Pada Senin malam Selasa (20/07), Divisi Pendidikaan dan Pelatihan telah melaksanakan proker (program kerja) baru, yaitu halaqah kitab Mauqiful-‘Aqli wal-‘Ilmi wal-‘Âlam min-Rab al-‘Âlamin wa ‘Ibâdihî al-Mursalîn, sebuah masterpiece karya Syaikh Musthafa Shabri. Beliau adalah ulama asal Turki, yang sempat kabur ke berbagai negara, di antaranya Mesir, karena dikejar oleh Musthafa Kemal Ataturk saat peralihan Turki dari yang asalnya kekhalifahan menjadi negara sekular.
Kitab ini dipilih karena memuat beberapa tanggapan serius beliau kepada isu-isu keagamaan umat Islam saat itu, yang ternyata masih tetap relevan hingga saat ini. Selain itu, sebagaimana akan kita lihat nanti, kitab ini banyak dipuji oleh banyak para ulama dan direkomendasikan untuk dipelajari oleh pencari ilmu.
Biografi Singkat Syaikh Musthafa Shabri (1969-1954)
Beliau lahir pada 12 Rabiul Awal 1286 Hijriah, bertepatan dengan 21 Juni 1869 Hijriah di kota bernama Tokat, salah satu kota di Turki yang letak persisnya ada di semenanjung Anatolia. Nama lengkap beliau adalah Musthafa Shabri at-Tuqadi bin Ahmad bin Muhammad al-Qazabadi.
Beliau lahir di lingkungan keluarga yang mencintai ilmu pengetahuan. Sudah hafal al-Quran di luar kepala bahkan sebelum umur beliau genap 10 tahun. Sudah terbiasa dengan fan-fan berat sejak usia dini. Pada umur beliau yang relatif masih sangat muda, yakni 22 tahun, sudah menjadi pengajar di Masjid Jami’ Sultan Muhammad al-Fatih, sebuah institusi pendidikan di masa Khilafah Utsmaniyah yang bisa dikatakan setara al-Azhar di Mesir.
Dengan segenap kecerdasan dan track and record yang luar biasa, pada tahun 1919, saat umur beliau menginjak 50 tahun, beliau didapuk menjadi “Syaikhul-Islam,” sebuah jabatan kegamaan prestius sekaligus tertinggi dalam sejarah Khilafah Utsmaniyah. Beliau menjabat sebanyak 8 kali dan menjadi yang terakhir pemangku jabatan ini.
Selain terkenal sebagai ulama, beliau juga politikus andal, jurnalis yang tekun, dan penulis yang produktif. Ada puluhan kitab yang sudah beliau tulis, baik dalam Bahasa Turki atau pun dalam Bahasa Arab. Rata-rata kitab beliau memang tanggapan pada pemikiran-pemikiran yang dianggap nyelenah dan menyimpang dari ajaran Islam. Namun, di antara semua karya beliau, kitab Mauqiful-‘Aqli, adalah kitab yang paling komprehensif mencakup sebagian besar pemikiran beliau tentang isu keagamaan.
Kitab Mauqiful-‘Aqliy
Kali petama kitab ini dicetak pada tahun 1951 oleh penerbit Musthafa al-Babi al-Halbi Kairo Mesir, yang terdiri dalam 4 jilid. Kemudian diterbitkan ulang oleh penerbit Dar Ihya’it-Turast al-‘Arabi Beirut Libanon pada tahun 1981. Belakangan, penebit lain, seperti Darut-Tarbiyah Damaskus Suriah dan al-Maktabah al-‘Ashriyah Beirut Lebanon, juga menerbitkan kitab ini.
Setidaknya, ada tiga alasan yang melatarbelakangi Syaikh Mushthafa Shabri menulis kitab ini, sebagaimana disebutkan oleh Dr. Mufarih bin Sulaiman al-Qusi dalam kitab yang khusus ditulis berisi biografi Syaikh Mushtafa Shabri.
Pertama, saat beliau pindah dan tinggal di Mesir pada tahun 1932, beliau lumayan terkejut atas keanehan-keanehan yang terjadi pada kehidupan umat Islam di sana. Beliau banyak mendapati penyimpangan-penyimpangan, bukan hanya dalam ranah amal, tapi juga sampai jauh menusuk ke ranah keyakinan akidah umat Islam. Belum lagi serangan-serangan pemikiran Barat, yang menjadi cobaan bagi masyarakat di Mesir saat itu.
Kedua, pada tahun itu juga terjadi perdebatan sengit antara Farah Antoun (1874-1922), seorang Kristen asal Lebanon, dengan Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905), yang menjabat Muftid-Diyâr al-Misriyah kala itu. Masing-masing menebitkan 6 tulisan untuk membantah satu sama lain. Farah Antoun menerbitkannya lewat majalah yang ia rintis sendiri, majalah al-Jamiah. Sedangkan Syaikh Muhammad Abduh menerbitkan sanggahannya lewat al-Manar, majalah yang dirintis oleh muridnya, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935).
Syaikh Musthafa Shabri mencoba berdiri di antara keduanya, melihat dan meneliti, kemudian menjelaskan bagian-bagian salah yang tidak hanya ada pada pendapat Farah Antoun, tapi juga pada pendapat Syaikh Muhammad Abduh. Di satu sisi, Farah Antoun berpendapat bahwa kemajuan suatu negara hanya bisa ditempuh dengan cara sekularisasi, memisahkan agama dari negara. Di sisi lain, Syaikh Muhammad Abduh berpendapat, bahwa salah satu penyebab kemunduran umat karena para ulamanya yang masih kaku dan jumud.
Ketiga, ada kecendrungan beberapa pemikir dan penulis, seperti Ahmad Farid Wajdi (pemikir Mesir, 1878-1954), untuk menyerang Ilmu Kalam dan meremehkan akal. Hingga dalam urusan keimanan, malah lebih mengunggulkan penyandaran pada perasaan dan hati, daripada akal dan argumentasi. Pemikir yang lain, seperti Ahmad Amin (pemikir Mesir, 1886-1954) menyerang Ilmu Kalam dengan membandingkannya dengan sains modern yang berdasarkan pada hal-hal empiris dan observatif. (Musthafa Shabri: al-Mufakkir al-Islamiy wal-‘Âlim al-‘Alamiy wa Syaikhul-Islâm fîd-Daulah al-Utsmaniyah Sâbiqan, hlm. 307-311)
Selain menanggapi pemikiran yang berkembang dari internal umat Islam, Syaikh Musthafa Shabri juga menaruh perhatian pada serangan pemikiran dari eksternal umat Islam sendiri. Dalam Mauqiful-‘Aql, kita akan mendapati kritikan beliau pada aliran-aliran filsafat modern atau post-modern. Beliau menganggap justru invasi pemikiran, lebih berbahaya dari serangan senjata pemusnah massal seperti bom atom.
Ketika Dr. Mufarih bin Sulaiman al-Qusi melakukan wawancara kepada seorang Azhari yang juga murid dari Syaikh Musthafa Shabri, Syaikh Ali Alawi, tentang kutipan yang beliau ingat dari gurunya. Beliau mengatakan:
“Aku mengingat betul, Syaikh Musthafa Shabri pernah menyebutkan, “Andaikan orang Yahudi menghantam dunia dengan lima bom atom, pengaruhnya tidak akan separah pengaruh lima pentolan pemikir mereka, yakni Marx si komunis, Darwin si penemu teori evolusi, Frued si Austria, Auguste Comte si Prancis penganut paham postivisme, dan Durkhem si sosialis’.” (Musthafa Shabri: al-Mufakkir al-Islamiy wal-‘Âlim al-‘Alamiy wa Syaikhul-Islâm fîd-Daulah al-Utsmaniyah Sâbiqan, hlm. 448)
Komentar Para Ulama Tentang Kitab Mauqiful-‘Aqliy
Berikut kami rangkum beberapa komentar para ulama tentang kitab Mauqiful-‘Aqliy:
- Syaikh Abdul-Fattah Abu Ghuddah (1917-1997), “Kitab Mauqiful-‘Aqliy karya Syaikh Musthafa Shabri tidak diragukan lagi adalah kitab terbaik pada masa ini.”
- Syaikh Ali Jum’ah, “Kitab ini (Mauqiful-‘Aqliy) adalah kitab tebaik yang ditulis pada masa ini.” (Dr. Abdul-Qadir Husain, murid Syaikh Ali Jum’ah, dalam kanal Youtube-nya)
- Syaikh Sa’id Ramadhan al-Buthi (1929-2013), “Jika kamu ingin tambahan pengetahun yang rinci dan luas dalam pembahasan akidah beserta dalilnya yang bermacam-macam, silahkan baca kitab ini (Mauqiful-‘Aqliy) yang tidak ada bandingannya ini.” (al-Buthi dalam catatan kaki kitab Kubral-Yaqîniyât al-Kauniyah; Wujûdul-Khâliq wa Wadzîfatul-Makhlûq, 90)
- Syaikh Sa’id Foudah, “Salah satu kitab yang saya rekomendasikan ialah kitab Mauqiful-‘Aqliy wal-‘Ilmi wal-‘Âlami min Rabb al-‘Âlamîn wa ‘Ibâdihi al-Mursalîn.” (Syaikh Said Faoudah dalam salah satu status Facebook-nya).[]
Penulis: Badruttamam
Editor: Abrari Ahmadi

