IMG-20210821-WA0050

HMASS Mesir-Maraknya penyebaran pandemi Covid-19 tak membuat layanan Bibliotheca Alexandrina terhenti. Hanya saja situs yang lebih dikenal dikenal dengan sebutan Perpustakaan Alexandria ini, memberlakukan protokol kesehatan dan pembatasan jumlah pengunjung dengan selektif, serta memberi rambu pembatas pada beberapa tempat.
Hal ini, sebagaimana yang telah disampiakan oleh Moh. Ghufron, Kepala Divisi Organisasi dan Kederisasi, saat menahkodai segenap pengurus dan anggota PCI HMASS Mesir dalam rangka menjalankan program berupa rihlah maktabah pada Senin (09/08).
“Jika di tahun sebelumnya rihlah maktabah hanya sebatas di Kairo, maka di tahun ini kita agendakan di Alexandria, sekalian mengenalkan beberapa daerah Mesir pada adek-adek (Anggota HAMSS Mesir kedatangan 2020-2021) yang baru datang”, paparnya pada saat rapat persiapan sebulan sebelumnya.
Perpustakaan Alexandria merupakan perpustakaan pertama di muka bumi dan menjadi penyumbang terbesar manuskrip-manuskrip ilmu pengetahuan di dunia. Perpustakaan ini dibangun oleh Kaisar Alexander The Greet (356-323 SM). Ia adalah seorang raja yang juga murid dari Aristoteles (384-322 SM) seorang Filosof Yunani. Atas dasar menunjang hobinya, Alexander membangun perpustakaan guna menampung puluhan ribu manuskrip filsafat dan kebudayaan.
“Bangunan ini, memang bukanlah sisa bangunan dari sebelum Masehi itu. Namun sejarah panjang telah membuat cendikiawan dunia menyepakati pembangunan kembali perpustakaan yang sangat melegenda ini dan ide ini dicetuskan oleh Universitas Alexandria pada 1974 yang lalu,” ungkap Muh. Kurdi Arifin Ketua HMASS Mesir pada kesempatan tersebut.
Menurut pria asal Malang yang dulu pernah berkhidmah di Perpustakaan Sidogiri, dari beberapa referensi yang ia baca, badan komite yang dibentuk oleh Universitas Alexandria memilih sebuah lokasi untuk perpustakaan baru, antara kampus dan laut, dekat dengan perpustakaan kuno dulu berdiri.
Ide untuk menciptakan kembali perpustakaan kuno tersebut diterima dengan antusias oleh berbagai pihak. Bahkan UNESCO cepat tanggap terhadap ide ini, memberikan daerah Laut Tengah dengan pusat budaya dan sains yang maju.
Sebuah kompetisi arsitektur, yang diatur oleh UNESCO pada 1988 untuk memilih desain yang layak untuk tempat tersebut dan warisannya, dimenangkan oleh perusahaan Norwegia Snohetta dari lebih dari 1.400 masukan lainnya.
Pada kunjungan kali ini, HMASS Mesir tidak bisa banyak mengakses koleksi Perpustakaan Alexandria dikarena beberapa koleksi terpasang garis rambu-rambu yang tidak boleh dilewati semasa pandemi Covid-19.
“Ya kita jauh-jauh dari Kairo, ternyata sampai ke sini tidak bisa membaca koleksi dengan seksama. Ya cukupkan dengan melihat-lihat musium yang ada di bawah tanah,” cetus Rio Zarkasyi yang membantu kelancaran program Divisi Organisasi dan Kaderisasi.
Walau belum puas memanjakan hasrat intelektual dalam berkunjung ke perpustakaan. Dari kunjungan ini, masih bisa disaksikan berbagai benda dan prasasti yang menunjukkan nilai sejarah dari perpustakaan ini. Mulai dari benda benda arkeologi, senjata, pendang dari para penguasa Mesir. Yang terklasifikasi menjadi beberapa tempat. Seperti musium khusus peninggalan Presiden Mesir Anwar Sadad, sosok pahlawan Mesir yang memimpin perang melawan Israil.
Di sini juga tersimpan mumi laki-laki dan perempuan yang berumur ratusan tahun dan beberapa manuskrip kuno yang tertulis pada lempengan papirus. Pun di sini masih tersimpan mesin ketik dan alat percetakan yang sangat tua. Hanya saja karena semua itu berada dalam garis pembatas sehingga beberapa koleksi tidak dapat kita lihat dari jarak dekat. []
Reporter: M. Anim Bihi Kamaluddin
Editor: M Muhsin Bahri

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan