72849738-3614-45f6-af60-f4022318ca07_11zon

72849738-3614-45f6-af60-f4022318ca07_11zon

Mengenang Syekh Ahmad Nahrawi, Ulama Indonesia Yang Terkenal di Mesir

“Buku ini mensuguhkan sosok Nahwawi sebagai suami, Nahrawi sebagai seorang ayah. Menulisnya disertai kenangan dan genangan air mata serta canda tawanya berkelebat di pelupuk mata. Secara kebetulan diluncurkan hari ini, bulan Syawal Baba meninggalnya pada 21 Syawal” ungkap Du’aa Ahmad Nahrawi, S.E., S.Pd., M,M. mengawali presentasinya dalam acara bedah buku Syekh Ahmad Nahrawi Jejak Kedidupan Ulama Betawi Dalam Kenangan Putri Tercinta, yang digelar di Rumah Budaya Ar-Rab’ Distrik al-Gamaliyyah, Kairo, Mesir.

Lebih lanjut, dalam acara yang diselenggarakan oleh Penerbit Mujawirin dan KPJ (Keluarga Pelajar Jakarta) Mesir, Ustadzah Du’aa sapaanya akrabnya menceritakan meskipun sangat memanjakan anak-anaknya, ia tetap tegas. Cukup dengan tatapan mata dan ekspresi wajah, langsung menyadari apa kesahalan yang telah saya perbuat.

Ada sebuah Villa besar di depan rumah. Tapi saya lebih suka menyebutnya dengan rumah hantu, karena bangunan sebesar itu tanpak tidak penghuni; sunyi dan sepi. Di tamannya ada strobery yang sangat ranum kemerahan. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menetiknya. Membawanya pulang ke rumah. Saya basuh dengan hegesnis, diletakkan dipiring dengan penuh kegirangan. Niat sekali saya menikmatinya. Mendekat di samping Baba yang ketika itu sedang membaca buku di Balkon rumah.

“Dapat dari mana itu?’ tegur Baba. ‘Dari rumah kosong di depan,’ jawabku.  ‘Kamu telah mencuri, Ayo kembalikan,’ nada serius. Dengan terpaksa aku pun menuruni tangga rumahku yang berada di lantai 7, ke rumah hantu itu. Mengetuknya berkali-kali. Tidak ada jawabannya. Aku menoleh ke atas. Baba mengawasiku dari atas balkon. Aku melampaikan tangan rumahnya kosong. Tangan Baba malah gini-gini juga sembari isarat agar aku terus mengetuk. Gerbang itupun terbuka. Muncul sosok yang berjubah putih. Aku kanget. Jatuhlah stroberi itu berhamburan. aku lari naik ke rumah. ‘Kembali lagi, kamu belum minta maaf’. Hardik Baba dengan penuh ketegasan. Namun aku yang keras kepada ketika, ketika itu, aku  tidak mau. Karena aku sudah mengembalikan buahnya, aku gak sapa sampai 4 hari”

Para audien bener-bener terkesima dengan paparan sosok putri kedua dari Sang Doktor dengan 10 gelar kesarjanaan dalam dalam menanamkan ilmu kepada keluarganya.

Jika saya baca buku di sela-sela itu aku bertanya pada Baba. Beliau langsung mengarahkan untuk mencari jawabannya di buku lain. Menunjukkan bukunya ada di rak mana? Judul? dan warna bukunya?.

“Sampai aku timpali, apakah Pak Kiai gak tau jawabannya,’ ‘Ya tahulah, aku sedang mengajarimu ya Duk Duk,” cerita Ustadzah Du’aa yang sering mencandai sosok Ayah dengan panggilan Pak Kiai. dan Ia biasa dipainggil Ya Duduk. Sebuah penggilan yang mengambungkan Kalcer Timur Tengah dan Indonesia. Karena ia sekeluarga dibesarkan di 3 Negara; Mesir, Saudi dan Indonesia.

Cara bercerita ustadzah Du’aa begitu lugas. Nyaris kekinian banget Bahasa Indonesainya walau ia lama kembali ke Mesir. Hidup bersama keluarga dari ibunya sepeninggal Ayahnya, Namun Khas Indonesia dan budayanya masih tersirat dalam penutur katanya.

“Saat kecil aku tidak mengerti apa yang dilakukan Pak Kiai. Tapi setelah dewasa, aku  membaca buku parenting. Ternyata itu cara mendidik anak yang baik. Membaca buku memang kebiasan baba sejak Mahasiswa. Aku juga membiasankan itu. Setiap saya buka sosmed. Aku baca dulu sampai tuntas. Tidak langsung shere sana sini. Saring sebelum sharing.”

Dari Mahmud, Anak Yatim yang diasuh Pak Kiai, Yang saya lampirkan di dalam buku ini, Ia sekarang sudah tua. Sudah berumur 70 tahunan, menceritakan Baba saat masih Mahasiswa.

Mahmud disuruh beli kusari, kacang, dan makroni. Disuguhkan pada teman-temanya Baba, biasanya berlapan. Mereka baca buku dan berdiskusi terkait pelajaran di kampus.

“Karena beasiswanya dicabut. Baba kuliah aktif organisasi dan bekerja untuk biaya hidup. Jadi mungkin jarang masuk kulaih. Tapi Baba memanggil temen-temenya ke rumah. Mereka diskusi. Mungkin si A bisa menyerap pengetahuan Syaikhnya di kampus 20 persen, Si B 20 Persen, Si C dan D misalnya. Mereka diskusi. Dirangkumkan bersama Baba menjadi pengetahuan yang utuh.” Jelas Ustadz Duaa, mengambarkan cerita anak-anak asuh Pak Kiai yang menjadi saksi sejarah kehidupan saat masih tinggal di ruwaq Al Azhar.

Di acara bedah Buku yang juga dihadiri oleh Dr. Abdul Muta’ali, Atdikbud beserta rombongan KBRI Cairo, Presiden PPMI dan Gebenur Kekeluargaan Mahasiswa Mesir, Peraih beasiswa East Wets Center Huwaii ini, dengan penuh semangat mencerikan keseharian ayahnya yang ia lihat. Pagi diawali membaca Al Quran. Jika di luar lebih banyak diam. Namun saat ditanya Ilmu, beliau langsung memulai diskusi panjang lebar.

“Sampai-sampai jika Mamaku cemburu. Karena baca buku meluluh. Mama beli burung, dan dilepaskan ke Baba. Kan Baba takut ke Burung. Akhirnya Baba menutup bukunya dan Istirahat bersama Mama,” celotehnya dengan penuh semangat mengisahkan kedua orang tuanya. Yang sangat harmonis. Walau Mamaku berkebangsaan Mesir. Kehidupannya Romanis. Mau dibawa Baba ke Saudi dan berakhir pulang ke Indonesia, hingga Baba wafat di Jakarta pada 7 Februari 1999 M. Walau kembali lagi ke Mesir, Mama tidak mau menikah lagi karena ia tidak pernah bisa move on dari cintanya Baba.

“Bagi Penerbit Mujawirin, tiada lain, tiada bukan, ini adalah upaya kita bersama untuk menghubungkan semangat dan nilai nilai yang diwariskan oleh Insan yang hidupnya berhias ilmu dan kebajikan. Dengan para pemuda pemudi pelajar di bumi perjuangan.” Ungkap Ustadz Muhid Rahmad dalam sambutan atas nama penerbit sembari mengharap kepada Para Masisir agar sosok Dr. Nahrawi, sebagai roll model kehidupan berkuliah dan gigih belajar di tanah para ambiya’ ini.

Penting untuk diketahui Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam adalah Ulama Indonesia yang namanya cukup terkenal di Mesir. Kelahiran Jakarta, 30 Agustus 1930 dan Penerjemah Ir. Sukarno saat mengadakan pertemuan dengan Presiden Mesir,  Gamal Abdel Naser. Bahkan salah karyanya yang berjudul Al-Imam As-Syafi’I Fi Madhabi al-Qodim wa al-Jadid dijadikan referensi Oleh Profesol Dr. Ali Gumah dalam mengarang kitab Madhal ila Dirasah Madhab Syafi’iyah.

 

Penulis: Muh Kurdi Arifin, Mahasiswa Al Azhar, Fakultas Usuluddin

610 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan