WhatsApp Image 2022-07-20 at 06.47.29

Oleh: Sanusi Baisuni

Al-Imam Abul Fath as-Sawi menceritakan kisahnya saat bertemu Nabi Muhammad SAW dalam tidurnya. Ia mengatakan:

“Aku memasuki Masjid al-Haram. Namun tak lama kemudian, aku tiba² begitu mengantuk hingga tertidur. Aku bermimpi sedang berada di tanah yang begitu lapang. Di sana kulihat banyak sekali orang. Masing-masing dari mereka membawa kitab untuk dibahas dalam sebuah halaqah di hadapan seseorang.

“Aku bertanya kepada orang-orang di sekitarku perihal aktivitas mereka itu, dan perihal seorang yang sedang bersama mereka. Mereka menjawab bahwa orang itu adalah Rasulullah SAW. Sementara yang sedang bersamanya adalah para imam madzhab yang ingin membacakan perihal madzhab dan akidah mereka kepada Rasulullah SAW agar diuji oleh beliau.”

Imam as-Sawi melanjutkan, “Tak lama, aku melihat seorang laki-laki datang menuju halaqah tersebut, diketahui bahwa itu adalah Imam Syafi’i, ia datang ke tengah halaqah, lalu beruluk salam. Nabi lantas menjawab. Dan Ia pun duduk di hadapan Nabi, kemudian membacakan kitab yang ia bawa perihal madzhab dan akidahnya.

“Kemudian datang lagi orang berikutnya, dikatakan bahwa ia adalah Imam Abu Hanifah, pada tangannya terdapat sebuah kitab, ia lantas beruluk salam lalu duduk di samping Nabi. Ia pun membacakan kitab yang ia bawa mengenai madzhab dan akidahnya. Kemudian datang bergiliran para imam madzhab yang lain, hingga tersisa beberapa orang. Setiap orang yang membacakan kitabnya duduk di samping Nabi SAW.

Saat para imam madzhab selesai membaca dan menguji kitab mereka di hadapan Nabi, datang seorang ahli bid’ah kepada Nabi dengan membawa buku catatan. Ia bermaksud untuk masuk ke dalam halaqah serta membacakan isi dari buku catatannya itu. Namun kemudian, salah satu dari orang yang sedang berada di sisi Rasulullah dalam halaqah tersebut keluar menghampiri orang itu, bermaksud untuk mencegahnya masuk, dan mengambil buku yang berada di tangannya. Orang itu lantas melemparkan buku itu ke luar halaqah, dan mengusirnya.”

Imam as-Sawi melanjutkan, “Setelah para imam madzhab selesai, aku mendekat pada Nabi, di tanganku terdapat sebuah kitab yang hendak kubaca di hadapan beliau. Aku berkata pada Nabi, ‘Kitab ini berisi mengenai akidahku, dan akidah seluruh umat Ahlussunnah wal-Jamaah, jika engkau mengizinkan, aku ingin membacanya di hadapanmu.

“Rasulullah SAW lalu bertanya kepadaku, ‘kitab apa itu?’ aku menjawab, ‘kitab ini (Qawā’idul Aqāid) adalah karangan Imam al-Ghazali.’ Rasulullah memberikan izin, aku pun duduk dan mulai membacanya, ‘Bismillāhir-rahmānir-rahīm, dalam kitab (Qawā’idul Aqāid) ini terdapat 4 bab…’ aku membaca hingga sampai pada perkataan Imam Ghazali: ‘.. arti kalimat kedua, adalah kesaksian atas kerasulan Nabi Muhammad SAW. Allah mengutus seorang nabi yang ummī dari Bani Quraish kepada seluruh orang Arab dan non-Arab, kepada umat manusia dan jin, ia adalah Muhammad bin Abdullah.

“Pada saat aku sampai membaca kalimat al-Ghazali ini, terlihat Nabi tersenyum dan tampak pada raut wajah mulia baginda sangat gembira. Aku kembali melanjutkan membaca hingga sampai pada bagian yang menjelaskan sifat dan karakter Nabi. Nabi kemudian menoleh kepadaku, dan bertanya, ‘Di mana al-Ghazali?’. Salah seorang yang hadir di halaqah menyahuti panggilan Nabi, ‘Hamba, wahai Rasulullah!’. Ia lantas maju, dan beruluk salam pada Nabi. Nabi membalas salam al-Ghazali, dan menjulurkan tangan mulianya, Imam Ghazali pun menciumnya kemudian mengambil berkah dengan meletakkan pipi beliau di atas tangan mulia Nabi”

As-Sawi mengatakan, “Aku belum pernah sekalipun melihat Nabi SAW terlihat begitu bahagia ketika yang lain membacakan kitab yang mereka bawa melebihi apa yang aku baca dalam kitab Qawā’idul Aqāid.

“Aku lantas terbangun, dan mendapati mataku sembab oleh bekas air mata.”

Disadur dari kitab, Raaitun Nabī, hal. 69-70.

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan