epistimologi

epistimologi

Mengapa Kebodohan Harus Ditinggalkan?

Dalam kitab Sirajul Muluk disebutkan sebuah maqolah penting:

ما عتق من الذم من ملكه الجهل

“Tidak akan bebas dari celaan orang yang dikuasai oleh kebodohan. (Ath-Thurthusyi, Sirojul Mulk 202)

Berikut penjelasannya:

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat bagaimana seseorang kehilangan kehormatan atau jatuh dalam kehinaan karena sikap dan ucapannya yang tak bijak. Kalimat bijak di atas menjelaskan bahwa kebodohan adalah sumber utama kehinaan.

Kebodohan Mengundang Celaan

Orang yang hidup dalam kebodohan tidak hanya tidak tahu, tetapi juga tidak sadar bahwa dirinya tidak tahu. Ia bisa berbicara sembarangan, bertindak gegabah, dan membuat keputusan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Akibatnya, dia menjadi bahan olok-olok, tidak dipercaya, dan kehilangan martabat di mata masyarakat.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۭ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra:36)

Dalam ayat di atas Allah melarang mengikuti sesuatu tanpa ilmu karena akan membawa kepada kesesatan dan kehinaan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah memberi peringatan:

مَنْ أَفْتَىٰ بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَعَلَيْهِ إِثْمُهُ، وَمَنْ أَشَارَ عَلَىٰ أَخِيهِ بِأَمْرٍ يَعْلَمُ أَنَّ الرُّشْدَ فِي غَيْرِهِ، فَقَدْ خَانَهُ.”

“Barang siapa memberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya atas dirinya. Dan siapa memberi saran kepada saudaranya dengan sesuatu yang dia tahu tidak tepat, maka ia telah mengkhianatinya.” (HR. Abu Dawud, no. 3657)

Hadis ini menjelaskan pada kita untuk tidak bertindak dengan tanpa dasar ilmu, karena hal tersebut merupakan sumber malapetaka dan kesesatan.

Kebodohan Bukan Aib, Tetapi Membiarkannya Adalah Kesalahan

Dalam literatur Islam dan kebodohan bukan sesuatu yang hina, karena manusia dilahirkan dengan keadaan tidak tahu apa-apa. Allah ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيئًا… الاية

Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun (QS. An-Nahl:78)

Namun jika hal itu dilanjutkan dan tidak direspon dengan keinginan untuk belajar dan tahu, maka hal ini adalah sebuah kesalahan.

Nabi bersabda:
طلبُ العلمِ فريضةٌ على كلِّ مسلمٍ
“Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang islam” (HR. Al-Baihaqi)

Dari sabda Nabi di atas kita bisa memahami bahwa ilmu wajib dicari, khususnya ilmu yang berkaitan dengan sahnya ibadah, dan sudah tentu meninggalnya adalah perbuatan dosa.

Ilmu: Jalan Menuju Kemuliaan

Satu-satunya jalan untuk membebaskan diri dari kebodohan adalah dengan ilmu. Ilmu menjadikan seseorang bijak dalam berpikir, santun dalam berbicara, dan terarah dalam bertindak. Dengan ilmu, seseorang akan tahu kapan harus diam, kapan harus berbicara, dan bagaimana bersikap di hadapan orang lain.

Rasulullah ﷺ bersabda:

من سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهّل الله له به طريقاً إلى الجنة

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no 2699)

Hadis ini juga menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya menyelamatkan di dunia, tetapi juga menjadi jalan keselamatan di akhirat.

Penutup: Lepaskan Belenggu Kebodohan ! 

Selama kebodohan masih menguasai seseorang, selama itu pula ia akan rentan terhadap kehinaan dan celaan. Maka, belajarlah, meski sedikit demi sedikit. Gantilah kebodohan dengan ilmu, dan gantilah celaan dengan penghormatan. Sebab tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi selain menjadi pribadi yang berilmu dan berakhlak mulia.

148 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan