Senin (22/07) PCI HMASS Mesir menggelar halakah ‘aqliyah untuk yang pertama kalinya. Diskusi tersebut menjadikan kitab Mawqif al-‘Aql wa al-‘Ilmi wa al’Âlam min Rabbil-‘Âlamin wa ‘Ibâdihi al-Mursalîn, karya Syekh Mustafa Shabri, sebagai materi utama. Menimbang dari segi kualitatif diskusi tersebut, pengurus memprioritaskan teman-teman mahasiswa tingkat lanjut dan beberapa mahasiswa tingkat lain yang berminat agar mengikuti diskusi yang diadakan sepekan sekali.
Hal ini sebagaimana yang dikutip dari wawancara bersama Abdul Muid, Koordinator div. Pelatihan & Pendidikan, di sekretariat PCI HMASS Mesir, Selasa lalu (24/07). Pria kelahiran Bangkalan tersebut menegaskan, sekalipun diskusi ini bersifat semi-khusus buat kalangan mahasiswa tingkat lanjut, ia tidak memungkiri adanya teman-teman HMASS Mesir lain, bahkan yang bukan anggota HMASS Mesir mengikuti diskusi ini.
Terkait eksklusivitas kajian, program divisi Pelatihan dan Pendidikan HMASS Mesir ini ingin menyeimbangkan standarisasi keilmuan di HMASS Mesir. Bila mayoritas anggota lebih berminat terhadap ilmu fikih, maka sudah seharusnya pula diseimbangkan dengan kegiatan ilmiah lain berupa kajian non-fikih. Lantas, berdasarkan rekomendasi dari guru-guru akidah di Pondok Pesantren Sidogiri dan beberapa masyayikh di Al-Azhar, terpilihlah kitab karya Syekh Mustafa Shabri.
Selain kajian ‘aqliyah ini, terdapat beberapa kajian lain yang sedang dijalankan oleh divisi Pelatihan dan Pendidikan. Seperti kajian ilmu mantik; eksklusif buat teman-teman mahasiswa baru, halakah fiqhiyah umum untuk seluruh anggota dan kajian fikih khusus yang diikuti oleh tim lajnah tashih HMASS Mesir. Terhitung dalam sepekan, HMASS Mesir menggelar tiga kali kajian dengan fan yang berbeda-beda.
Reporter: Abrari Ahmadi

