WhatsApp Image 2022-07-20 at 07.05.56

Oleh: Hiqaf Aabas*

Dalam kamus ilmiah populer kata orientalis diartikan ilmuan Barat yang mempelajari pelbagai aspek bangsa Timur dan melakukan observasi fokus. Mulai dari aspek keilmuan, ekonomi, politik hingga kebudayaaan dan peradabannya.

Dalam tulisan kali ini, hal yang urgen untuk diketengahkan terlebih dahulu adalah pertanyaan, mungkinkah studi Islam di Barat? Spontan indisputabelitas yang akan muncul kemudian, akan tergambarnya kebencian Barat yang telah bayak melakuakan distorsi terhadap literatul Islam. Maka apakah layak, jika seandainya ada akademisi Islam mengais ilmu syariat di sana? tentu Anda lebih tahu jawabannya.

Sebelum lebih mendalam terhadap diskursus pertanyaan tersebut sedikit penulis paparkan secara abstraktif, dari data serta fakta sejarah yang ada . Orientalis pertama yang mendedikasikan dirinya dalam lingkup observasi dan kajian fokus terhadap dunia Islam adalah Pendeta Prancis yang datang ke Andalusia pada masa keemasan Islam. Di antaranya ; Jerbert, yang kemudian menjadi Paus di Roma Katholik pada tahun 999 M, juga Pierrle Ainere (1092-1156) dan Gerard De Gremone (1114-1187). Mereka adalah eksekutor dan tutor awal yang berperan penting sebagai pembawa ajaran Islam yang moderat ke dunia Barat dengan membawa manuskrip-manuskrip Arab, kemudian mereka ajarkan pada sejumlah kandidat yang sedari dini mungkin dipersiapkan sebagai manuver andal yang akan merongrong dan mencabik-cabik Islam dengan distorsi dan hal semacam.

Pada awal abad ke-99 manuskrip-manuskrip Arab buah karya orisinilitas-nya terjaga ada di tangan mereka, yang diperkirakan telah mencapai 250 jilid sebelum akhirnya mengalami distorsi. Pada kwartal terakhir abad ke-19, kaum orientalis mengadakan kongres pertamanya di Paris Prancis tahun 1873. Upaya seperti ini terus mereka gencarkan hingga sekarang. Hal itu dilakukan tiada lain hanya demi mewujudkan cita-cita yang telah mengakar kuat dalam prinsip mereka untuk menghancurkan Islam, seperti yang telah di firmankan Allah dalam al-Qur’an: “Yahudi dan Nasrani tak akan pernah ridha terhadap mu sehingga engkau mengikuti agama meraka.”

Upaya yang mereka getolkan ini terefleksi dalam forma yang variatif dan sporadis, maka dari itu kita juga harus besar dalam memblokade pemikiran yang mereka jual di berbagai Negara terutama di Indonesia.

Kembali pada konteks awal (mungkinkah studi Islam di Barat?) Spontan akan terbesit di benak kita pertanyaan yang introgatif, mungkinkah? Dalam hal ini penulis meminjam bahasa Otto Von Bismark “Inponderabella” (tidak bisa dibayangkan) mungkin sedemikian yang akan muncul sebagi jawaban terhadap pertanyaan di atas. Dari itu, jika Barat belajar Islam dari bangsa timur yang memang sebagai central Islam, maka perkembangan yang sistematis secara riil, adalah hal yang wajar.

Namun, beda halnya ketika kita membalikkan fakta yang ada, Timur belajar Islam ke Barat. Maka, tentunya hal inilah yang kemudian akan tampil menjadi ironi yang tak menemukan titik habisnya. Semua itu bukan tanpa fakta dan data yang akurat, bersebab pada tahu 2007 dari 97 orang pelajar Indonesia yang di berangkatkan , 30 diantaranya dari pesantren. Program ini didukung oleh AFC (American Field Service) yang dinamakan dengan Youth Exshange Study (YES). Program ini didesaign untuk meningkatkan wawasan santri serta mengubah pandangan terhadap pesantren yang selama ini dianggap terbelakang dan kolot. Akan tetapi semua itu ditujukan agar pemikiran para santri bisa toleran terhadap Barat. Dan hal itu menuai hasil yang sempurna. Yang awalnya mereka radikal terhadap Barat , anti dan bersikap apatis. Mula-mula setelah kepulangan mereka ke Indonesia, sikap itu belum menjadi moderat, lunak dan sepi dari kritik terhadap mereka seperti dulu yang sudah terjadi.

Adalah Dr. Ali Hasan Abdul Qodir pemuka Universitas al-Azhar Cairo yang kemudian melanglang buana di negeri Barat tepatnya di Jerman. Dia berkata; “Selama empat tahun di al-Azhar aku belum faham apa itu Islam? Namun, setelah kepulanganku dari Barat sedikit banyak yang aku ketahui mengenai Islam.” Statemen yang dilontarkan beliau adalah fenomena miris yang perlu disikapi. Dan, memang hal yang sedemikian menjadi tujuan utama dari klan orientalis yang menjabat direktur organisasi missionaris dan sebagai Jurnal The Muslim World pada tahun 1935 pada konferensi missionary Kristen di kota Yerussalem, Zwamer berkata: “Misi utama kita sebagai orang Kristen bukan menghancurkan kaum muslimin, namun mengeluarkan seorang muslim dari Islam, agar menjadi seorang muslim yang tidak berakhlak. Dengan begitu akan membuka pintu bagi kemenangan imperialis di negara-negar Islam. Tujuan kalian adalah menciptakan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak para penjajah, generasi yang malas dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsunya. Di dalam mata rantai kebudayaaan Barat, gerakan misi punya dua tugas; mengahncurkan peradaban lawan (Islam) dan membina kembali dalam bentuk peradaban Barat. Ini perlu dilakukan agar muslim dapat berdiri pada barisan budaya Barat, akhirnya muncul generasi muslim yang memusuhi agamanya sendiri.”

Dan pada akhirnya ulama besar Mesir, sekaliber Dr. Musthafa as-Siba’iy yang termasuk satu priode dengan Dr Ali Hasan Abdul Qodir, membantah habis-habisan terhadap pemikiran Barat Dr. Ali Hasan Abdul Qodir yang mengikuti Teologi gaya pemikir Ignaz Goldziher an Margolioth dengan kitab beliau yang bejudul al Istisyraq wa al-Musytasyrikunma lahum wama ‘alaihim dalam kitab tersebut Dr. Musthafa as-Siba’iy berusaha keras membongkar pemikiran rancu orientalis dari sejarah, ideology hingga pada solusi mengentaskan kerancuan berpikir para orintalis tentang Islam yang orisinil. (lihat: H.EM. Najib Hasan dan Ma’mun Bahri. Sikap Para Oientalis Trehadap Islam. PT. Prasasti Jakarta).

Tanpa menutup sebelah mata, bahwa menuntut ilmu adalah hal yang wajib yang bersifat individual bagi manusia. Tak terkecuali Bangsa Timur mempelajarinya dari Barat, dengan dalih ber-istifadah. Karena, tidak ada larangan dari Timur belajar ilmu dari Barat.

Namun, hal yang harus difahami adalah keharusan kita agar lebih selektif dalam memilih kategori ilmu apa yang akan kita cari. Fadlan, jika yang menjadi objek istifadah adalah bangsa Barat. Misalnya, kemajuan mereka secara intregitas dalam bidang ekonomi. Produktifitas mereka dalam melahirkan inovasi-inovasi baru, itu yang pertama kali harus kita sadari, agar nantinya bukan mengambil mawar dengan durinya (khud ma shafa wa da’ ma kadar), karena kita tahu, Barat bukanlah lingkungan tepat bagi kita, lebih-lebih para akdemisi yang ingin belajar agama. Karena, selain menjaga orisinalitas literatur keilmuan Islam, juga mengantisipasi dari pendistorsian yang sudah sejak lama gencar dilakukan oleh para bandit rival Islam.

Dan, hal pertama yang harus diperhatikan oleh para akademisi di Barat adalah agar lebih selektif dalam keilmuan apa yang akan mereka obserfasikan, dengan bertujuan; menghindar dari kepalsuan berpikir yang selalu mereka propagandakan.

*Sidogirian Bondowoso

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan