filsafat

Oleh M. Iqbal Lumintang*

Istilah kata filsafat berasal dari bahasa Yunani Kuno yakni philisopia dan philosophos yang berarti “orang yang cinta kepada kebijaksanaan” atau “cinta kepada pengetahuan”. Orang yang diduga pertama kali menggunakan filsafat adalah Pythagoras tepatnya pada abad ke-VI SM. Sebab munculnya istilah diatas, dikarenakan masyarakat Yunani mengagumi kecerdasan dan menganggap dirinya sebagai ilmuwan yang mengetahui segalanya.

Dalam filsafat, kegiatan mencintai pengetahuan/kebijaksanaan, dilakukan dengan mempertanyakan sesuatu secara mendasar dan menyeluruh. Filsafat dipahami demikian, sebagai upaya mencari pengetahuan dan kebenaran. Maka dari itu, filsafat identik dengan cara/metode berpikir yang selalu menanyakan segala sesuatu secara krisis dan mendasar. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari rasa ingin tahu manusia (homo curiosus) terhadap dunia dan dirinya. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa jadi merupakan pertanyaan yang sederhana dan bisa jadi merupakan pertanyaan yang serius.

Contoh pertanyaan yang sederhana: apa yang akan kita makan hari ini atau apa yang akan kita lakukan untuk mengisi waktu luang. Contoh pertanyaan serius: apa artinya hidup, apakah manusia sama dengan alam atau tidak, bagaimana asal muasal alam, atau apakah ada kehidupan setelah kematian.

Pertanyaan sederhana dan pertanyaan serius diatas itu dapat memberikan jawaban yang berbeda. Pertanyaan sederhana memberikan jawaban yang dikenal dengan pengetahuan eksistensial, sedangkan pertanyaan serius memberikan jawaban yang dikenal dengan filsafat.

Dalam filsafat, pencarian jawaban atas pertanyaan itu dilakukan secara terus-menerus (hingga akhirnya membuahkan jawaban yang semakin lama semakin mendekati kebenaran). Maka dari itu, sering pula filsafat dikatakan sebuah “tanda tanya”, dan bukan “tanda seru”. Artinya, filsafat sebagai upaya pencarian akan kebijaksanaan atau pencarian pengetahuan yang tidak akan pernah selesai.

Ada beberapa pengertian yang dapat digunakan untuk Memahami apa itu Filsafat. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Filsafat sebagai upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas. Herbert Spencer, misalnya, menyatakan filsafat sebagai “a completely unified knowledge” (yang ia bedakan dengan science (ilmu) sebagai “partially unified knowledge”). Berbeda dengan ilmu-ilmu yang lain, filsafat berupaya mempersatukan ilmu-ilmu khusus menjadi satu sistem yang utuh. Filsafat mencoba memberi gambaran (pemetaan) tentang pemikiran manusia yang bercerai-berai menjadi suatu keseluruhan (bukan tentang realitas akan tetapi konseptual).
  2. Filsafat sebagai upaya untuk melukiskan hakikat realitas paling akhir serta paling dasar yang diakui sebagai satu hal yang nyata. Filsafat mencoba mencari sifat hakiki dari realitas, juga ciri hakiki dari eksistensi manusia (berbeda dengan ilmu pengetahuan yang hanya meneliti aspek-aspek tertentu (khusus) dari realitas). Karena filsafat mempertanyakan hakikat realitas (esensialis), maka pencarian filsafat ini sering memasuki dimensi kepercayaan, misalnya kepercayaan adanya Tuhan sebagai dzat yang menciptakan semua realitas di alam semesta ini. (Filsafat yang membahas realitas yang paling dasar atau realitas yang paling akhir (ultimate reality) disebut metafisika).
  3. Filsafat sebagai upaya untuk menentukan batasan dan jangkauan pengetahuan: sumber pengetahuan, hakikat pengetahuan, keabsahan serta nilai-nilanya. (Bidang filsafat yang membahas masalah pengetahuan ini disebut sebagai epistemologi).
  4. Filsafat sebagai hasil suatu penelitian kritis atas pengandaian-pengandaian pernyataan-pernyataan yang diajukan dari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Misalnya, filsafat sosial, filsafat politik, filsafat hukum, filsafat psikologi, filsafat budaya, dan lain-lain. Konsep-konsep fundamental dalam ilmu pengetahuan dan gambaran umum tentang pengalaman manusia dan tentang realitas, tetap berada di wilayah filsafat, karena masalah tersebut tak dapat dideterminasi oleh metode ilmiah mana pun.
  5. Filsafat sebagai disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu anda (kita) untuk menyatakan apa yang anda katakan dan untuk mengatakan apa yang anda lihat. (Bidang filsafat seperti ini disebut filsafat analitik, filsafat bahasa model positivisme logis) yang berupaya untuk menciptakan bahasa yang lugas dan bebas dari kekaburan ambiguitas makna).

Sementara itu, juga ada dari beberapa filsuf yang mengartikan apa itu filsafat. Bertrand Russell misalnya, melihat filsafat sebagai wilayah tak bertuan, yang berada di antara sains (ilmu pengetahuan) dan teologi.

Jacques Maritain menganggap filsafat sebagai upaya memahami ide-ide, konsep-konsep atau sistem pemikiran yang berkembang dari proses bertanya. Jadi, menurut Jacques Maritain filsafat dapat pula dilihat sebagai “pemikiran tentang pemikiran” (thinking about thinking). Dengan istilah lain, filsafat disebut sebagai “secondary reflexion” atau refleksi tingkat dua. Maksudnya, filsafat tidak membahas atau meneliti fenomena secara langsung akan tetapi lebih terfokus pada pembahasan tentang teori dan pemikiran yang ada pada ilmu pengetahuan.

Misalnya, jika sosiologi membahas/meneliti berbagai fenomena sosial (yang menghasilkan teori-teori sosial) atau ahli politik membahas dan melakukan penelitian tentang berbagai masalah yang berhubungan dengan kekuasaan, maka filsafat bergerak pada tataran teoretis dengan mempertanyakan berbagai asumsi-asumsi dasar dan konsekuensi dari teori-teori sosiologi dan politik itu (atau dari ilmu pengetahuan lain) secara kritis dan mendasar. Maka dari itu, tidak heran bagi kita jika dalam wilayah filsafat mengenal yang namanya filsafat sosial, filsafat politik, filsafat hukum, filsafat ekonomi, filsafat tekhnologi, filsafat lingkungan, filsafat ilmu pengetahuan dan lain lain.

*Penulis adalah kader HMASS Malang yang saat ini melakukan studi akademik di UIN Maliki Malang.

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan