776ceb41-f7c5-48b5-8f75-0a1ff71d5d8eSiang waktu Kairo, Mesir, dengan suhu panas yang tidak biasa tidak mematahkan semangat para anggota PCI HMASS Mesir untuk mengunjungi makam-makam para sahabat nabi SAW dan wali di daerah Kairo dan sekitarnya, Jumat (13/05). Kegiatan yang dipandu langsung oleh divisi Dakwah & Sosial ini mengundang simpati beberapa mahasiswa lain dari Indonesia, sehingga ada beberapa anggota non-HMASS yang ikut rombongan ziarah.

Seperti diketahui sebelumnya bahwa kegiatan ziarah makam sahabat nabi SAW dan para auliyâ’ ini merupakan salah satu agenda yang dipersiapkan oleh pengurus PCI HMASS Mesir menjelang diselenggarakannya termin (ujian kenaikan tingkat universitas al-Azhar, red). Mengharap berkah dan rida dari para masyayikh yang karangannya telah lama dipelajari sejak belajar di Pondok Pesantren Sidogiri, hingga menjadi alumni. Demikian yang diucapkan oleh Ust. Muhammad Ghufron, ketua PCI HMASS Mesir saat ditanya melalui pesan Whatsapp beberapa hari lalu, Senin (16/05).

Tokoh Sufi Wanita, Cicit Sayidina Ali bin Abu Thalib

Dengan menaiki kendaraan umum, semua anggota PCI HMASS Mesir tiba di makam Sayidah Aisyah binti Sayid Ja’far As-Shadiq (w. 145 H) di daerah Babu Qurafah, Kairo. Makam cicit Sayidina Ali bin Abu Thalib dari jalur imam Husain bin Ali tersebut merupakan tujuan pertama dalam agenda pengurus PCI HMASS Mesir yang dikunjungi.

Dalam riwayat hidupnya, beliau dikenal sebagai wanita penyayang anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Selain itu, beliau dikenal sebagai tokoh besar sufi dari kalangan wanita. Ayah beliau sendiri merupakan ulama besar sekaligus pendiri mazhab Ja’fari. Berkat ayahnya, Sayidah Aisyah dididik sedemikian rupa menjadi wanita yang jujur dan pemberani.

Jalaluddin Imam Suyuthi, Pengarang Tafsir Jalalain

Tidak sampai berjarak satu kilometer dari makam Sayidah Aisyah, PCI HMASS Mesir melanjutkan ziarah ke makam pengarang Tafsîr Jalâlain, Imam Jalaluddin as-Suyuthi (w. 911 H). Dengan jarak yang begitu dekat, seluruh anggota HMASS berjalan kaki menuju makam beliau.

Imam Suyuthi merupakan seorang ulama besar yang dikenal dengan kedisiplinannya. Oleh karenanya, jumlah karya beliau mencapai ratusan dan telah melebihi umur beliau sendiri, yaitu kurang lebih 61 tahun. Dengan kekayaan karya yang beliau lahirkan, beliau mendapat gelar mujtahid muthlaq, sebuah gelar prestisius yang menentukan kapasitas seseorang memutuskan hukum fikih.

fbd84d51-5f3c-442e-8ee6-aae13c364159

Pendiri Mazhab Syafii, Guru Fikih Imam Suyuthi

Kemudian rombongan ziarah pergi menuju makam imam Syafii (w. 204 H). Terletak di Al-Qarafa, distrik Al-Khalifa, Kairo, butuh beberapa menit tiba disana. Masih satu atap, di samping makam beliau terdapat makam Hujjatul Islâm, Syekh Zakaria al-Anshari (w. 926 H).

Sebagai pendiri mazhab Syafii, beliau adalah seorang imam besar dalam ilmu fikih. Beliau juga merupakan guru imam Suyuthi ketika beliau belajar fikih. Oleh sebab itu, sekalipun dikenal dengan ratusan karya yang dimilikinya, imam Suyuthi selalu menisbatkan ilmu kepada imam Syafii bila itu berkaitan dengan ilmu fikih.

Sejak kecil, imam Syafii dididik oleh orang tuanya sendiri. Walhasil, ia telah mahir bersyair Arab sejak belia dengan menghafal semua keilmuan yang berkaitan dengan sastra Bahasa Arab. Selain itu, berkat bimbingan ibunya, beliau berhasil menghafal al-Quran sebelum genap berusia 13 tahun.

Kemudian beliau pindah ke Mekah dan berguru pada Syekh Muslim bin Khalid al-Zanj, seorang ulama fikih disana. Lalu beliau pergi ke Madinah. Disinilah pertama kali beliau bertemu dengan sang guru, imam Malik, pendiri mazhab Maliki untuk belajar ilmu hadis dan fikih. Padahal, waktu itu usia beliau belum mencapai 15 tahun.

Setelah itu, imam Syafii pergi menuju Baghdad, Irak untuk mulai merintis mazhabnya sendiri. Disinilah beliau Menyusun kitab ar-Risâlah, sebuah karya bidang ilmu ushul fikih. Pada saat yang sama, beliau juga meyusun kitab lain di bidang fikih, yaitu al-Hujjah.

Setelah dari Baghdad, beliau pergi ke Mesir akibat konflik dengan kekhalifaan Abbasiyah. Imam Syafii menetap di Mesir serta terus mengembangkan mazhabnya hingga beliau wafat.

Imam al-Waki’ bin al-Jarrah, Guru Imam Syafii

Selanjutnya ada makam imam al-Waki’ bin al-Jarrah (w. 129 H). Makam beliau dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari makam imam Syafii.

Imam al-Waki’ masih merupakan salah satu guru imam Syafii. Yang sangat populer adalah kisah ketika imam Syafii mengalami gangguan dalam menghafal lalu beliau mengadu pada imam Waki’. Kemudian sang guru memberi beliau pesan agar meninggalkan maksiat, karena ilmu merupakan cahaya Allah SWT sedangkan cahaya Allah SWT tidak akan diberikan pada orang-orang yang bermaksiat pada-Nya.

Ibnu Hajar al-‘Asqallani, Amîrul-Mu’minîn Dalam Bidang Ilmu Hadis

Salah satu makam ulama besar Islam lainnya yang terdapat di Kairo adalah Ibnu Hajar al-‘Asqallani (w. 852 H). Dalam perjalanan menuju makam beliau, rombongan ziarah PCI HMASS hanya membutuhkan beberapa menit berjalan kaki menyusuri pemukiman warga di al Abageyah, el Khalifa, Kairo.

Beliau tumbuh sebagai yatim piatu sejak kecil. Pada usianya yang keempat tahun, beliau ditinggal wafat sang ayah. Sementara ibunya wafat saat beliau masih balita. Oleh karenanya, beliau sejak kecil diasuh oleh kakak tertua, al-Zaki al-Kharubi.

Sebagai anak yang tidak memiliki orang tua, beliau tidak pernah patah asa dalam semangat mencari ilmu. Pada usia ke lima tahun, beliau mulai menghafal al-Quran sekaligus dididik sebagai seorang fakih (ahli fikih, red). Akhirnya, pada usia ke Sembilan beliau telah berhasil menghafal al-Quran secara keseluruhan. Beliau juga pernah ditunjuk sebagai imam shalat tarawih di Masjidil Haram, Mekah, ketika ikut melaksanakan haji.

Dari situlah, sejak tiba lagi di Mesir setelah melaksanakan haji, beliau memiliki kesenangan tersendiri meneliti kitab-kitab sejarah lalu menghafal semua nama perawi hadis yang ada. Kemudian beliau menuntut ilmu hadis dan menaruh konsentrasi khusus pada ilmu tersebut pada waktu itu.

Kemudian seiring kesenangannya pada ilmu hadis, beliau melakukan rihlah ke beberapa negara seperti Syam, Hijaz dan Yaman. Dengan usia muda dan wawasan ilmu yang begitu luas, beliau sampai diizinkan berfatwa dan mengajar di beberapa madrasah. Di samping juga membuka tasmî’ hadis serta mengajarkan ilmu fikih. Pada akhirnya, para ulama mengenal beliau sebagai Amîrul Mu’minîn ilmu hadis.

Imam al-Laits bin Saad, Teman Karib Imam Maliki

Selain kepada guru imam Syafii, tidak lupa juga rombongan PCI HMASS Mesir berziarah ke Imam Abu al-Laits (w. 175 H). Ada salah satu riwayat yang menceritakan bahwa salah satu tujuan imam Syafii datang ke Mesir adalah untuk belajar kepada Imam al-Laits bin Saad. Namun sayang, beliau wafat sebelum imam Syafii sempat berguru. Oleh karenanya, bisa dikatakan bahwa beliau adalah teman karib imam Malik bin Anas, yang merupakan guru imam Syafii.

Keterangan lain menyebut bahwa periwayatan paling sahih di Mesir adalah riwayat imam al-Laits bin Saad. Hal itu telah diakui beberapa ulama hadis. Kualitas keilmuannya pun sebenarnya sudah selevel dengan imam mazhab. Tetapi sungguh disayangkan mazhab beliau harus punah ditelan zaman. Diperkirakan mazhab imam al-Laits hanya bertahan kurang lebih dua abad saja.

Penulis: Abrari Ahmadi

Editor: M. Fauzan Imron

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan