IMG_3346

IMG_3346

Kairo, HMASS.CO 

Tiada istilah seoarang ulama benar-benar mati. Sejatinya mereka hanya ‘berpindah’ alam sekaligus tidak sedikit pun mengalami kesusahan dan kesedihan di alam sana.

Demikian adalah ungkapan yang tepat bagi Al Maghfurlah KH. A. Nawawi bin Abd. Djalil. Biar ilmu beliau selamanya hidup bermanfaat bagi umat, Senin (28/08) HMASS Mesir berkolaborasi dengan Lembaga Dakwah (LD) PCINU Mesir mengadakan ngaji kitab ulama nusantara; al Ma’man min adl Dlalalah di aula sekretariat PCINU Mesir.
Acara ngaji kitab yang dimulai pasca shalat maghrib waktu setempat tersebut dibuka dengan beberapa penjelasan biografi pengarang kitab, al Maghfûrlah KH. A. Nawawi bin Abd. Djalil oleh narasumber, Syekh Mahmud Abidin al Azhary. Salah satu pengajar di universitas al Azhar terserbut menyebutkan bahwa beliau adalah seorang kekasih Allah yang solih pada zamannya.
“Waliy ash shôlih,” ungkap Syekh Mahmud memulai pengajian.
Menurut beliau, dari karya KH. A. Nawawi bin Abd. Djalil tersebut kita dapat belajar lima unsur penting, terutama untuk membentengi akidah kita dari pemikiran-pemikiran menyimpang; ilmu Kalam, Fiqh al Akbar, ilmu tauhid, Ushûluddin dan ilmu nadzr wa al istidlâl.
Tujuan mulia yang dibawa oleh hadratussyaikh KH. A. Nawawi bin Abd. Djalil ketika mengarang kitab al Ma’man min adl Dlalâlah tidak hanya tentang membendung dari pemahaman yang menyimpang, tetapi menjelaskan akidah yang indah yang sedang kita yakini, yaitu Ahlusunah Waljamaah. Hal tersebut disampaikan oleh Syekh Mahmud Abidin ketika membaca mukadimah kitab.
Beliau menjelaskan urgensitas ilmu akidah yang harus pertama kali diperbaiki daripada ilmu-ilmu yang lain, utamanya pada zaman sekarang. Oleh karenanya, tidak benar bila seseorang mendalami ilmu fikih yang merupakan ilmu cabang (furû’) di sisi lain ia tidak perhatian dengan ilmu akidah yang merupakan ilmu pokok (ushûl). “Kita harus menaruh perhatian lebih pada ilmu ushûl,” sambung Syekh.
Ada pesan Syekh Mahmud kepada seluruh santri KH. A. Nawawi bin Abd. Djalil. Beliau sangat mencintai seseorang yang masih ingin belajar kitab sang guru meski telah wafat. Hal tersebut merupakan kesempurnaan etika seorang murid terhadap gurunya. Seorang murid yang berbudi pekerti yang baik adalah sikapnya di hadapan sang guru tidak berubah saat beliau hidup dan telah tiada. Begitu pula dengan antusiasme yang dimilikinya. Masih tetap ingin belajar kitab yang menjadi ilmu jâriyah tidak akan putus pahalanya sampai kapanpun.
Reporter: Abrari Ahmadi

Editor: Fauzan Imron

312 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan