1_755409-202

 

1_755409-202

Konon, suatu ketika Kiai Sadoellah Nawawie diundang ke Pondok Pesantren Sukorejo Situbondo, oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin, untuk memberi wejangan di hadapan para santri. Alhasil, beliau menghadiri undangan tersebut.

Pada hari yang sudah ditentukan, Kiai Sadoellah datang dengan memakai celana panjang, tidak menggunakan sarung atau gamis seperti umumnya para kiai. Hal ini tentu terlihat tidak biasa di hadapan para santri, bahkan di hadapan Kiai As’ad  sendiri.

Hal itu terbukti, sebelum Kiai Sadoellah menyampaikan pesan-pesan di hadapan para santri, Kiai As’ad terlebih dahulu menyampaikan pesan-pesan. Dalam penyampaiannya, Kiai As’ad menyinggung gaya berpakaian Kiai Sadoellah.

“Kalau kiai itu ya pakai sarung, jangan pakai celana.” Ungkap Kiai As’ad Syamsul Arifin. Tentu ungkapan beliau ini membuat canggung semua yang hadir. Karena mereka tahu, bahwa Kiai Sadoellah pada saat itu diundang dan memakai celana.

Melihat suasana yang begitu canggung, Kiai Sadoellah dengan begitu jenaka maju ke podium dengan tenang. Sekaligus beliau menjawab pernyataan Kiai As’ad yang disampaikan sebelumnya.

“Kalau Kiai As’ad itu kan kiai betulan, makanya pakai sarung. Karena bumi itu malu pada beliau, sehingga tidak akan mengintip dari bawah sarung. Kalau saya kan bukan Kiai betulan, makanya saya pakai celana, karena saya malu kalau diintip oleh bumi.”

Mendengar pernyataan Kiai Sadoellah, semua hadirin tertawa dan tidak ada yang merasa tersakiti. Rasa canggung itu seketika hilang.

Begitulah kecerdasan Kiai Sadoellah memandang perbedaan yang sedang terjadi. Padahal, andaikan perbedaan itu tidak dikelola dengan benar, boleh jadi perbedaan itu akan terus bersemai dan membesar. Apalagi perbedaan itu terjadi antara dua tokoh besar, di hadapan ribuan santri dan masyarakat umum.

Tentu sikap dan kejenakaan semacam ini tidak mudah dilakukan. Untuk bisa memandang perbedaan dengan dewasa semacam ini, setidaknya seseorang harus memiliki beberapa hal.

Pertama, memiliki kacamata jernih dalam memandang perbedaan sebagai sebuah nasehat, bukan hinaan atau cacian. Hal ini penting dimiliki setiap tokoh bangsa. Karena semakin tinggi sebuah pohon, maka akan semakin kencang angin yang menghempas. Begitu juga sebagai tokoh publik, semakin tinggi jabatan seseorang, maka kritik dan saran, bahkan terkadang fitnah dan cacian akan silih berganti. Maka pandanglah semua itu sebagai nasehat gratis yang kita dapatkan. Sehingga kita tidak akan terbawa perasaan dalam menanggapi.

Kedua, memiliki kecerdasan dalam mengidentifikasi, mendiagnosa dan mencari formulasi penyelesaian. Kecerdasan semacam ini adalah kepaduan antara akal dan hati. Kecepatan menyerap informasi, lalu mengolahnya menjadi data, membandingkan dengan data-data lain yang tersimpan, lalu mengambil formulasi terbaik untuk divisualkan sebagai ucapan atau tindakan.

Ketiga, tenang dan sabar dalam menghadapi perbedaan. Pandangan seperti pada poin pertama dan kedua, tidak akan diperoleh apabila seseorang mudah emosi dan tidak tenang. Kecerdasan ibarat air jernih, sedangkan emosi ibarat api yang membuatnya mendidih.

 

Penulis: M. Muhsin

271 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan