OIP

ما لي اركم تاتوني قلحا استاكوا رواه احمد

“Kenapa aku melihat kalian datang kepadaku, sedangkan gigi kalian kuning. Bersiwaklah!” (HR. Ahmad)

Gigi merupakan sahabat yang selalu menemani kita. Ia merupakan penyokong penampilan seseorang, baik pria maupun wanita, tua ataupun remaja.

Selama bertahun-tahun, ialah yang membantu kita mengoyak daging serta menghaluskan makanan yang akan masuk ke perut kita. Dialah yang selalu ada di saat tidak ada orang yang mau membantu kita. Ya, kita gunakan gigi–gigi itu setidaknya tiga kali sehari, sembilan puluh kali sebulan. Betapa banyak makanan yang ia proses hingga menjadi lembut dan mudah dicerna, mulai dari yang padat, cair, basah, kering, makanan pokok, camilan, asin, manis, panas, dingin dan semacamnya. Semua itu menjadi  suplai energi yang melimpah demi untuk keseharian kita.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi kita untuk memperhatikan nikmat gigi serta merawatnya dengan baik dan benar. Sudah sejak lama syariat menganggap penting perawatan gigi dengan siwak. Mulai dari bangun tidur ketika wudhu, shalat, mengaji, puasa, kita hendak tidur lagi dan lain semacamnya. Berabad–abad lamanya Nabi SAW menganjurkan siwak sebelum para ilmuan barat menyarankannya.

لولا ان اشق على امتي لامرتهم بالسواك مع كل صلاة متفق عليه

“Seandainya aku tidak memberatkan kepada umatku niscaya aku perintahkan (aku wajibkan) kepada mereka bersiwak setiap kali hendak shalat.”

Para ulama mengatakan bahwa siwak tidak hanya terbatas dalam shalat lima waktu, melainkan juga shalat–shalat yang lain seperti shalat Dhuha, shalat sunah fajar, shalat tahiyat masjid dan semacamnya. Setidaknya lima kali (jika menghitung shalat fardu saja) kita disunahkan bersiwak.

Rasululullah sering menganjurkan para sahabat untuk bersiwak (HR. ad-Darimi). Bahkan para sahabat sampai menyangka akan turun ayat mengenai siwak (HR. Ahmad). Bukan hanya itu, Rasulullah juga mencontohkannya siang dan malam hingga di penghujung usia beliau pada saat sakaratul maut, beliau masih menginginkan siwak serta melakukannya. (HR. Bukhari).

Berikut adalah waktu-waktu Rasulullah bersiwak seperti disampaikan Habib Muhammad bin Alwy al-Idrus:

  1. Ketika wudhu
  2. Ketika mandi
  3. Ketika tayamum
  4. Ketika hendak shalat fardhu atau sunah
  5. Ketika sujud tilawah dan syukur
  6. Ketika membaca al-Quran
  7. Ketika membaca hadis
  8. Ketika berdzikir
  9. Ketika membaca ilmu
  • Setelah witir
  • Ketika tawaf
  • Ketika masuk ka’bah
  • Ketika khutbah
  • Ketika gigi kuning
  • Ketika hendak tidur
  • Ketika bangun tidur
  • Ketika masuk rumah
  • Ketika bertemu keluarga
  • Ketika keluar rumah
  • Ketika makan
  • Setelah makan
  • Ketika waktu sahar
  • Ketika menghadapi sakaratul maut
  • Ketika berdua di majelis ilmu dan dzikir
  • Ketika masuk masjid
  • Ketika keluar masjid
  • Kertika berkumpul bersama saudara saudara
  • Ketika senggama bersama istri atau budaknya
  • Ketika hendak bepergian
  • Ketika datang dari bepergian
  • Ketika adzan
  • Ketika iqamah
  • Ketika bau mulut berubah, baik disebabkan tidak makan, makan sesuatu yang berbau, diam yang lama, Banyak bicara atau banyak makan
  • Ketika lapar atau haus,sebab ada riwayat yang menyatakan bahwa siwak dapat menyegarkan orang haus, mengenyangkan orang lapar dan menghancurkan makanan

Serta di setiap keadaan tanpa adanya lalai dan sembrono

Berikut adalah sunah–sunah bersiwak yang sudah jarang ditemukan seperti disampaikan oleh habib Muhammad bin Alwy al-Idrus:

  1. Bersiwak ketika masuk masjid
  2. Bersiwak ketika keluar masjid
  3. Bersiwak ketika masuk rumah
  4. Bersiwak ketika keluar rumah
  5. Bersiwak ketika adzan
  6. Bersiwak ketika berada di majelis ilmu
  7. Bersiwak ketika hendak tidur, baik di waktu siang atau malam, malam lebih disunahkan
  8. Bersiwak ketika bangun tidur kapan saja terutama di waktu sahar
  9. Bersiwak ketika tayamum
  • Bersiwak ketika lapar dan haus
  • Bersiwak ketika khutbah jumat
  • Bersiwak ketika senggama
  • Bersiwak ketika Iqamah
  • Niat siwak ketika hendak melakukannya seperti “aku bersiwak untuk wudhu”
  • Berdoa dengan mengatakan

اللهم بيض به اسناني وقوي به لثاتي

“Ya Allah, dengan siwak putihkanlah gigiku dan kuatkanlah gusiku.”

  • Siwak setelah shalat witir
  • Yang sunah adalah tidak meledakkan siwak di lantai melainkan berdiri di atas semisal tembok
  • Disunahkan meletakkan siwak dibelakang telinga kiri
  • Disunahkan bersiwak baik sebelum makan maupun setelahnya
  • Disunahkan bersiwak ketika mandi baik mandi wajib, mandi sunah, maupun untuk menyegarkan diri

 

Penulis: M. Muzammil Mustofa

Editor: M. Muhsin Bahri

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan