Oleh: Sanusi Baisuni
Al-Imam Abul Hasan al-As’ari bercerita mengenai fase transisi beliau dari paham Muktazilah menjadi Ahlussunnah wal-Jamaah tidaklah terlepas dari bimbingan Nabi SAW dan pertolongan Allah SWT. Hal itu bermula ketika beliau didatangi Baginda Nabi SAW dalam tidurnya.
Imam Asyari bercerita:
“Aku bermimpi pada hari-hari pertama bulan Ramadhan didatangi Rasulullah SAW. Dalam mimpiku itu Nabi berkata kepadaku, ‘Wahai Ali, tolonglah pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku karena itulah yang benar’.”
“Ketika aku terbangun, aku merasa sangat gelisah dengan mimpiku itu. Aku terus memikirkan mimpi itu sekaligus khawatir dengan pendapat yang selama ini aku anut berseberangan dengan yang dikehendaki Nabi SAW.
“Hingga pada pertengahan bulan Ramadhan, aku kembali bermimpi Nabi SAW. Nabi mengatakan, ‘Apa yang kamu lakukan dengan perintah yang aku titahkan padamu dulu?’”
“Aku menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku telah memberikan pengertian yang benar sesuai dengan pendapat yang diriwayatkan darimu serta mengikuti dalil-dalil shahih mengenai ketuhanan’”
“Rasulullah lantas berkata lagi: ‘Tolonglah pendapat-pendapat yang diriwayatkan dariku karena itu yang benar’.”
“Setelah aku terbangun, mimpi itu semakin membuatku merasa gelisah dan terbebani. Hingga aku memutuskan untuk meninggalkan Ilmu Kalam serta cukup menekuni ilmu hadis dan membaca Al-Quran.
“Pada malam ke-27 bulan Ramadhan, sudah menjadi rutinitas di wilayah Bashrah, para ahli qira’ah, ulama dan para tokoh agama berkumpul untuk mengkhatamkan al-Quran. Aku pun berada di sana untuk juga mengikuti acara tersebut. Namun begitu sampai di tempat itu, dan belum begitu lama aku duduk, aku dikalahkan oleh rasa kantuk yang sama sekali tidak mampu aku tahan. Aku lantas pulang dengan perasaan sangat kesal karena tidak bisa melakukan rutinitas yang telah lama aku jalani tiap tahun.
“Aku tidur. Dan aku kembali bermimpi Nabi SAW. Nabi lantas berkata: ‘Apa yang telah kamu perbuat dengan perintahku itu?’”
“Aku menjawab: ‘Aku telah meninggalkan Ilmu Kalam. Dan hanya konsentrasi menekuni ilmu hadis dan al-Quran.
Nabi mengatakan: ‘Apakah aku memerintahkanmu untuk meninggalkan Ilmu Kalam? Bukankah aku hanya memerintahkanmu untuk menolong semua pendapat yang diriwayatkan dariku karena itulah yang benar?’
“Aku menjawab: ‘Bagaimana aku bisa meninggalkan mazhab yang telah aku ketahui masalah-masalah dan dalil-dalilnya sejak tiga puluh tahun lamanya hanya karena sebuah mimpi?’”
“Rasulullah mengatakan: ‘Andai aku tidak tahu bahwa Allah akan menolongmu dengan pertolongannya, tentu aku akan menjelaskan semua masalah-masalah (ajaran Muktazilah) itu. Apakah kamu menganggap ini hanya sebatas mimpi (yang tidak harus kamu laksanakan), apakah ketika aku bermimpi bertemu Jibril (membawa wahyu), itu juga hanya sebatas mimpi? Setelah ini, kamu tidak akan lagi bermimpi mengenai hal ini, maka bersungguh-sungguhlah dalam masalah ini, Allah akan menolongmu dengan pertolongannya.’
“Setelah aku terbangun, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Selain kebenaran tentu hanya kesesatan’. Kemudian aku mulai konsentrasi mendalami ilmu hadis yang berkaitan dengan ru’yah (ru’yatullah fil-jannah: melihat Allah di Surga), syafā’ah, dan lain-lain. Ternyata setelah itu, aku mampu menguraikan masalah-masalah dan dalil-dalil yang belum pernah aku baca dalam kitab manapun sebelumnya serta tak satu lawan pun mampu membantahnya. Aku sadar bahwa itu semua adalah pertolongan Allah yang Rasulullah maksudkan dalam mimpiku itu.
Referensi: Raitun-Nabî, hal. 75-76.
***
Sebagaimana diketahui bahwa Abul Hasan al-As’ari merupaka Imam Madzhab Ahlussunnah wal-Jamaah dalam Ilmu Kalam, yang kemudian menjadi cikal-bakal terbentuknya Mazhab Akidah berjuluk Mazhab Asyairah.

