Ibu, Darahku Darahmu
Ibu,
engkau adalah mataku
yang menunjukkan langit biru
dan bumi keabadianku
Ibu,
ibu tak pernah nyeri
mengajariku tentang waktu abadi
hingga kumengerti
hendak apa yang kulewati
Ibu,
seandainya kuberkuasa
menyatakan Tuhan selain Dia
maka ibulah kusebut selamanya
karena tiada yang lebih setia
kecuali ibu nan perkasa
Daging yang membalut tulang
adalah keringat perjuanganmu
paru-paru yang bernapas tanpa batas
adalah wujud kesederhanaanmu
Ibu,
inilah aku anakmu
yang melangkah denganmu
sebab darahku darahmu
Semarang, 2013
Sedang Apa
Sedang bertanya
atau menjawab pertanyaan
dari mana berasal
Kita sedang menuju
atau mencabuli ruh dengan ambisi
yang dibungkus plastik agama
Kita sedang mati
atau hidup
di saat nyata namun fana
Mati mengabaikan hidup
hidup mengartikan mati
Kutub, 2014
Antara Kantuk dan Kebun Cinta
Rasa kantuk menari-nari di pelupuk mata
saatnya jua melawan segerombolan nafsu
di laut perih yang mengamuk pandang
tiba-tiba menerjang jantung perahu pemburu
menyisakan luka tentang siapa dan apa
menanyakan kabar: sedang apa gerangan?
terasa sesak dan kerontang ini dada
menanggung segunung angan
namun apalah arti dalam genggaman pecinta
bahwa potret lamunan hanyalah secuil tai kuping
yang menggigil di sudut masa
dan yang tegas adalah mekar nurani
dalam kebun-kebun cinta yang rimbun
Krapyak, 2016
Gemuruh Dada
Gemuruh
pastikan: lebih baik
kembali pada diri
sehingga
aku yang tanah
aku yang api
aku yang angin
aku yang air
menjadi aku yang manusia
Kutub, 2014
Jelalatan
Mata jelalatan menerkam sukma
menyusun gelombang dada samudera
geliat mendekte bangsa mengunyah asa
menyumbat zamzam makna semata
lembut bukan untuk menusuk jantung
pura-pura adalah bangkai yang pesing
dan menenggelamkan segala deru
hingga laku sungguh tidak bermutu
Mafaza, 2017
*) Penulis lahir dari rahim Madura, sekarang selaku ketua HMASS Jogja sekaligus direktur LISAFA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

