IMG-20220827-WA0039

IMG-20220827-WA0039

Kairo, HMASS.CO

Tidak terasa lebih setahun lamanya, murabbi rûhinâ KH. A. Nawawi bin Abd. Djalil telah meninggalkan santrinya. Tetapi tetap harus diyakini bahwa tiada ulama yang tiada meninggal. Sejatinya kekasih Allah SWT tidak mengalami rasa takut dan sedih dalam diri mereka.

Agar ilmu dan wawasan KH. A. Nawawi bin Abd. Djalil selalu bermanfaat dan tidak lekang oleh masa, HMASS Mesir berinisiasi mengadakan acara mengaji salah satu karya beliau, yaitu al-Ma’man min adh-Dhalâlah di Mesir.

Berawal dari inovasi program kerja HMASS Mesir divisi Pendidikan dan Pelatihan, pengurus sangat menginginkan bila kajian yang rutin dilaksanakan per dua kali sebulan tidak hanya melulu fan fikih. Lebih penting dari itu, pengurus mengusulkan agar kajian kitab turats melebar pada ilmu tauhid dan akidah.

Selain itu, dengan menyebarluaskan karya KH. A. Nawawi bin Abd. Djalil, dapat memperbarui dan meluruskan niat belajar anggota HMASS yang sedang berada di Mesir serta mengingat kembali keterangan yang disampaikan oleh sang guru waktu mengaji di pondok dulu. Demikian yang disampaikan oleh Shibgatallah, ketua divisi Pendidikan dan Pelatihan HMASS Mesir ketika dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Demi efektifnya acara, HMASS Mesir berkolaborasi dengan Lembaga Dakwah (LD) PCINU Mesir. Hal itu disebabkan lokasi yang tidak memadai serta tenaga kepanitiaan yang kurang. Karena tidak hanya anggota, HMASS Mesir membuka pengajian kitab al-Ma’man min adh-Dhalâlah ini untuk seluruh masisir dengan jumlah kuota 80 orang.

Terkait kolaborasi ini, HMASS Mesir direspon baik oleh PCINU Mesir sekaligus mendapatkan apresiasi khusus. Ahmad Rikza Aufarul Umam, Lc., Dipl., ketua Tanfidziah PCINU Mesir berharap HMASS Mesir menjadi percontohan bagi seluruh almamater lain yang berkaitan sekali dengan Nahdlatul Ulama.

“Alâ kulli hâl, kami sangat merespon positif, karena ini salah satu eksplorasi khazanah Islam,” ujarnya.

Mas Aris, sapaan akrab beliau, juga menjelaskan bahwa salah satu program LD-PCINU adalah Talaqqi Kitab Nusantara (TKN). Banyak sekali testimoni peserta yang telah mengikuti program yang PCINU Mesir yang satu ini. Salah satunya adalah mendapat perspektif baru dari keterangan-keterangan narasumber yang diundang dalam acara ngaji.

“Yang hatam berkali-kali ngaji di indo pun masih tetap antusias menerima penjelasan dari syekh,” lanjut pria yang sedang dalam studi S2 di universitas al-Azhar, Kairo tersebut.

Rencananya, pengajian kitab al-Ma’man akan diadakan sebulan sekali, tepatnya setiap hari Senin akhir bulan dengan pemateri, Syekh Mahmud Abidin al-Azhariy. Pengurus berkeinginan ngaji kitab karya KH. A. Nawawi bin Abd. Djalil tersebut bisa selesai hingga halaman terakhir.

“Target hatam, paling ya delapan bulan. Tergantung syekh,” jawab Ust. Muhammad Ghufron, ketua PCI HMASS Mesir memprediksi.

Sementara itu Ketua Pengurus Wilayah Istimewa Ikatan Alumni Santri Sidogiri (PWI IASS) Mesir, Kurdi Arifin menjelaskan bahwa program ini merupakan sinergi yang bagus antara Sidogirian mesir dan LDNU, “Kita ada kendala tempat mengingat kantor Sekretariat HMASS Mesir ruangan nya tidak mencukupi, sehingga kita mencari kerjasama. Bagai bersambut gayung saat divisi pendidikan berhasil mendapatkan kerjasama dengan LDNU” jelasnya.

Untuk teknisnya LDNU menyerahkan kewenangan sepenuhnya kepada teman-teman HMASS Mesir, “Untuk teknis dipasrahkan ke pihak HMASS, maka kita mengerahkan divisi ekbis dan pendidikan untuk mensukseskan hal ini”, ungkap pemuda kelahiran Bantur, Malang ini.

 

Reporter: Abrori Ahmadi

Editor: Fauzan Imron

664 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan