IMG-20220814-WA0021

IMG-20220814-WA0022

Bondowoso, HMASS.CO 

Ahad (16/1/1444 H) Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Santri Sidogiri (PW IASS) Bondowoso kembali mengadakan Ngaji Kitab Sidogiri (NKS). Kali ini bertempat di PK Tenggarang. Tepatnya di PP. Salafiyah Syafi’iyah, Bataan, Tenggarang, Bondowoso.

Hadir sebagai qori’ KH. Hasbullah Mun’im. Di dampingi oleh Ust. Qusyairi Ismail sebagai pimpinan halaqoh. Kegiatan ini diadakan di setiap bulan dan diikuti oleh alumni, wali santri dan simpatisan dengan memakai songkok dan baju putih khas Sidogiri.

Seperti biasanya, kegiatan ini dibuka dengan hataman Al-Qur’an, lalu tahlil. Setelah itu barulah ngaji kitab Fathul Mu’in dan Ihya’ Ulumiddin dimulai. Biasanya, juga diadakan sholat goib untuk alumni yang baru saja meninggal. Namun, tidak ada laporan dari pengurus komisariat adanya alumni yang meninggal dunia, sehingga sholat ghoib inipun tidak dilaksanakan.

Setelah ngaji kitab selesai, KH. Hasbullah memberikan waktu kepada pimpinan halaqoh. Sebelum halaqoh dimulai, beliau berharap agar peserta yang hadir benar-benar antusias mengikuti halakoh ini. Karena halakoh ini merupakan titah langsung dari Sekjen Majlis Keluarga PP. Sidogiri, Mas d. Nawawi Sa’doellah.

Beliau juga mendoakan Mas. d. Nawawi Sadoellah agar senantiasa diberikan kesehatan agar terus bisa membimbing kita. Beliau bahkan sempat menangis saat mendoakan Mas. d. Nawawi, seraya dawuh, “Mas Nawawi kaentoh ngudeh tapeh seppo” (Mas d. Nawawi Sadeollah [Usianya) muda, tapi (Ilmunya) sepuh). Keadaan ini membuat seluruh hadirin terharu.

Pada sesi halaqoh, ada peserta yang bertanya tentang zakat tanaman. Apakah ketika panen dikurangi biaya pengeluaran terlebih dahulu lalu sisanya jika mencapai satu nishob baru zakatnya dikeluarkan, atau ketika panen, jika mencapai satu nishob, langsung dikeluarkan zakatnya tanpa dikurangi biaya pengeluaran terlebih dahulu? Ternyata hasil jawaban dari peserta bahwa zakatnya langsung dikeluarkan setelah panen, jika memang sudah mencapai satu nishob, tanpa dikurangi biaya pengeluaran terlebih dahulu. Artinya, yang dikeluarkan zakatnya itu adalah hasil panen secara utuh, bukan hasil panen bersih setelah dikurangi biaya pengeluaran.

Ibarot yang digunakan adalah keterangan yang ada dalam kitab Fathul Mu’in, dilengkapi dengan Kitab I’anatu ath-Thalibin bahwa biaya panen dan menggiling itu adalah beban pemilik tanaman, sehingga hasil panen tersebut tidak boleh dikurangi biaya pengeluaran terlebih dahulu sebelum zakatnya ditunaikan.

Setelah halaqoh usai, acara NKS ditutup dengan pembacaan doa oleh KH. Hasbullah Mun’im. Diakhir doa, Beliau meminta seluruh hadirin bersama-sama membaca Kaffarutol Majlis dengan tasbih: Subhana robbika robbil ‘izzati ‘amma yasifun wa salamun ‘alal mursalin wal hamdulillahi rabbil ‘alamin sebanyak tiga kali. Dawuh Beliau ini merupakan kebiasaan Hadrotusy-Syaikh KH. Hasani Nawawi.

 

Kontributor: Lutfi Abdullah Tsani

Editor: Subadar

901 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan