Oleh: M. Albilaluddin al-Banjari*
Dalam dua hari kemaren telah wafat santri banat 2 Sidogiri, dan juga santri banin. Yang banat meninggal di pondok, yang banin meninggal di rumahnya setelah di rujuk pulang dari balai pengobatan
Ya itulah kematian, bahkan ada cerita yang santri banat itu telah di rujuk untuk pulang, sudah sampai di bandara surabaya, tapi ketika pesawat mau berangkat sang anak menghilang, sampai pesawat berangkat belum ketemu, akhirnya balik lagi ke pondok dan meninggal di pondok.
Itulah lika-liku kehidupan dan kematian, kita tidak pernah tau kapan, tidak pernah tahu dimana, dan tidak pernah tau seperti apa nanti kematian yang akan kita alami. Itu sesuai dengan apa yang Allah sampein dalam Qur’an.
Ya, benar kita tidak pernah tau, tapi kita tahu dan bisa mempersiapkan, sesuai dengan apa yang di tulis Al-Ghazali dalam kitab Ihaya’nya, beliau menuturkan “Kematian yang akan menimpa seseorang itu tergantung dengan apa yang biasa dia lakukan semasa hidupnya”. Jika kita terbiasa hidup dengan kehidupan yang baik, maka kita juga insyaAllah akan meninggal dalam keadaan baik begitu juga sebaliknya.
Bahkan Rasul memerintahkan kepada kita untuk hidup sekehendak kita, hidup semau kita, tapi selain itu juga Rasul memberikan peringatan dengan “Maka sungguh kamu pasti akan mati”. Hiduplah sekehendakmu, tapi kamu harus tahu dan harus sadar bahwa kamu pasti akan mati.
Dalam hadits yang lain tentang pergunakanlah lima hal dengan baik sebelum datang lima hal yang lain, yang salah satunya adalah “Pergunakan kehidupanmu dengan baik, sebelum datangnya kematian”. Ya kematian itu pasti.
Dalam kalam arab di sampaikan bahwa “Dunia adalah tempat bercocok tanam, tempat berladang untuk persiapan nanti di akherat. Tempat untuk bercocok tanam, tempat untuk mengumpulkan amal baik, mengumpulkan perbuatan baik, pekerjaan sunnah, melakukan kewajiban, yang kelak setelah kita meninggal akan kita panen semua itu di akherat.
Sungguh indahnya perumpaan yang Rasulullah sampaikan. Artinya bagi yang tidak pernah nanem biji kebaikan, bagi yang tidak pernah bercocok tanam maka kelak dia tidak akan pernah bisa untuk menikmati hasil.
Maka cukuplah kematian dan akherat, sebagai pengingat, sebagai pitutur sebagai arahan hidup untuk kita. Sehingga dalam menjalani roda kehidupan ini kita tahu dan kita paham dengan betul, kemana kita kelak akan kembali dan kemana kita akan di kumpulkan Allah swt kelak di akherat.
Semoga kita semua menjadi orang yang ingat akan kematian, lalu ingat akan akherat, dan terus berbuat sesuai dengan apa yang di ajarkan dan dianjurkan oleh Rasulllah saw.
*Penulis adalah pimpinan redaksi hmass.co bisa di temui di bilalgrup.blogspot.com

