jalan-golongan-selamat

Rohmatullah Adny Asymuni*

Hidup di era digital dan globalisasi yang tak mampu dibendung dan dicegah dengan beragam cara. Globalisasi yang selalu ada di depan mata, memberikan dan menawarkan segala virus ke tubuh umat manusia, baik berupa virus positif maupun negatif. Globalisasi keilmuan yang disebarkan lewat digital baik berupa internet yang diakses melalui HP dan komputer, maupun perangkat alat elektronik lainnya yang tak bisa terlepas dari kehidupan umat manusia abad 21 ini.

Sebagai umat Islam yang menjadi ikon khairul ummah (umat terbaik) yang telah disematkan Allah subhanahu wata’ala pada umat Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran: 110 yang artinya: Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sudah saatnya kita tidak melarikan diri dari dunia digital, apalagi alergi memusuhinya. Sebab di luar sana, mereka telah menyerang umat Islam bukan dengan perang dan pedang, melainkan dengan menyuguhkan transformasi keilmuan dan perang pemikiran via internet dan sebagainya. Ditambah lagi, kaum muda, kaum terpelajar, dan mahasiswa yang menimba ilmu dengan cara instan kepada Mbah Google dan perangkat lunak lainnya, menjadi sebuah tantangan besar umat abad 21 ini agar mampu menjawab dan memberikan solusi tepat dalam menyelesaikan dan menyudahi problematika kekinian ini.

Sudah saatnya kita bangkit, membaca, mengkaji, menulis dan mengamalkan apa yang telah kita dapati dan kita pelajari dari guru-guru kita agar senantiasa kita selalu berada di jalan pemahaman yang benar, pemahaman yang diridhoi Allah subhanahu wata’ala dan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam, yaitu paham mayoritas, yang tak lain adalah paham Ahlusssunnah Waljamaah.

Paham mayoritas atau dalam bahasa hadis disebut dengan “as-sawadul a’dzam” yang notabene berpaham Aswaja (Ahlussunah waljamaah) adalah paham yang menjadikan umat manusia tak akan pernah menyimpang dan sesat dan tersesatkan. Sebagai umat Nabi Muhammad yang tak akan berkumpul dalam kesesatan, sudah barang tentu wajib mengikuti paham Aswaja, paham mayoritas. Hal demikian telah ditegaskan oleh Baginda Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam dalam salah satu hadisnya yang dari Ibnu Abbas: La Yajma’u Ummati ‘Ala ad-dlalalati Abadan” Ummatku tak akan pernah berkumpul atas kesesatan selamanya. Bahkan hal senada dijelaskan dalam hadis riwayat Imam at-Tirmidzi dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah shollallahu alaihi sasallam bersabda: Allah tidak akan mengumpulkan umatku atas kesesatan selamanya. Pertolongan Allah selalu atas golongan terbanyak. Ikutilah golongan terbesar, karena orang yang mengucilkan diri, berarti mengucilkan dirinya ke neraka.

Lantas bagaimanakah paham mayoritas yang tidak akan pernah sesat dan menyesatkan?. Tak lain, paham golongan mayoritas sudah barang tentu berpaham Ahlussunnah waljamaah. Bagaimanakah ciri untuk mengenal Ahlussunnah waljamaah?. Salah satu ciri identitas Aswaja sebagaimana yang telah disinggung oleh Hadratus Syekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya, Risalatu Ahli Sunnah Waljamaah adalah mereka kalau di tanah Jawa mengikuti madzhab Imam Muhammad bin Idris (Imam Syafii) dalam fiqih, mengikuti Imam Abil Hasan al-Asy’ari dalam ushuluddin/aqidah, mengikuti Imam Abil Hasan asy-Syadili dalam bertasawuf. Para ulama mengatakan, identitas pengenal golongan yang selamat (al-firqah an-najiyah) dalam Islam adalah sikap mereka yang selalu menjaga kebersamaan dan kolektifitas. Sehingga dengan demikian, sesuai dengan realita yang ada, Ahlussunnah waljamaah, yang dalam hal ini adalah pengikut madzhab al-Asy’ari dan al-Maturidi, adalah golongan yang selamat (al-firqah an-najiyah), karena mereka selalu menjaga kebersamaan dan kolektifitas. (Ust Muhammad Idrus Ramli, Wahabi Gagal Paham, 1438 H). Yang dimaksud dengan Ahlussunnah waljamaah mereka adalah para muhadditsin, para ahli tasawuf (shufiyyah), al-asya’irah, dan al-maturidiyyah.

Dengan demikian, tidak boleh disebut Ahlussunnah waljamaah pada selain golongan ini. (Ustadz Abul Fadl Ibnu Syekh Abd Syakur as-Sanuri, Al-Kaukab al-Lumma’ah, 1406 H). Oleh sebab itulah, jelas sekali bagi kita bahwa ahlussunnah waljamaah adalah kelompok yang selamat.
Dengan demikian, manakala di media sosial, baik di Google, Internet dan sejenisnya ada informasi dan kajian yang tidak sepaham dengan pemaham Ahlussunnah waljamaah, maka jangan sekali-kali mengikutinya. Ciri-cirinya bagi paham di luar aswaja antara lain adalah suka menuduh syirik umat Islam mayoritas, menuduh bid’ah, anti taqlid, anti maulid Nabi, anti tahlilan, anti yasinan, anti isra’ dan mi’raj dan lain sebagainya.


*Penulis adalah Guru Ponpes Al-Nahdlah Depok Jabar.

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan