IMG_6818

Pada pertemuan kedua kali ini, pembahasan masih melanjutkan dan menyempurnakan keterangan sisa bab pada pertemuan sebelumya, kemudian berlanjut pada pembahasan alhamdu lilah dan pembahasan takdir baik dan buruk dari Allah SWT.

Berikut adalah poin-poin pada pertemuan yang berdurasi kurang lebih 1 jam 15 menit ini:

Hamba Tidak Sepantasnya Sombong

Ketika hamba tahu, bahwa Allah SWT adalah zat yang menciptakan dia dan segenap pekerjaanya, seharusnya dia tidak sombong. Meski, misalnya, dia mempunyai amal yang luar biasa dan ilmu yang begitu banyak, pada hakikatnya itu semua dari Allah dan tidak ada satu pun yang muncul dari dirinya.

Syaikh Salim kemudian mengutip nazam dari Matn Jauharatut-Tauhid:

فَخَالِقٌ لِعَبَدْه وَمَا عَمِلْ … مُوَفِّقٌ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَصِلْ

“Allah adalah zat yang menciptakan hamba dan apa yang ia kerjakan. Allah juga yang meberi taufik, bagi manusia yang hendak sampai kepada-Nya.”

Khilaf Antara Asyairah dan Maturidiyah dalam Definisi Qada’-Qadar

Semua yang terjadi di dunia ini merupakan qada’ dan qadar Allah. Tidak ada satu pun di dunia ini yang luput dari qada’ dan qadar Allah.

Namun dua mazhab Ahlusunah wal Jamaah, Asyairah dan Maturidiyah, berbeda pendapat dalam mendefinisikan qada’ dan qadar. Bagi Asyairah, qada’ adalah, “Ilmullah fil-azal bil-asyya’,” pengetahuan Allah SWT pada segala sesuatu fil-azal (sebelum semua makhluk tercipta). Sedangkan qadar adalah terciptanya sesuatu, sesuai dengan ilmu Allah fil-azal.

Syaikh Salim memberikan contoh:

“Fil-azal, Allah SWT sudah tahu bahwa kalian akan lahir di Indonesia. Fil-azal, Allah juga tahu kalian akan lahir di hari apa, kalian akan hidup di tahun ini, kalian akan menikah dan punya anak 10, kalian akan datang dari Indonesia ke Mesir, kalian akan masuk fakultas Usuluddin, Syariah, atau lainnya, Ketika kalian datang ke Mesir, itu disebut qadar. Qadar terjadinya sesuatu secara nyata, yang sesuai dengan ilmunya Allah. Qada’ adalah ilmu Allah fil-azal.”

Definisi qada’ dan qadar di atas berbeda dengan pendapat Maturidiyah yang memandang sebaliknya. Mereka mendifinisikan, qada’ adalah apa yang Allah takdirkan fil-azal. Sedangkan qadar adalah pengetahuan Allah (ilmu) pada segala sesuatu fima la yazal (setelah makhluk tercipta).

Agar Lailahaillah Tidak Hanya Menjadi Ucapan Sia-sia

KH. A. Nawawi Abd. Djalil dalam kitabnya menyebutkan:

“Kemudian ketahuilah, bahwa orang yang mengucapkan ‘Lailaha illallah’ akan masuk surga, dengan syarat dia mengetahui dan meyakini maksudnya. Sebab orang yang sekadar mengucapkan ‘Lailaha ilallah’, tanpa tahu arti yang sebenarnya, maka dia masih dikhawatirkan.”

Orang yang hanya mengucapkan lailaha illallah, tanpa tahu maksudnya, maka kalimat tersebut tidak akan berguna baginya di hari kiamat. Termasuk yang tidak selamat, jelas Syaikh Salim, orang yang beriman hanya sekadar untuk berhati-hati (ala sabilil-ihtiyath) takut ternyata di akhirat nanti, Allah, Tuhan semesta alam, benar-benar ada.

Misalnya, ada seorang ateis masuk agama Islam. Kemudian dia mengatakan, “Jika memang ternyata di hari kiamat Tuhan itu ada, ya berarti aku beriman. Kalau ternyata memang tidak ada, ya, berarti aku tidak rugi apa-apa.” Imannya orang yang seperti ini, meski sudah melafazkan lailaha illah tidak akan bermanfaat di hari kiamat. Selain harus mengetahui maksudnya, seorang muslim juga harus meyakininya.

Menghamba Pada Ketidaktahuan

Seorang muslim juga harus tahu dan mengenal Tuhannya. Kalau ada hamba yang tidak tahu kepada Allah, berarti dia menyembah pada zat yang tidak diketahui.

Tentu, terang Syaikh Salim, yang dimaksud mengetahui di sini hanyalah mengetahui Allah sera ijmali (global), seperti mengetahui bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang berhak disembah sekaligus sifat-sifat-Nya, bukan secara rinci mengetahui zat-Nya. Bagaimana pun, tidak mungkin ada yang bisa tahu kepada zat Allah SWT, kecuali Allah sendiri.

Mengetahui Allah SWT merupakan pondasi agama. Segala amal ibadah tergantung kepada hal yang satu ini. Seseorang hamba yang beribadah kepada Allah SWT, tanpa asas tadi, maka amalnya tidak diterima.

Yang Istimewa dari al-Ma’man

Sebelumnya, Syaikh Salim sudah menjelaskan beberapa keistimewaan kitab al-Ma’man dari sudut pandang nama dan patokan utama yang menjadi pembahasan kitab-kitab lainnya.

Pada pertemuan kali ini, beliau menambahkan lagi dua kelebihan, yang beliau nilai dari segi metode dan penyusunan kitab al-Ma’man. Pertama, kitab al-Ma’man memiliki keistimewaan karena berhasil menghubungkan perilaku (amal) dan keyakinan (akidah).

Syaikh Salim menjelaskan:

هَذَا الْكِتَابُ فِيهِ مِيزَةٌ وَهِيَ أَنَّهُ يَرْبُطُ اَلْعَمَلْ بِالْعَقِيدَةْ ، يَعْنِي لَا يَجْعَلُ الْعَقِيدَةَ أُمُورًا نَظَرِيَّةْ فَقَطْ ، إِنَّمَا يَرْبُطُ اَلْعَمَلَ بِالْعَقِيدَةِ وَهُوَ يَأْمُرُكَ أَنْ تُفَوِّضَ أَمْرَكَ إِلَى اللَّهِ لِأَنَّ هَذَا مَبْنِيٌّ عَلَى قَضَاءِ اَللَّهِ وَقَدْرِهِ

“Kitab ini memilki keistimewaan, yaitu menghubungkan amal dan akidah. Tidak hanya menjadikan akidah sebagai perkara akal. Akan tetapi menghubungkan amal dan akidah. Kitab ini menyuruh kalian untuk menyerahkan segalanya kepada Allah (setelah berusaha), karena semuanya sudah berdasarkan qada’ dan qadar Allah.

Kedua, pengulangan beberapa pembahasan agar menjadikan isinya tertanam dengan kuat di hati pembaca. Dalam hal ini beliau mengatakan:

أَنَا لَوْ أَكْتُبُ هَذَا الْكِتَابَ بِقَلَمِي سَأَكْتُبُ فِي عَشْرِ صَفَحَاتٍ ، وَلَكِنْ لَا يَعِيبُ هَذَا الشَّيْخْ لِأَنَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُرَسِّخَ فِكْرَةً فِي نَفْسِكَ لِأَنَّهُ فِي مَسَائِلِ الْعَقِيدَةْ ، وَهَذَا التَّكْرَارُ الَّذِي يُلَحُّ عَلَيْهِ مَقْصُودٌ عِنْدَهُ فَإِنَّ التَّكْرَارَ فِي الْقُرْآنِ بَلَاغَة وَهَذَا هُوَ مَقْصُودُهْ

“Andai aku yang menulis kitab ini, mungkin akan aku tulis hanya dalam sepuluh halaman. Akan tetapi ini bukan menjadi celah kekurangan kepada syaikh (pengarang), karena beliau ingin menanamkan dengan kuat satu pemikiran dalam hati kalian, sebab hal ini merupakan permasalahan akidah. Pengulangan ini memang tujuan utama. Pengulangan dalam al-Quran bagian dari keindahan (al-Balagah). Inilah (tertanamnya akidah dengan kuat) yang syaikh (Kiai Nawawi, red) maksud.”

 

Reporter: Badruttamam

Editor: Abrari Ahmadi

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan