Oleh M. Iqbal Lumintang*
Sabar merupakan akhlak mulia yang perlu dikedepankan dalam menjalani kehidupan di dunia yang notabene merupakan ujian bagi umat manusia. Untuk itu, bagi seoarang mukmin, sabar harus menjadi pakaian dalam hidupnya. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda “Aku heran dengan urusan orang mukmin, sesungguhnya urusan orang mukmin semuanya baik. Dan hal itu tidak ada kecuali bagi seorang mukmin. Jiak ia ditimpa dengan kesenangan ia padai bersyukur, maka hal itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan ia bersabar, itupun baik baginya.” (HR. Muslim dan Ahmad).
Hadits tersebut memberikan isyarat betapa sabar merupakan salah satu kunci untuk mendapatan kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupan ini. Orang yang sabar akan menjadi kekasih Allah. Ia akan mendapatkan hidayah dan pertolongannya. Apabila seseorang mampu bersikap sabar dalam menghadapi musiah dan kemalangan untuk waktu yang lama, dia tabah menghadapi sulitnya ibadah dan pahitnya meninggalkan kenikmatan jasadi, maka ia akan menjadi pribadi yang kokoh dan disiplin.
Betapa pentingnya sikap sabar, sehingga Al-Qur’an menyebutnya lebih dari 94 kali. Tentang keutamaan dan pentingnya sabar, Allah SWT berfirman “Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 153).
Hakikat Makna Sabar
Para ulama’ banyak memberikan definisi makna sabar, antara lain: Sabar berarti menahan diri untuk tidak beragitasi ketika menghadapi hal-hal yang tak diinginkan. Al Sayyid Ali Al Jurjani, dalam kitab Al-Ta’rifat menyatakan bahwa sabar bisa berarti menahan diri untuk tidak mengeluh karena musibah atau derita yang menimpanya, kecuali pada Allah SWT.
Sikap sabar, menurut hemat penulis, tidak identik dengan sifat pasif, tetapi justru aktif. Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang dengan tekun dan giat belajar selama kuliah demi meraih cita-cita nya, ia dapat dikatakan mahasiswa yang sabar. Sabar adalah sika positif, sehingga kata sabar harus digunakan untuk konteks yang positif.
Tidak boleh, misalnya, seorang pegawai atau pemimpin dengan dalih sabar lantas lamban dalam melayani masyarakat. Lebih fatal lagi jika hal itu ia lakukan untuk menutupi ketidak propesionalnya dalam menjalankan tugas pengabdian pada masyarakat. Sabar tidak identik dengan sikap menunda-nunda (taswif) berbuat baik. Dalam kesabaran sesungguhnya ada dimensi kesungguhan, keuletan, dan profesionalisme. Meninggalkan usaha yang sungguh-sngguh dengan dalih sabar adalah keliru. Menunda-nunda shalat dan bermalas-malasan pergi ke kantor bukanlah kesabaran, melainkan kemalasan.
Macam-Macam Sabar
Berdasarkan konteksnya, sabar dibagi menjadi tiga bagian:
- Sabar dalam ketaatan (al-Shabru ‘ala al-Tha’ah). Hal itu dilakukan dengan cara istiqamah (konsisten dan terus-menerus) dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Artinya, seseorang harus konsisten dalam beribadah baik yang berkaitan dengan ibadadah maliyyah (ibadah dengan harta, seperti sedekah dan zakat), badaniyyah (ibadah dengan badan, seperti shalat dan jihad di medan perang) maupun ibadah qalbiyyah (dengan hati, seperti ikhlas, qana’ah, syukur, ridha dan lain sebagainya).
- Sabar meninggalkan maksiat (al-Shabru ‘an al-Ma’shiyyah). Ini dilakukan dengan cara mujahadah (jihad spiritual), bersungguh-sungguh dalam memerangi hawa nafsu dan meluruskan keinginan-keinginan buruk yang dibisikkan oleh setan. Orang yang bersungguh-sungguh melaksanakan mujahadah, niscaya Allah akan memberinya hidayah kepadanya. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridha-an) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami, dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut:69)
- Sabar ketika ditimpa musibah ( al-Shabru ‘ala al-Musibah). Ini dilakukan ketika kita ditimpa musibah atau kemalangan. Dunia sesungguhnya tempat ujian (dara l-Imtihan). Allah akan menguji keimanan seseorang, antara lain, dengan ditimpakannya musibah kepadanya. Ini bukan berarti Allah tidak sayang, melainkan sekedar untuk menguji, sejauh mana kekuatan iman kita. Allah SWT berfirman:“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 2-3)
Tingkatan Orang Sabar
Menurut Ibnu Ajibah, orang sabar jika diklasifikasi-kan berdasarkan tingkatannya dapat dibagi menjadi tiga:
- Sabar tingkatan orang awam. Seseorang dalam posisi ini akan selalu tabah atas kesulitan-kesulitan dalam menjalankan ketaatan dalam melawan segala bentuk pelanggaran.
- Sabar tingkatan orang khusus (khawash). Seseorang yang masuk dalam tingkatan ini akan bisa menahan hati (tabah) ketika menjalankan riyadhah dan mujahadah (perjuangan spiritual) dengan selalu melakukan muraqabah sehingga dalam hatinya selalu hadir nama Allah.
- Sabar tingkatan khawasul khawas. Seseorang bisa dikatakan masuk dalam maqam ini bila ia bisa menahan ruh dan sirr agar dapat menyaksikan Allah (musyahadah) dengan mata hatinya.
Sabar memang bertingkat-tingkat. Sebagai orang awam, kita dapat berada pada level pertama saja sudah baik. Kendati demikian, kita hendaknya berusaha menaikkan tingkatan sabar kita sampai pada level yang tertinggi. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan dan hidayah-nya, sehingga kita dapat bersabar dalam menjalani segala kehidupan ini. Wallahu a’lam.[]
*Penulis adalah Pengurus Cabang HMASS Malang. Mahasiswa Jurusan Hukum Tata Negara Universitas Islam Malang.

