Sinai, HMASS.CO
Ditemani oleh rekannya, beberapa anggota HMASS Mesir sibuk sedang mengemasi barangnya di kediaman masing-masing agar persiapan menghadapi perjalanan panjang benar-benar matang. Ada yang sedang mengemasi pakaian super tebal dan yang lain sedang menyiapkan bekal asupan diri agar tetap fit selama perjalanan. Sebelum jam menunjukkan pukul 23.00 waktu setempat, semua rombongan harus siap di titik jumpa untuk berangkat dengan rombongan almamater lain, yakni rekan alumni pondok pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, atau nama lainnya yaitu FISMABA (Forum Informasi & Silaturahmi Mahasiswa dan Alumni Bahrul Ulum).
Dengan jumlah rombongan gabungan kurang lebih berjumlah 50 orang, tepat pada saat dini hari Selasa (21/02) bus berangkat dari Al Hussein University Hospital. Ditemani guide yang telah berpengalaman membawa rombongan tur, ia memimpin doa safar ditemani oleh Ust. Muhammad Gufron, ketua PCI HMASS Mesir.
Melewati jalanan kota Kairo malam, menembus angin musim dingin yang hampir menyentuh angka suhu 15 derajat celcius, bus menuju semenanjung Sinai. Sebelum sampai pada semenanjung bagian selatan tersebut, rombongan harus melewati terowongan kanal Suez, yaitu terusan kapal sepanjang 163KM yang menghubungkan Said, sebuah pelabuhan yang terletak di Laut Tengah dan Pelabuhan Suez di Laut Merah. Kanal tersebut sekaligus menjadi pembelah antara benua Afrika dan Asia. Konon, pemasukan negara Mesir dari kanal tersebut menjadi yang terbesar kedua setelah pemasukan negara melalui pariwisata-pariwisata yang sedang digencarkan oleh pemerintah Mesir.
Sesampainya rombongan di kanal Suez dan malam bertambah larut, sebelum menyeberang kanal, seluruh rombongan dihimbau untuk turun dari bus untuk melakukan pengecekan terlebih dahulu oleh aparat setempat. Mengingat disana merupakan kawasan rawan penyelundupan barang-barang ilegal. Lumrahnya, bila rute Afrika-Asia, barang ilegal yang disita berupa senjata api. Bila sebaliknya, barang sitaan aparat berupa narkotika.
Dengan letaknya yang strategis di wilayah benua Afrika, Kanal Suez atau dikenal juga dengan Terusan Suez, mega proyek milik Ferdinand Vicomte de Lesseps, seorang insinyur asal Perancis tersebut sempat menjadi rebutan oleh beberapa negara, baik Eropa maupun Asia. Pada tahun 1956, saat Mesir dipimpin oleh Gamal Abdul Nasir beberapa negara Eropa seperti Britania Raya, Perancis beserta Israel membentuk pasukan menyerang Mesir untuk merebut Terusan Suez. Penyerangan tersebut berawal dari Perancis yang tidak terima Terusan Suez dikuasai oleh Mesir.
Pada tahun 1967 tentara Israel kembali memicu penyerangan yang berbuntut pada peperangan antara mereka dan tiga negara arab tetangganya, yakni Mesir, Yordania dan Suriah. Pada akhirnya, terusan tersebut jatuh ke tangan Israel. Akan tetapi, saat bertepatan dengan bulan Ramadhan, koalisi negara arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah kembali melawan Israel
Kontributor: Abrori Ahmadi
Editor: Fauzan Imron
