IMG-20251116-WA0054

IMG-20251116-WA0054

Probolinggo, HMASS.CO — Kamis, 13 November 2025, Pengurus Cabang Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (PC HMASS) Probolinggo menggelar Seminar Aswaja di Universitas Nurul Jadid (UNUJA), Paiton, Probolinggo. Kegiatan yang berlangsung siang hingga menjelang sore ini menghadirkan dua pemateri utama: Ust. Alil Wafa, M.Pd, Ketua Pengurus Pusat HMASS, serta K. Muhammad Al-Fayyadl, M.Phil, akademisi sekaligus bagian dari keluarga besar PP. Nurul Jadid dan pengasuh Ma’had Aly Nurul Jadid.

 

Seminar bertema “Membumikan Ahlussunnah wal Jamaah bagi Gen-Z di Era Industri 5.0” ini merupakan bentuk kolaborasi antara sahabat HMASS dan PMII Rayon Al-Wahid UNUJA. Acara tersebut dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai kalangan, baik anggota HMASS maupun kader PMII, dengan tujuan mempererat hubungan kelembagaan dan memperkuat dakwah intelektual di lingkungan kampus.

 

Ketua PC HMASS Probolinggo dalam sambutannya menyampaikan bahwa agenda ini menjadi bagian dari ikhtiar dakwah mahasiswa alumni Sidogiri. “Kita sebagai alumni Sidogiri tidak harus menjadi penceramah untuk bermanfaat bagi orang lain. Menjadi mahasiswa pun tetap dalam koridor khitab khairun naas anfa‘uhum lin-naas,” ujarnya.

 

Sementara itu, pemateri pertama, K. Muhammad Al-Fayyadl, mengapresiasi penyelenggaraan seminar tersebut. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan forum-forum keilmuan seperti ini. “Kegiatan semacam ini tidak boleh berhenti di sini saja. Harus ada kelanjutan setelahnya, entah sebulan sekali atau dua kali,” tuturnya.

 

Dalam pemaparannya, Al-Fayyadl menegaskan urgensi generasi muda untuk memegang teguh ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Ia mengingatkan bahwa Aswaja tidak boleh hanya menjadi legenda pada masa mendatang. “Aswaja ini ibarat payung besar yang menaungi banyak organisasi, termasuk NU. Namun NU tidak otomatis identik dengan Aswaja, dan sebaliknya. NU hanyalah salah satu representasi dari Aswaja,” jelasnya.

 

Pemateri kedua, Ust. Alil Wafa, mengangkat tema tentang keragaman pendapat di kalangan ulama. Menurutnya, perbedaan adalah bagian alami dari tradisi keilmuan Islam. “Perbedaan adalah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Dalam agama pun, satu sabda Rasulullah ﷺ bisa melahirkan banyak penafsiran,” ungkap Pemred Sidogiri Media itu.

 

Ia mencontohkan ulama seperti Imam Syafi‘i dan Imam Abu Hanifah yang kerap berbeda pendapat meski berangkat dari dalil yang sama. Namun Ust. Alil menegaskan perlunya ketelitian dalam membedakan perkara qath‘i dan zhanni. “Perkara yang bersifat qath‘i tidak membuka ruang diskusi. Namun hari ini sering terjadi, hal yang qath‘i justru ditarik ke wilayah zhanni,” tegasnya.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung aktif. Para peserta berharap kegiatan kolaboratif serupa dapat terus digelar guna memperkaya wacana Aswaja di kalangan mahasiswa, khususnya generasi muda di era digital dan industri 5.0.

 

Kontributor: Ibnu Atoillah

Editor: Fauzan Imron

229 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan