IMG-20230702-WA0046

IMG-20230702-WA0046

Oleh: Abdul Muid*

Sejak hari Tarwiyah (Tanggal 8 Dzul Hijjah Red), suara yang terdengar di Ba’alah–ba’alah (toko kelontong) Mesir adalah suara Talbiyah. Orang-orang Mesir ikut menyemarakkan hari besar umat Islam ini. Beberapa penduduk ada yang menyediakan Musâ’adah (semacam takjil gratis) untuk masyarakat dan mahasiswa yang berpuasa waktu itu.

Kamis sore, 14 Dzul Qa’dah sekitar jam 16:20 CLT, saya berada di Masjid al-Azhar melakukan rutinitas harian. Tiba-tiba ada banyak ibu-ibu yang membagikan Musâ’adah. Musâ’adah adalah istilah untuk makanan dan minuman yang diberikan oleh orang Mesir saat hari-hari besar Islam khususnya di bulan puasa. Saya juga termasuk orang yang menerima musâ’adah itu, “Dzah, yâ shadîq” (ini, wahai kawan) ujar ibu itu sembari memberikan sekotak makanan. Di sana juga terdapat bapak-bapak yang berkeliling membagikan kurma dan air. Mereka sangat antusias membagikannya.

Setelah jam menunjukkan 17:20 CLT, saya pun pulang dari Masjid al-Azhar. Di kantor sekertariat Pengurus Cabang Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (PC HMASS) Mesir, sebagian anggota sudah ada yang menyiapkan hidangan untuk berbuka bersama.

Ketika Maghrib tiba, suara takbir mulai bergema dari masjid-masjid. Para Mahasiswa membaca takbir di kekeluargaan mereka masing-masing. Ada yang berkumpul di satu tempat, ada juga yang melakukan takbir keliling. Perbedaannya, di sini kita tidak menemukan pernak-pernik kembang api, juga tidak mendengar suara takbir yang diiringi irama bedug, seperti yang biasa disaksikan di Indonesia.

Pukul 04:35 CLT, para anggota PC HMASS Mesir sudah mulai bergegas menuju ke Masjid. Tujuan kita kali ini adalah di Masjid al-Hakim Biamrillah yang berada di Bâbul-Futûh. Awalnya, kita berkumpul di samping Mustasyfâ Hussein, setelah semuanya berkumpul, kita berjalan 500 meter menuju pertigaan Barakat.

Dari sana, kita naik Tramco (alat tranpostasi umum di Mesir) menuju Bâbul-Futûh. Babul-Futûh (gerbang kemenangan), merupakan nama salah satu gerbang kota di Cairo yang dibangun oleh Jauhar as-Siqli pada masa awal pembangunan kota Cairo. Sekarang sudah menjadi situs sejarah yang lekat dengan gaya arsitektur zaman Dinasti Fathimiyah.

Akhirnya, kita masuk ke masjid tersebut. Di sana kita bisa melihat orang-orang dari manca negara. Orang-orang Asia, Afrika Pakistan, Bangladesh dan orang-orang arab bersatu di masjid itu. Kita membaca takbir, merayakan Iduladha bersama. Suasana teduh Iduladha mulai menyelimuti seisi ruangan Masjid al-Hakim Biamrillah.

Setelah shalat Ied selesai, para anggota PC HMASS Mesir berkumpul, bercengkrama dan saling meminta maaf. Tidak lupa, kita abadikan momen itu. Indah rasanya, meski jauh dari keluarga. Mereka adalah keluarga terdekat saya saat ini.

Setelah itu, kita pun bergegas ke Math’am (rumah makan) Baba Abduh yang terletak di seberang masjid. Di sana kita bercengkrama sembari menikmati hidangan chiken yang disajikan. Kita juga bisa melihat lalu-lalang orang-orang Mesir dan orang-orang dari manca negara karena lokasinya yang outdor. Candaan-candaan khas santri pun ikut memecah suasana pagi itu.

mesir

Tentang masjid al-Hakim bi amrillah
Masjid ini dibangun oleh khalifah VI Dinasti Fathimiyah: Al-Aziz Billah pada tahun 381 H / 990 M dan diselesaikan oleh putranya; al-Hakim Biamrillah pada tahun 393 H / 1002 M. Oleh karenanya, nama masjid ini lantas dinisbatkan pada khalifah al-Hakim Biamrillah. Saat era kekhalifahan Dinasti Fathimiyah, masjid ini digunakan sebagai pusat keilmuan kedua setelah masjid al-Azhar. Kajian-kajian keislaman juga berpusat di sini.

Para sejarawan menyebut, arsitektur yang ada di masjid ini adalah perpaduan antara masjid al-Azhar dan masjid Ahmad bin Thulun. Pelatarannya berbentuk persegi panjang yang dikelilingi oleh rangkaian portico (serambi bertiang). Di sekelilingnya terdapat empat ruwaq (ruangan) dengan atap yang terbuat dari kayu dan di tengah halaman, terdapat air mancur yang airnya masih mengalir hingga saat ini.

Pada bagian pintu utama masjid terdapat berbagai aneka bentuk ornamen yang terbuat dari batu. Pintu utama masjid dengan desain seperti ini adalah yang pertama dibuat pada pembangunan awal kota Cairo oleh Dinasti Fathimiyah. Sejarawan menyebutnya Madkhal tidzkari (gerbang monumen). Pintu utama masjid dengan desain seperti ini adalah yang pertama dibuat pada saat itu.

*) Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Mantan Anggota Litbang Annajah Center Sidogiri (ACS)

942 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan