Ruang dan waktu ilmu yang selalu berkembang

Oleh Ahmad Biyadi*)

Dikisahkan ada seorang lelaki yang hidup dalam satu rumah selama satu tahun. Ruang geraknya tak lebih antara halaman rumah dan dapur saja. Baginya, hal terpenting adalah rehat dan makan. Atau paling tidak, memperbaiki atap rumah atau perabot lainnya. Di tahun kedua, dia memiliki beberapa tetangga. Muncul hal baru baginya, yakni: sosial. Hal penting baginya pun berubah – atau setidaknya bertambah. Saat itu mulai penting baginya keamanan, kebersamaan, dan aktivitas sosial. Tahun ketiga, kampungnya berubah menjadi kota kecil. Dan bertambah pula banyak hal penting. Kebutuhan primer yang awalnya hanya rehat dan makan, membesar menjadi kenyamanan dan kemudahan akses. Tahun keempat, lelaki itu memiliki akses untuk melihat seluruh isi dunia. Dan bisa ditebak pula, hal penting baginya pun ikut membesar. Bahkan mereduksi makna penting itu sendiri. Keamanan – yang awalnya hanya dari pencurian – menjadi aman dari potensi bahaya. Boleh jadi hari ini aman, tapi jika ada potensi di tahun-tahun mendatang bahaya muncul, maka situasi itu tetap disebut “tidak aman”.

Begitulah gerak ruang ilmu. Cerita di atas – meski hanya fiktif – memberi gambaran bahwa pengetahuan seseorang juga – sedikit banyak – dipengaruhi oleh ruang (space); jangkauan pikiran seseorang. Jika ditanya padanya suatu pertanyaan: “apa yang paling penting?”, tentu jawabannya akan sangat dipengaruhi oleh jangkauan pikiran ini. Seorang mahasiswa kedokteran misalnya. Tiap hari yang dikaji adalah rumus medik dan beberapa info dampak negatif zat tertentu. Menurutnya yang terpenting adalah bahaya rokok, zat gula berlebih, dan kandungan negatif makanan instan. Tak ada lagi.

Soerang remaja yang terbuai kasmaran. Hari-harinya diisi dengan musik romansa, film anak muda, dan beberapa bacaan novel. Baginya yang terpenting adalah cinta dan cinta. Tak ada lagi. Soal bahaya gula baginya hanya info remeh, bahkan mungkin dianggap hoax. Apalagi bencana kelaparan, monopoli ekonomi, dan kezaliman.

Space tidak hanya berupa ruang fisik. Bukan hanya tempat tinggal, lokasi pergaulan, dan kampus dia belajar. Space juga bisa berupa ruang imaji. Terlebih di era kemudahan akses informasi. Bisa saja orang kampung tok-tok, di desa tak beraspal, dan berlogat medho’, space-nya lebih besar dari lelaki kota yang berdasi. Pun sebaliknya. Space imaji inilah yang justru lebih mempengaruhi. Space imaji adalah poros utama dari segala aktivitas seseorang. Ilmu, pengetahuan, dan informasi yang dikejar pun – bisa jadi – terbawa oleh arus poros ini.

Dalam kajian epistemologi Islam, disebutkan bahwa ilmu bak makanan. Artinya ilmu terstratakan oleh kebutuhan. Makin dibutuhkan, makin penting ilmu itu. Pertanyaannya: apa ukuran butuh itu? Apakah diri sendiri atau sosial atau waktu? Seseorang yang atap rumahnya bocor tetapi masyarakatnya banyak pengangguran dan anaknya yang kecil berpotensi penyakit campak, apa yang paling penting baginya? Jika diri sendiri, maka yang penting adalah soal rumahnya. Jika masyarakat luas, maka kewirausahaan. Jika potensi penyakit bagi anaknya, maka soal konsultasi penyakit campak.
Penulis beberapa kali berdialog dengan mahasiswa. Pernah satu waktu mahasiswa tersebut tekun dalam bahasa Inggris. Saat ditanya mengapa, dia menjawab, “bahasa inggris itu penting di masa yang akan datang.” Kebetulan penulis memiliki informasi kondisi sosial kampung halaman mahasiswa itu. Mayoritas petani yang dimonopoli beberapa oknum. Penulis bertanya, “apakah pengentasan kemiskinan bukan hal penting bagi kamu?” Dia menjawab, “saya tidak tahu itu.” (penulis bingung jawaban itu menunjukkan ketidakpedulian atau tidak paham).

Space seseorang begitu berpengaruh terhadap perannya di kemudian hari. Dan tidak sedikit justru space tersebut mengkerdilkan peran. Penulis teringat dawuh KH. Sahal Mahfudz, “Tugas kita adalah membaca tanda-tanda zaman lalu menyiapkan antisipasinya.” Artinya untuk berperan di sosial diperlukan pembacaan tentang sosial itu sendiri, bahkan lintas waktu. Pembacaan sosial bukan hanya pada yang sedang terjadi, tapi juga soal tanda-tanda masa depan. Kebutuhan yang masih berupa potensi, juga perlu dilibatkan di dalamnya. Maka saat itulah, peran benar-benar berguna bagi sosial itu, sekarang dan di masa mendatang.

Mungkin soal space inilah yang terkandung dalam anjuran al-Quran untuk berjalan di muka bumi lalu merenungkannya. Dengan memperluas space diri, jangkauan menjadi lebih besar, dan peran yang sebenarnya dapat dilakukan. Wallahu a’lam.[]

Penulis adalah anggota HMASS asal Malang. Kini mengabdi di Institut Agama Islam (IAI) A- Qolam Gondanglegi, Malang.

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan