Ketua Umum PP HMASS, Mas M. Syamsul Arifin Munawwir, S.Psi, membacakan sambutan dari Koordinator IASS, Mas d. Nawawy Sadoellah

 

HMASS.CO, Pasuruan–Pengurus dan kader Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (HMASS) yang telah berkiprah di berbagai perguruan tinggi yang berbeda-beda, memiliki tanggung-jawab besar sebagai duta-duta Sidogiri bagi masyarakat kampus dan universitas.

Demikian di antara isi taujihat (pengarahan) dari Koordinator Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS), Mas d. Nawawy Sadoellah, yang dibacakan oleh Ketua PP HMASS, Mas M. Syamsul Arifin Munawwir, S.Psi, pada acara Pelantikan PC HMASS se-Indonesia, di Gedung IASS, Pasuruan (16/10/18). Berikut isi taujihat selengkapnya.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعد.

Saudara-saudara pengurus HMASS sekalian. Terus terang saya merasa gembira dengan diselenggarakannya pertemuan pengurus HMASS pada malam hari ini, karena setidaknya hal ini menjadi salah satu penanda bagi kesungguhan kita sekalian dalam menjalankan amanah mulia yang telah dibebankan kepada saudara-saudara sekalian, dalam rangka “Khidmah lil-Ma‘had Khidmah lil-Ummah”. Semoga kesediaan saudara-saudara sekalian untuk meluangkan waku untuk menghadiri pertemuan ini, tercatat sebagai amal kebaikan, yang bisa menjadi perantara bagi kita sekalian meraih rida Masyayikh Pondok Pesantren Sidogiri. Amin, Ya Rabbal ‘Alamin.

Sebenarnya, ada satu hal yang membedakan antara alumni santri dengan alumni-alumni institusi pendidikan lain di luar pesantren. Bahwa bagi seorang santri, kendati ia telah lepas dari pesantren, baik untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, berumah-tangga, bekerja, berdagang, dan atau berkiprah sebagai apapun, di dalam hatinya tetap ada kesinambungan dengan kyai dan para masyayikh di pesantrennya. Ikatan batin seperti inilah yang sulit didapati pada institusi-institusi pendidikan di luar pesantren.

Karena itu dengan demikian, bagi santri hakiki, yakni santri sebagaimana ditegaskan dalam Ta‘rif Santri  oleh Kyai Hasani Nawawie, pada hakikatnya santri itu tak pernah lepas dari statusnya sebagai seorang santri, kendati ia telah lepas dari pesantren tempat ia mengaji dan menimba ilmu serta keteladanan kepada Kyainya. Karena hubungan batin dengan Masyayikh, Kyai, dan Pondok Pesantren tetap kokoh, dan terus ia bawa ke mana pun ia berkiprah, sebagai apa pun, dan sampai kapan pun.

Nah, hal inilah yang mesti tertanam kuat dalam jiwa saudara-saudara sekalian, dalam kiprah saudara-saudara sebagai mahasiswa atau dosen di universitas-universitas masing-masing. Jika aspek asasi ini berhasil ditumbuhkan dan dikokohkan dalam sanubari saudara-saudara sekalian, maka ia akan menjadi benteng kokoh yang bisa melindungi hati dan pikiran saudara-saudara sekalian dari ide-ide negatif yang tidak sejalan dengan segenap apa yang diajarkan oleh Kyai di pesantren. Sekaligus, ia akan menjadi penggerak hebat yang bisa mendorong saudara-saudara sekalian sehingga memiliki keberanian untuk mengemukakan prinsip-prinsip kita sebagai santri di tengah-tengah komunitas luar.

Saudara-saudara pengurus HMASS sekalian. Dalam kaitannya dengan hal itu, Kyai A. Sa’doellah Nawawie pernah dawuh, bahwa pendidikan di Sidogiri ini tidak ditujukan untuk mencetak bahan jadi, akan tetapi ditujukan untuk menyediakan bahan mentah yang baik dan berkualitas tinggi, yang nantinya bisa diolah menjadi apa saja. visi itulah yang menjadi dasar kenapa lembaga pendidikan klasikal di Pondok Pesantren Sidogiri ini diberi nama “Miftahul ‘Ulum”, yang di dalamnya diajarkan segala hal tentang Islam Ahlusunah wal-Jamaah, menggunakan kitab-kitab ulama salaf dan khalaf dalam berbagai disiplin ilmu yang berbeda-beda.

Ajaran-ajaran pokok keislaman inilah yang akan menjadi modal utama santri-santri Sidogiri ketika kelak ia berkiprah di luar pesantren, sebagai apapun. Ini adalah prinsip Sidogiri yang sudah final dan tidak bisa diubah-ubah lagi. Dan itulah sebabnya sekian banyak usulan dari berbagai kalangan agar Sidogiri mendirikan lembaga pendidikan tinggi tidak pernah disetujui oleh para Masyayikh hingga hari ini. Karena Sidogiri telah memilih fokus pda bidang garapannya sendiri yang telah ditetapkan, dan tidak akan latah untuk juga menggarap bidang yang menjadi fokus garapan pihak-pihak lain.

Maka, saudara-saudara yang telah berkiprah di berbagai perguruan tinggi yang berbeda-beda ini, memiliki tanggung-jawab besar sebagai duta-duta Sidogiri bagi masyarakat kampus dan universitas. Mereka akan menilai Sidogiri berdasarkan apa yang mereka lihat dan amati langsung dari saudara-saudara sekalian, baik ucapan, perbuatan, tingkah laku, pikiran, dan sebagainya. Karena saudara-saudara sebelumnya adalah bahan-bahan mentah yang telah digodok oleh Sidogiri sehingga memiliki kualitas yang baik, maka pertahankanlah nilai-nilai dan ciri khas yang telah disuntikkan oleh Sidogiri ke dalam diri saudara-saudara sekalian. Saudara-saudara mesti membawa hati dan pikiran Sidogiri ke luar, bukan malah membawa pikiran-pikiran dari luar ke Sidogiri. Jika hal terakhir itu yang terjadi, berarti nilai-nilai Sidogiri di dalam diri saudara-saudara telah luntur sama sekali. Hal ini tentu tidak kita inginkan.

Saudara-saudara pengurus HMASS sekalian. Terkait dengan situasi dan kondisi politik yang terjadi di negeri kita hari ini, maka sikap Sidogiri, IASS, HMASS, dan seluruh lembaga yang berafiliasi pada Pondok Pesantren Sidogiri telah jelas, dan tidak akan berubah-ubah sampai kapanpun. Tentu saudara-saudara semua sudah memahami dengan sangat baik akan hal ini, sebab sikap politik Sidogiri yang netral, tidak terlibat dalam dukung-mendukung, telah disampaikan sejak dahulu, berulang-ulang dalam setiap kesempatan, terutama menjelang dihelatnya pemilihan umum seperti saat ini.

Karena itu, sebagai “orang Sidogiri” yang sudah memahami Sidogiri dengan baik, saudara-saudara sekalian tidak boleh masa bodoh dan acuh akan hal yang sangat prinsip ini. Berhati-hatilah dalam melangkah terkait segala hal yang berurusan dengan politik. Jangan sampai memanfaatkan Sidogiri dengan segenap lembaga yang berafiliasi kepadanya, sebagai batu loncatan dan kendaraan untuk memuluskan kepentingan-kepentingan pribadi, atau hanya untuk memuaskan ego politis pribadi dalam dukung-mendukung salah satu kandidat yang sedang berkompetisi. Sidogiri dan para Masyayikh tidak akan pernah meridai tindakan-tindakan fatal yang semacam ini.

Termasuk, kita juga mesti berhati-hati dalam menyuarakan pendapat atau berkomentar di media sosial, terkait dengan situasi politik mutakhir. Karena saya mendengar, dan juga menyaksikan secara langsung melalui media sosial, bagaimana sebagian alumni, termasuk mereka yang ada di dalam kepengurusan HMASS ini, telah menjelma sebagai kubu-kubu yang saling berseteru dalam menyuarakan haluan politik masing-masing. Mereka tampak telah menjadi Jurkam-jurkam bagi para calon pemimpin yang tengah berkompetisi, sampai-sampai sebagian rela merendahkan dirinya sendiri, dengan melakukan caci-maki atau kata-kata yang sama sekali tak pantas dilakukan oleh seorang santri.

Bagaimanapun, ironi seperti ini harus segera disudahi dan tak boleh terjadi lagi. Kita harus menyadari bahwa sebenarnya kita tak pernah bisa melakukan atau mengatakan apapun murni sebagai diri kita sendiri, karena pada diri kita ada banyak status yang melekat kuat dan tak bisa terpisahkan dari diri kita. Maka apapun yang kita katakan atau kita lakukan, dampaknya juga akan memercik pada segala staus yang melekat pada kita, kepada kesantrian kita, kepada almamater kita, kepada Kyai, Masyayikh, dan guru-guru kita, orang tua kita, dan seterusnya.

Sekian sambutan dari saya. Semoga pertemuan HMASS pada malam hari ini memberikan hasil yang baik, yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Sidogiri, sehingga segala pikiran dan gerakan yang kita upayakan melalui organisasi ini, bisa membuat Kyai dan para Masyayikh ridha pada kita. Amin.

 

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan