Condet Pertama
Ke mana larinya peta-peta masa silam
saat tombak dan pedang terselip dalam darah yang hilang.
Condet, masa lalu begitu abu, dua buah batu
gegas mengikuti langkah pangeran dalam peperangan.
Zaman menjadi api senantiasa muncul dari kedua
mata kita, saat sungai mulai meninggalkan
perahu kayu, saat kota tiba dari balik tengkuk musafir,
kita melangkah ke rembang hari yang terbakar.
Lalu di sini lidahku jilati lumpur campur api yang ditabur
tangan-tangan pasukan dari arah lahirnya matahari.
Tapi Condet tetap menjulang di antara tiang-tiang air
yang tumbuh di atas darah yang hilang.
Condet Kedua
Kota tenggelam dalam kehampaan
dan jam berdetak di bawah sungai
selalu membangunkan orang-orang.
Di bawah jembatan orang-orang terjaga,
di atas tiang pancang orang-orang
berdiri sungsang, membaca mimpi
yang memburam di kereta malam.
Bersama mereka kini, aku sembunyi
dari lamunku yang hijau.
Kelak matiku hanya sementara,
saat malam bentuk dunia tak terduga,
dan secara rahasia kedua tanganku
sering menjelma senjata
tentara yang pergi ke pulau taklukan.
Arwahku citraan cinta hitam,
membentuk mendung yang menaungi
gedung-gedung, dan usiaku berkeping-
keping, menusuk ingatan orang-orang
di atas liang kuburan,
kala gelap perlahan menghapus
sisa sejarah di sudut tanah terakhir.
Condet Ketiga
Masa lalu sembunyi di bawah tanah
melahirkan seribu duga burung-burung malam,
Condet pecah, deru dan derap
membangkitkan awan selatan.
Kita lahir, hidup bersama yang tak tampak,
berdesak dengan roh-roh di jalur penuh
hambatan, dan manusia yang pernah terbakar
berkelakar di jembatan hitam.
Kita menggali sejarah di dasar sungai;
darah menggali daging mencari asal.
Tak ada sebidang tanah tanpa nama.
Condet masa lalu dan masa depan rawan.
Kita pun bangun tugu menjulang
di atas rawa, dalam mimpi kota yang kian usang.
Condet Keempat
Aku terbang bersama para Datuk.
Oho! Menuju masa lalu yang hanya sebentuk
padang lengang, tak ada palawija melintas di atas
sungai yang gegas, tak ada jawara dalam api
akhir hari. Tak ada telik sandi di sudut teritori.
Tak ada. Aku terbang bersama roh-roh
yang mencari bentuk. Di atas tanah tak rata,
di pucuk-pucuk rumah yang kakinya menghapus
rawa-rawa. Aku menyelam dalam Condet
yang mencari nama, bersama para Datuk
yang menjulang dalam ingatan menara masjid.
Tanganku menyentuh ruang-ruang
yang ditinggal sepasang parang milik pangeran.
Condet Kelima
Di kitab lama manakah sungai masih mengalir,
gunung-gunung berdiri di ujung tombak dan pedang,
dan hutan perkampungan menjaga rahang warisan,
ketika dusta berlayar di darah primordial
menjadi kapal, menjadi kupu-kupu membawa
mawar yang tersembunyi ular, menjadi pesawat
sesak dengan firman hipokritas moral.
Sepanjang jalan membentang dari masa silam
sejauh hamparan batu pertama yang mengambang
hanya anak-anak dalam festival mata api, menyalakan
separuh bulan dan padamkan separuh matahari.
Kemah-kemah peziarah, makam-makam sembunyi
menggigil sepanjang malam, tak ada sabda kedua
setelah Jayakarta, setelah Astawarna di kitab lama,
setelah benteng penghabisan
lebur dalam hujan yang mengiringi kepergian
Purbaya dalam kekalahan yang memalukan.
BIODATA
Kim Al Ghozali AM lahir di Probolinggo, 12 Desember 1991. Kini mukim di Surabaya. Buku puisinya Rock Altenatif di Telinga Kirimu (2020).

