WhatsApp Image 2022-07-20 at 07.17.51

Oleh: Muhammad Faqih

Mengapa Nabi Muhammad Dihina?

Akhir-akhir ini penghinaan terhadap Nabi Muhammad semakin gencar dan marak sekali di pelbagai negara. Hampir bertransformasi menjadi budaya.

Beberapa bulan sebelumnya, Indonesia digemparkan oleh pabrik miras Hollywings yang berani menghina Nabi Muhammad dengan menempelkan nama beliau di salah satu botol produksinya. Hal ini kemudian memunculkan pro dan kontra.

Tidak sedikit oknum masyarakat yang membela, berdalih ini bukan penghinaan tapi kreatifitas dalam dunia marketing. Entahlah, dunia semakin gila!

Di Pakistan, seorang karyawan smartpoon Samsung berani menghina Nabi di muka umum. Aksi demonstran pun tak terelakkan. Toko dirobohkan dan produk Samsung diboikot habis-habisan.

India juga ikut nimbrung membikin kegaduhan. Perdana menteri India Nupur Sharma dan Naveel Jindal dengan percaya diri, berani mengkritik dan menghina Nabi Muhammad mengenai pernikahan beliau dengan Siti Aisyah yang terbilang masih dini. Tidak hanya sampai di situ ia masih menulis tweet penghinaan nya di laman Twitter.

Lalu mengapa Nabi Muhammad selalu menjadi objek penghinaan? Baik oleh orang di luar Islam atau pun beragama Islam namun, keimanannya dikalahkan oleh kepentingan?.

Faktor yang mendorong penistaan agama berbeda-beda. Ada yang murni karena saking polosnya jadi ikut-ikutan. Ada yang bersebab ingin tenar. Banyak juga yang karena bisnisnya ingin laku. Apa pun alasannya, semuanya bermuara dari satu kesalahan dalam memahami siapa Nabi Muhammad sebagai The Messenger of God.

Mengapa Umat Islam Marah?

Jelas, hinaan yang dilontarkan kepada tokoh Islam mampu memantik respon yang besar. Ada penggerak yang mampu membentuk persatuan umat, kecintaan yang dalam. Saling mengepalkan tangan. Mereka akan merasa terpanggil untuk membela Nabi mereka.

Mengapa harus marah, padahal nabi mengajarkan untuk bersikap ramah? Alasan terbesarnya adalah karena Nabi Muhammad adalah simbol Islam nomor satu di hati, sang pembawa risalah agung. Manusia teladan berbudi luhur. Mereka akan mengorbankan nyawa mereka dengan murah jika Nabi yang dihina.

Logika berpikirnya begini, bagaimana perasaan kita saat orang tua kita dihina dan dicaci maki di depan mata kita? Bagi orang yang waras pasti akan bereaksi, geram dan ingin segera menuntaskan amarah dengan menghajar si pencaci. Tanpa berpikir tentang kalah atau tidak.

Nabi Muhammad melebihi dari semua itu. Tak bisa ditukar dengan apapun. Harta dan nyawa kita terlalu murah.

Dampak yang Terjadi

Dampak yang paling jelas adalah keharmonisan antara umat Islam semakin erat ikatannya. Iman pun menancap kuat di dada. Karena kita sadar yang menghina adalah mereka yang bermental kalah.

Membela Islam adalah kewajiban kita. “Islam tak perlu dibela!.” Ya benar, memang Islam tak perlu dibela karena secara esensial nya ia mulia tanpa kita. Namun, kita membela adalah sebagai bukti bahwa kita orang berprinsip. Orang yang benar-benar cinta akan agamanya.

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan