maupun persoalan keislaman lainnya. Prompt atau pertanyaan yang terlalu umum dapat menghasilkan jawaban dari berbagai perspektif dan sumber yang belum tentu sesuai dengan manhaj keislaman yang menjadi pegangan pengguna.

Dalam konteks Ahlus Sunnah wal Jama’ah, peserta diajak untuk tidak hanya bergantung kepada teknologi, tetapi tetap kembali kepada ulama, kitab, guru, dan sumber-sumber keilmuan yang memiliki kredibilitas.

AI, menurut pemateri, dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam memperoleh informasi. Namun, teknologi tersebut tidak semestinya menggantikan proses belajar, bimbingan guru, maupun tradisi keilmuan yang telah diwariskan para ulama.

AI sebagai Alat, Bukan Pengganti Guru

Seminar tersebut tidak diarahkan untuk mengajak umat meninggalkan AI. Sebaliknya, teknologi dapat memberikan berbagai manfaat apabila digunakan secara tepat, seperti membantu mencari referensi, merangkum informasi, menjelaskan istilah, dan membuka wawasan awal terhadap suatu persoalan.

Namun, untuk persoalan yang membutuhkan ketepatan keilmuan, khususnya dalam masalah agama, informasi yang diperoleh dari AI tetap perlu dikaji dan dikonfirmasi kepada sumber yang otoritatif.

Kemampuan menggunakan AI, dengan demikian, perlu berjalan beriringan dengan kemampuan berpikir kritis. Kemudahan memperoleh informasi jangan sampai membuat seseorang kehilangan kebiasaan membaca, belajar, bertanya kepada guru, dan melakukan tabayyun.

Seminar ini menjadi relevan di tengah semakin dekatnya teknologi AI dengan kehidupan sehari-hari. Tantangan umat bukan hanya menghadapi derasnya arus informasi, tetapi juga memastikan agar informasi yang diterima tidak menggeser pemahaman keagamaan yang dibangun melalui tradisi keilmuan para ulama.

Meski sejumlah anggota HMASS Lumajang berhalangan hadir karena pada waktu yang bersamaan terdapat agenda rapat triwulan PW IASS Lumajang, kegiatan tetap berlangsung dan diikuti peserta yang hadir dengan antusias.

Pesan utama seminar tersebut dapat dirangkum dalam satu prinsip: jangan menjadikan AI sebagai penentu kebenaran, tetapi jadikan AI sebagai alat bantu untuk mencari dan mengolah informasi. Kebenaran tetap harus diuji dengan ilmu, sumber yang terpercaya, dan bimbingan para ulama.

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan