HMASS.Co, Malang—Sabtu (17/10/2020), bertepatan dengan tanggal 29 Safar 1442 Hijriyah, PC HMASS Malang kembali mengadakan acara Webinar Internasional dengan tema “Indonesia Depresi Ekonomi; Bagaimana Peran Santri dan Pesantren?”.
Webinar ini dilakukan secara daring menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meetings dan dikendalikan oleh panitia yang berkumpul di PP. Imam Ad-Damanhuri, Perumahan Puri Nirwana Kav 31, Jl. Simpang Gajayana Lowokwaru, Kota Malang.
Ada lebih dari 200 peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang mengikuti acara ini. Mereka terdiri dari dosen, mahasiswa, santri, kader Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (HMASS) Se-Indonesia, dan partisipan lainnya.
Adapun pembicara dalam webinar internasional ini adalah Dr. Mohammad Mahbubi Ali, Ph.D. (Head of Economics, Finance, Waqaf and Zakat di International Institute of Advanced Islamic Studies Malaysia); H. Anwar Sadad, S.Ag., M.Ag. (Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Timur); dan KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc., MA., Ph.D. (Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat). Sedangkan yang mengendalikan jalannya webinar sebagai moderator adalah Ustadz Abdul Aziz Damanhuri (Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Pengasuh PP. Imam Ad-Damanhuri).
Acara yang berlangsung mulai dari pukul 09:00 WIB hingga pukul 12:00 WIB cukup menarik perhtian peserta Webinar. Salah seorang peserta asal Probolinggo yang tidak mau menyebutkan namanya, mengatakan bahwa dari Webinar semacam ini, ia bisa mendapat banyak ilmu terkait ekonomi dan pesantren.
“Jarang-jarang saya dapat mengikuti webinar yang luar biasa semacam ini. Selain materi yang disampaikan sangat jelas. Juga pemateri yang tidak lain adalah kaum sarungan. Ini membuktikan bahwa santri juga bisa membahas isu global” ungkapnya.
Di akhir acara, moderator meminta masing-masing pemateri untuk menyampaikan pesan-pesannya untuk para peserta.
Sedangkan H. Anwar Sadad, menyampaikan pesan, bahwa kita harus benar-benar menyiapkan diri untuk menghadapi masa depan, karena kita tidak pernah bisa meramalnya.
“Berdiskusilah, karena suatu saat kita akan membutuhkan ilmu-ilmu itu” pesannya yang cukup membuat peserta mengamini pesan tersebut.
Sedangkan menurut Mohammad Mahbubi Ali, apa yang kita lakukan hari ini menggambarkan apa yang kita capai besok. Man zaro’a hashoda. Di setiap tangga proses yang kita lalui, pasti ada kesuksesan.
Sedangkan KH. Muhammad Cholil Nafis, santri harus melek digital. Perubahan zaman harus diimbangi oleh para santri. “Anti digital berarti melawan takdir. Terpenting kita harus punya mimpi besar, karena mimpi bisa menerobos ketidakmungkinan. Himmatur rijal tahdimul jibal,” pungkas KH. Muhammad Cholil Nafis.[]
Reporter: Moh. Nailur Rohman
Editor: Muh Kurdy Arifin

