Al-Quran

Di bangku pendidikan yang berbasis agama, kita selalu diingatkan dengan sebuah jargon “Islam agama yang tinggi dan jaya”. Sehingga membentuk segumpal persepsi yang menancap di otak kita.

Di lain waktu, kadang doktrin tersebut diserang oleh pertanyaan, “Apakah jargon tersebut sebatas wacana atau realita?”. Bersebab fakta yang tampil di permukaan, Islam banyak mengalami kemunduran serta ketertinggalan.

Kemiskinan di negara-negara Islam santer terdengar di banyak media sosial. Konflik yang tak menemukan titik perdamaian antar sesama Islam, masih menjadi topik hangat pembicaraan. Islam yang tertindas di negeri orang juga semakin marak diberitakan.

Lantas di mana letak kejayaan Islam yang sering kita dengar di meja-meja pendidikan? Apakah semua hanya sekadar teori belaka? Pertanyaan inilah yang dilontarkan banyak orang, tak jarang juga dengan nada sinis penghinaan.

Pertanyaan semacam di atas banyak memberikan dampak keraguan di ruang keyakinan kita. Hal ini yang kadang meruntuhkan persepsi kita tentang agama kita sendiri.

Hal pertama yang penting diketengahkan adalah tentang cara pandang kita terhadap sebuah objek. Sebab, antara Islam dan Barat memiliki world view (pandangan terhadap realitas) yang sangat berbeda.

Islam memiliki pandangan terhadap term kejayaan bukan seperti ideologi kapitalisme, materialisme dan rasionalisme. Tolok ukur kaum Barat berkutat pada infrastruktur yang maju, pertumbuhan ekonomi yang melesat jauh dan kecanggihan teknologi yang mencengangkan.

Imam as-Syahid Syaikh Ramadan al-Buthi menuliskan artikel ilmiah dengan judul, “Apakah Barat Menang Melawan Islam.” Menurut persepsi beliau Barat hanya unggul atas realitas umat Islam. Kejayaan mereka yang muncul di layar dunia tak mampu mengungguli orisinalitas dan esensi Islam sendiri.

Karena, dalam setiap aspek nyatanya mereka kalah. Dalam perdebatan teologi, hujjah Islam tak terbantahkan. Baik tentang konsep trinitas kaum Kristen dan setiap konsep ketuhanan dalam agama lain.

Bahkan jika kita berbicara moral terlebih tentang peradaban, Barat sangatlah terbelakang. Tak ada norma yang mengatur kehidupan mereka. Yang kuat mak ia yang berkuasa, tak ubahnya hukum rimba. Dekadensi moral atau demoralisasi merambah di setiap kalangan. Narkoba dan depresi tinggi tak mampu dihentikan.

Berbeda dengan ajaran Islam. Spiritual adalah nilai yang sangat urgen. Ada sekat pembatas antara hitam dan putih. Ada banyak aturan dan norma menjadi penuntut setiap pemeluknya. Maka, bedakan antara umat Islam dan agama Islam itu sendiri.

Kemudian, Jika yang ditanyakan adalah kejayaan, argumen yang tepat untuk dilontarkan adalah tinta emas sejarah bahwa umat dengan peradaban paling baik adalah di masa Rasulullah. Dekadensi itu berlaku setelah beliau wafat hingga nanti kiamat menjelang. Ini lebih kepada umat Islam itu sendiri.

Kesederhanaan di zaman Rasulullah ditampilkan oleh sejarah. Namun, esensi kehidupan begitu terasa. Mengapa demikian?, jiwa sosial mereka yang tinggi, Anshar dan Muhajirin yang beda bagckground mampu menyatukan hati. Taktik perang yang tajam dan strategis. Intelektual dan spiritual yang tinggi. Kemampuan semacam itu bahkan diakui oleh seorang mualaf berkebangsaan Jerman Murad Wilfred Hoffman dengan statmennya: “Nabi Muhammad adalah politikus yang hebat, berkepribadian yang kuat, berkharismatik tinggi dan memiliki kemampuan taktik yang cemerlang. Beliau adalah jenderal yang prestasinya melebihi Karl Von Clausewite. Perjanjian Hudaibiyah adalah sebagian dari wajah manuver diplomasi tingkat tinggi.”

Akhirnya, setiap pertanyaan semacam di atas hanya ditujukan untuk mempengaruhi akidah kita. Ingin menyusupkan keraguan atas agama kita sendiri.

Penulis: Muhammad Faqih

Editor: M. Muhsin Bahri

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan