51IIHHpQ1WL._SX348_BO1,204,203,200_

51IIHHpQ1WL._SX348_BO1,204,203,200_

Oleh: Kholili Faishal*

Berawal dari pembahasan setiap perkara yang keluar dari dua jalan, qubul-dubur dihukumi najis, seperti halnya air kencing, meskipun air kencing shobiy (anak kecil) tetap hukumnya najis. Pengecualian dari pembahasan ini, Syaikhul Islam Zakariya Al-Anshori dalam Tuhaftuttullab yang kemudian disempurnakan oleh Abdullah Asy-Syarqawi dengan Hasyiah Asy-Syarqawi mengatakan: “Air kencing Nabi Muhammad SAW hukumnya suci (tidak najis), begitu pula kotoran Nabi Muhammad SAW juga dihukumi suci. Sekalipun tak pernah tampak bekas kotoran nabi, karena memang Allah SWT memerintahkan bumi untuk menelannya”. (As-Syarqowi Ala At-Tahrir  juz:1 hal:115)

 

Maka dari itu, Nabi Muhammad SAW melakukan Istinja’ (membersihkan kotorannya) hukumnya sunnah, karena kotorannya tidak najis, dan lagi faedahnya untuk menambah kebersihan.

Keistimewaan seperti ini juga mencangkup seluruh para nabinya Allah SWT, yang juga dihukumi suci air kencing dan kotorannya. Subhanallah.

 

*Kontributor HMASS.CO Asal Jember

3,359 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan