Oleh Abdul Muid Shonhaji*
05 April 2023 / 14 Ramadhan 1444 Pesawat dengan nomor penerbangan EY657 landing di Cairo. Saat itu jam menunjukkan 05 : 40 Waktu Mesir. Setelah melalui proses imigrasi, aku pun keluar dari bandara. “What is inside?” kata Syurthah yang memeriksa kardus yang saya bawa. “It’s a book” jawabku. Suhu udara saat itu berada di angka 15 derajat. Hawa yang tidak biasa untukku yang berasal dari tanah Madura. Saat ini, Mesir sedang berada di akhir musim dingin, hawa dingin negeri Kinanah ikut menyambut kedatangan kita yang baru tiba di Bandara.
Ada beberapa senior dari KPJ (Keluarga Pelajar Jakarta) yang menjemput kedatangan kita. Mereka sangat begitu antusias. Setelah berbincang-bincang sebentar, koper dan beberapa barang yang kita bawa langsung diangkat ke atas tramco yang sudah mereka pesan. Setelah semuanya selesai, perjalanan pertama saya pun dimulai. Perjalanan dari bandara ke Nasr City harus ditempuh selama 19 menit. Di tengah perjalanan, para senior KPJ sedikit bercengkrama dengan kita. Ada satu hal yang membuat saya takjub waktu itu, musik yang saya dengar di tramco hanyalah ayat-ayat suci al-Qur’an. Ternyata, bacaan-bacaan al-Qur’an biasa kita temui di setiap sudut kota Cairo terlebih di saat bulan Ramadhan; di bus-bus, tramco atau bahkan tuk-tuk (sebutan untuk bajai di Mesir). Sungguh pemandangan yang sangat indah. Sekitar jam 07:00 waktu Mesir kita tiba di at-Tase’ah, al-hay athamen, Nasr City. Di sana, saya dijemput oleh Ust. Thoriq, selaku perwakilan PCI HAMASS (Pengurus Cabang Internasional Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri) cabang Mesir. Ust. Thoriq langsung membawa saya ke FOSGAMA (Forum Studi Keluarga Madura) MESIR yang berada di kawasan al-Hay al-‘Asher. Setelah berbincang-bincang sebentar, Ust. Thoriq langsung mempersilahkan saya untuk istirahat.
Pada jam 04 : 12 sore, Ust.Thoriq mengajak saya untuk bertemu teman-teman HAMASS yang lain dengan menaiki InDrive (mobil Grab dalam istilah Indonesia) yang beliau pesan. Perjalanan dari al-Hay al-‘Asher ke Darrasah ditempuh selama 25 Menit. Kali ini kita akan menuju Sekretariat PCI HAMASS Mesir yang berada di daerah Darrasah. Rumah ini juga akan menjadi tempat yang akan saya tinggali selama ada di Cairo. Setibanya di Sekrektariat HAMASS, saya disambut oleh teman-teman Sidogirian yang lain. Perbincangan hangat tentang Sidogiri pun dimulai. Kita yang sama-sama alumni Sidogiri saling berkenalan, berbagi cerita serta tantangan-tantangan dihadapi selama menempuh Pendidikan di Cairo. Tak lupa candaan khas santri pun juga terselip di dalam obrolan kita.
Bukber di Masjid al-Azhar
Setiap Ramadhan Grand Syekh al-Azhar menyediakan 4000 porsi Mâ’idah untuk para mahasiswa Wâfidîn (pendatang) dari mancanegara. Sebelum berangkat, kita harus mendaftarkan diri dulu di link yang sudah dibagikan untuk mahasiswa. Di situ kita wajib menulis nama, nomor paspor dan fakultas yang kita tekuni. Barulah kita diharuskan datang se-jam sebelum adzan maghrib berkumandang. Saya dan Kang Wafa berangkat jam 04 : 43, karena untuk ke Masjid al-Azhar kita hanya cukup jalan kaki. Perjalanan dari Sekretariat HAMASS ke Masjid al-Azhar hanya ditempuh 5 menit. Hanya menuju ke arah Masjid el-Khadrawi lalu belok kanan sekitar 300 meter. Setelah itu, barulah kita bisa melihat masjid al-Azhar yang sangat terkenal itu.
Di sana kita disambut oleh para Masyayikh al-Azhar yang juga dibantu oleh sebagian satpam dan teman-teman PPMI. “Ahlan wa sahlan” sambut para Masyayikh sembari mengangkat tangan kanan lalu meletakkannya di dada. Aku juga melihat senyuman merekah dari wajah beliau. Sambutan yang begitu hangat. Beliau mempersilahkan kita untuk duduk menuju hidangan yang sudah disiapkan di pelataran masjid. “Tafaddhal! Fîl-Amâm Yâ Shadîq” ujar beliau. Di situ saya melihat kanan kiri saya dipenuhi oleh para mahasiswa dari mancanegara dan sebagian penduduk lokal yang sedang men-takror hafalan qur’annya. Ada sebagian orang Negro yang sedang memeluk kitab al-Balâghah al-Wâdihah sembari menghafalkannya. Ada juga yang hanya fokus berdzikir pada Allah sembari menunggu adzan buka berkumandang. Sungguh suasana yang menakjubkan. Selang beberapa menit, adzan pun berkumandang. Kita dipersilahkan untuk makan kurma yang disediakan dan minum sebentar lalu shalat berjama’ah bersama. Setelah shalat berjama’ah selesai baru kita menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Tarawih di Cairo
Ada dua masjid besar yang sangat terkenal di sekitar daerah Darrasah yang menjadi tempat favorit para Masisir. Yaitu masjid al-Azhar dan Masjid Sayyidina Husain RA. Di sini, para masyayikh dari empat madzhab yang berbeda sama-sama ada. Begitupula ulama dari masing-masing madzhab qira’ah ‘asyrah. Kita bisa menemukan pengamalan dari setiap madzhab tersebut di setiap tempat. Mungkin karena ini, kemudian al-Azhar dikenal denagan sebutan Manâratul-Wasathiyah (Menara kemoderatan). Di Masjid al-Azhar shalat tarawih dilakukan sebanyak 20 rakaat dengan qunut dari awal Ramadhan. Bacaan yang dibaca setiap malam adalah satu juz al-Qur’an dengan qira’ah ‘asyrah. Maka tak heran jika selesainya sampai jam setengah sebelas atau bahkan terkadang jam sebelas malam. Sedangkan di masjid Sayyidina Husain dilakukan sebanyak 16 rakaat dengan bacaan setengah juz di setiap malamnya.
Lihat Juga Suasana Ramadhan Di Yaman
Subuh di Masjid Sayyidina Husain RA
Masjid Sayyidina Husain terletak di daerah Hasan El-Adawy, distrik Gamaleya. Untuk ke sana, saya membutuhkan waktu 20 menit. Dari masjid Khadrawi, saya harus ke timur melewati mustasyfâ Hussain lalu belok kiri. Di jalan itu, kita akan melihat gedung-gedung Fakultas Ushuluddin, Fakultas Syari’ah dan Fakultas Lughah. Setelah menyebrang jalan raya dan terus lurus, kita akan melihat masjid al-Azhar yang megah dari kejauhan. Setelah beberapa meter, barulah kita sampai di Bawwabah Masjid Sayyidina Husain.
Di sana, saya bersama kang Ayis (salah satu anggota HAMASS yang mengantar saya) langsung menuju tempat wudhu’. Di jalan menuju tempat wudhu’, saya melihat ada sebagian penduduk lokal yang sedang menabuh rebana sembari menyanyikan shalawat menjadi pusat kerumunan. Orang-orang di sekitarnya pun ikut bernyanyi. Entah apa istilah untuk orang-orang ini, tapi saya kira itu disebut “pengamen” kalau di Indonesia. Aku menyebutnya “Pengamen Islami” hehe.. setelah berwudhu’, kita pun bergegas untuk shalat berjama’ah. Saat memasuki masjid Sayyidina Husain, kita akan melihat pemandangan yang begitu teduh. Orang-orang yang sedang menghafalkan qur’an menghiasi setiap sudut masjid. Aku juga melihat ada perkumpulan orang yang sedang melakukan halaqah.
Setelah shalat berjama’ah selesai, saya dan kang Ayis bergegas ke Maqbarah Sayyidina Husain. Di situ ada Syurthah yang berjaga. Ketika kita sapa, “Assalâmu’alaikum”, mereka langsung tersenyum dan menjawab “Wa’alaikumus-Salâm” sembari mengangkat tangan kanannya lalu meletakkannya di dada. “Izayyak eih Yâ Shadîq?”, “Alhamdulillah Kuwais” sambut temanku. Di maqbarah Sayyidina Husain, beberapa orang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Ada yang sekedar membaca al-Qur’an dan ada yang berdoa. Saya juga melihat ada orang Mesir yang sedang menyandungkan syi’ir di depan maqbarah diiringi kerumunan orang yang sedang asyik mengikuti syi’ir yang dibaca. Juga sesekali menjawab jika si penyandung memberi isyarat untuk melanjutkan. Seluruh aktifitas itu tak luput dari perhatian saya. Saya pun duduk membaca tahlil dan ikut larut di dalam kesibukan yang ada di maqbarah Sayyidina Husain tersebut.
(Ditulis di Darrasah, Cairo, Mesir. 8 April 2023/17 Ramadhan 1444)
*Anggota PCI HMASS Mesir & Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar
1,122 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini



