Surabaya, HMASS.CO
Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Santri Sidogiri (PW IASS) Surabaya kembali mengadakan kegiatan Halaqah Fathul Qarib di Pon-pes Abu Syamsuddin Jl. Sidotopo kidul no 63 Semampir Sur6, Jumat (2/9). Acara ini dimotori oleh PK Simokerto yang dikawal oleh Bansus 1455.
Halaqah Fathul Qarib yang dimoderatori Ust. Usman dari Pengurus Komisariat Ikatan Alumni Santri Sidogiri (PK IASS) Gresik ini diikuti oleh para alumni santri Sidogiri dari berbagai komisariat, mulai dari Kenjeran, Semampir, Bubutan, Rungkut, hingga PK Gresik Asemrowo dan PK se-Surabaya dengan jumlah 17 PK. Bahkan, ada beberapa santri dari Pon-pes Abu Syamsuddin yang juga ikut nimbrung pada acara kajian kitab tersebut.
Tema yang dikaji pada halaqah ini adalah rukun shalat yang nomor 13, (و) الثالث عشر (الجلوس الأخير) أي الذي يعتبر السلام (و) الرابع عشر (التشهد فير) اي في الجلوس
الأخير، واقل التشهد الخ, , yakni ini sujud. Adapun yang bertugas sebagai qari’ adalah Ustd Iskandar, PK Simokerto juga salah satu staf pengajar di Pon-pes Abu Syamsuddin.
Dalam kajian ini ada hal yang sangat menarik diantaranya adalah, kenapa apa ibarot duduk diakhir sholat redaksinya kok pakai الجلوس الاخير kok tidak langsung أي الذي يعقبه السلام, juga dalam kajian tersebut ada sebagian santri dari abu Syamsuddin bertanya bagaimana caranya mengganti bacaan tasyahhud sementara orang yg sholat dalam keadaan gak hafal dan tidak mampu untuk menghafalnya. Di mana, Ust. Farobi selaku sekretaris PW IASS Surabaya sebagai perumus dalam kajian Fathul qorib ini memberikan jawaban sehingga peserta kajian Fathul qorib sudah dikatakan Taslim meski ada ibarat yg masih khilaf dalam mengganti bacaan tasyahhud bagi orang yang tidak mampu.
Intinya ada tiga solusi yang diberikan perumus bagi yang gak bisa baca tasyahhud:
1. Bisa menggunakan teks baik yg ditempel ditembok
2. diganti dengan bacaan dzikir
3. Atau tidak bisa sama sekali maka diam saja dengan durasi yang sama saat baca tasyahhud
Kontributor: Abi Elhaq
Editor: Fauzan Imron
435 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini


