HMASS.Co, Pasuruan — Dalam rangka memperingati 73 tahun Proklamasi Kemerdekaan RI, PP HMASS bekerjasama dengan Lakpesdam PCNU Kabupaten Pasuruan mengadakan Kolokium “Jejak Ulama dan Pesantren Pasuruan dalam Perjuangan Bangsa”, pada Kamis (23/08/18) di Gedung IASS, Jl. Raya Sidogiri KM 1, Pasuruan.
Acara ini dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh semua elemen bangsa, termasuk kalangan ulama Pesantren. Sebagai pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat, para Kiai terpanggil turun ke medan perang melakukan perlawanan langsung dalam merebut ataupun mempertahankan kemerdekaan. Atas nama kesatuan sebagai bangsa, jejak perjuangan para kiai pesantren perlu dipahami oleh semua anak bangsa.
Acara yang dibuka Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan KH. Shonhaji Abdus Somad ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu peneliti dan sejarawan pesantren Ahmad Baso, Sekretaris Umum Pondok Pesantren Sidogiri Ust. H. Saifulloh Naji, dan pakar Ilmu Sejarah dari Universitas Jember Dr. Tri Chandra Aprianto. Sebagai moderator Mas M. Syamsul Arifin Munawwir, S.Psi, Ketua PP HMASS dan editor buku Jejak Langkah 9 Masyayikh Sidogiri. Ratusan peserta dari pengurus NU, IASS, HMASS, berbagai pesantren dan organisasi, tampak antusias mengikuti pemaparan narasumber.
Ahmad Baso mengungkap peran strategis ulama Pasuruan dalam perjuangan bangsa, sejak masa pasca Walisongo, masa perjuangan kemerdekaan, hingga masa mempertahankan kemerdekaan. “Ada tiga poros perjuangan: Pasuruan, Surabaya, Bangkalan,” jelasnya. Menurut Ahmad Baso, pendiri PP Sidogiri Syekh Sayid Sulaiman, beserta keturunan dan jaringannya berperan besar dalam perjuangan ulama untuk Bangsa.
Selanjutnya, Ust. Saifulloh Naji mengungkap detail perjuangan kiai-kiai Sidogiri. “Ada dua bidang tugas Sidogiri, pertama tafaqquh fid-din (pendidikan ilmu agama), kedua khidmah lil ummat (pengabdian pada umat dan bangsa) dengan perjuangan kemerdekaan dan kemasyarakatan.” Lebih lanjut, Ketua MWC NU Sidogiri ini menguraikan, “Saat perjuangan kemerdekaan, ulama dan santri turun gunung berjuang. Setelah perjuangan kemerdekaan selesai, ulama seperti KH. Sa’doellah Nawawie Sidogiri kembali ke pesantren. Perjuangan dilanjutkan dengan cara yang lain, yaitu pemberdayaan umat.”
Dijelaskan pula, ulama berjuang dengan penuh keikhlasan, dalam perjuangan tidak berkenan menerima gaji, dan setelah selesai perjuangan kembali ke pesantren.
Kemudian Dr. Tri Chandra Aprianto menganalisa mengapa Pasuruan menjadi daerah strategis dalam perjuangan ulama, di antaranya karena adanya pelabuhan, jalur darat ke arah timur, dan banyaknya ulama-pesantren.
Menurutnya, ulama pesantren memiliki peran besar dalam perjuangan Bangsa. Bahkan, konsep nasionalisme Indonesia dibangun dan dikembangkan oleh ulama pesantren. Hanya saja ada empat kendala dalam mengungkap perjuangan ulama tersebut, yaitu kendala ideologi, kendala politik, kebiasaan para ulama yang tidak kerso (berkenan) diungkap jasanya, dan kurangnya penulisan mengenai sejarah perjuangan ulama.
Acara juga disemarakkan dengan pembacaan puisi “Kiai Abdul Djalil Sidogiri” oleh penyair Gus Haidar Hafeez. Di antara petikannya:
Tiga perempat abad silam
Sungai pondok Sidogiri
Merah darah pendiri republik Indonesia
Airnya seketika mengalir wangi kasturi
Harum tulus niat romo kiyai Abdul Jalil Sidogiri
.
“La haula wala kuwata illa billahil aliyil azim”
Tidak ada kekuatan mengibarkan merah putih
Kecuali kekuatan-Mu ya Allah mengobarkan iman
Bahwa “hubbul waton minal iman”
Pembacaan puisi tentang kiai pejuang dari Sidogiri ini mampu membius dan menggugah ratusan peserta. []
Reporter: Muhyiddin
Editor: Royhan Rikza

