Kurban2

Oleh Azka Nur Afief*)
Alhamdulillah, Hari raya Iduladha pada tahun ini merupakan Hari Raya Iduladha yang ketiga kalinya yang kami rasakan di Hadramaut, Yaman. Seperti biasanya, para masyayikh dan Sayyidil Walid Syaikh Muhammad bin Ali Ba’atiyah menganjurkan kami, para santri untuk berpuasa sembilan hari di awal bulan Dzulhijjah, yakni runtutan puasa yang diakhiri dengan puasa Arafah, yang mana pada hari itu merupakan waktu terbaik dan dikabulkannya doa. Barang siapa yang puasa di hari tersebut maka dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang akan diampuni oleh Allah. Hari Arafah adalah hari paling agung, dimana Allah mengampuni dosa-dosa kaum muslimin di seluruh dunia, dan Allah mencurahkan segala rahmat pada hari tersebut.

Alhamdulillah, sebelum berakhirnya Hari Arafah, setelah shalat Ashar sekitar jam 16.00 KSA, terdapat acara Tasyabbuh bil Arafah yang merupakan adat para masyarakat Hadramaut, yaitu acara kumpul bareng untuk membaca dzikir dan doa bersama dihari itu, dan diakhiri dengan acara buka puasa bersama para masyayikh dan ulama Hadramaut.

Malam Hari Raya seperti halnya malam Iduladha pada umumnya, dzikir dan takbir terdengar dimana-mana, dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu masjid ke masjid lain, semuanya terlihat indah dan agung, apalagi setelah Isya terdapat takbir keliling dengan membawa obor api disertai tabuhan terbang dan hajir marawis mengelilingi asrama Mahasiswa dan sekitarnya, membuat suasana semakin menarik.

Setelah shalat Subuh para santri sudah mulai bersiap siap untuk menghadiri shalat Iduladha, shalat di mulai sekitar jam 6.00 KSA bersama para masyayikh, para habaib dan masyarakat sekitar, kemudian seusai shalat dilanjutkan dengan musofahah antara para maha siswa, habaib, dan masyayikh khususnya dengan Syaikh Muhammad bin Ali Ba’atiyah, selaku rektor dan orang tua kami di Universitas Imam Syafi’i.

Setelah selesai acara bersama para masyayikh dan habaib, kami berkumpul bersama teman teman, untuk saling memaafkan satu sama lain, mengabadikan momen Idul adha bersama, meskipun semuanya jauh dari orang tua, senang rasanya, saling memaafkan, bercanda tawa dan bertukar pikiran dan pengalaman bersama mereka, mereka semua adalah keluarga kami disini.

Meskipun jauh dari kampung halaman, para santri tetap tidak lupa dengan masakan Indonesia, sebagian dari mereka mempunyai inspirasi untuk memasak masakan Indonesia yang akan dibagikan pada semua santri di sana, mereka memasak ayam opor dan ketupat yang dilengkapi, kentang, bawang goreng dan sambal has Indonesia. Hal inilah yang membuat rasa rindu pada kampung halaman sedikit terobati. Tak kalah seru juga ada lomba tusuk sate yang diikuti oleh perwakilan Mahasiswa di setiap mustawa (kelas) masing-masing, sehingga membuat rasa Ukhuwah atau persaudaraan diantara maha siswa semakin erat.

Acara diakhiri dengan makan bersama daging qurban yang dibagikan oleh masyarakat sekitar pada hari setelah Iduladha, persis dengan yang disebutkan dalam hadis: “hari Tasyriq adalah hari makan, minum dan berzikir pada Allah” [HR: Muslim].

*) Mahasiswa Universitas Imam Syafi’i & Anggota HMASS Yaman

253 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan