hmass

HMASS.CO, Surabaya – PC HMASS Surabaya dan PW IASS Surabaya menyelenggarakan Kajian Ilmiah Kebangsaan, Jumat (11/08/17) di MA Sunan Ampel, Jl. Tenggumung Karya Lor 122 Surabaya. Hadir sebagai pemateri Ketua Dewan Pakar IASS Ust. H. Anwar Sadad, M.Ag. Kajian perdana ini bertema “Peran Islam Menjaga NKRI”.

Dalam pemaparannya, laki-laki yang masih keluarga Sidogiri itu menjelaskan sejarah Indonesia mulai dari embrio sampai masa sekarang. Juga, analisis mendalam tentang NKRI dilihat dari kaca mata kitab gundul.

Menurut Gus Anwar, sapaan akrabnya, sejarah lahirnya Indonesia begitu panjang dan berliku. Dan semua itu tidak terlepas dari peran ulama dan umat Islam. Setidaknya, cikal bakal kelahiran Indonesia adalah sejak didirikannya organisasi Syarikat Islam (SI) pada tahun 1912. Organisasi yang didirkan oleh Oemar Said Tjokroaminoto ini memiliki massa yang begitu banyak. Bahkan memiliki cabang di Mekah. Diprakrasai oleh para santri yang belajar ilmu agama di sana.

Kemudian, perjuangan dilanjutkan oleh generasi ulama selanjutnya. Seperti para ulama yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama atau ormas lain.

Ust Anwar Sadad, Sedang memberikan pemaparan

Dilihat dari segi kajian kitab kuning, Indonesia tidak bertentangan dengan fikih. Indonesia lahir dari ijtihad para ulama. Dan, mereka berusaha keras agar agama (Islam) menjiwai negara ini. Maka tak heran jika lahir Piagam Jakarta. Piagam yang berbunyi “Ketuhanan yang wajib menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”.

Akan tetapi, sila pertama ini tidak diterima oleh kalangan non-Muslim. Para ulama dengan legowonya rela sila itu diganti dengan “Ketuhanan yang Maha Esa”. Semata karena ada tujuan yang lebih besar. “Mala Yudraku Kulluh La Yutraku Kulluh”. Jika tidak bisa dikerjakan semua, jangan ditinggalkan semua.

Oleh karenanya, ketika menyebut NKRI, umat Islam tidak boleh minder, tidak boleh berkecil hati, juga tidak boleh apatis. Sebab lahirnya NKRI tidak terlepas dari peran ulama dan umat Islam. Mulai embrionya, perjalanan sejarahnya, bahkan sampai sekarang. Apa lagi santri Sidogiri. Sidogiri ikut terlibat dalam kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, anggota DPRD Jawa Timur itu juga menjelaskan betapa pentingnya politik bagi umat Islam. Politik dalam Islam itu baik dan menjadi media perjuangan. Coba lihat keterangan dalam kitab “Ahkam Sulthaniyah”. Dalam kitab karangan al-Mawardi itu dijelaskan bahwa politik memliki dua fungsi: menjaga agama dan mengatur kehidupan dunia.

Bagaimana Islam bisa terjaga jika pegiat politik tidak memiliki ghirah pada Islam? Dalam masalah ini, Gus Anwar juga mengutip perkataan Necmettin Erbakan, mantan PM Turki, “Orang Islam yang tidak peduli pada politik akan dipimpin oleh politisi yang tidak peduli pada Islam.”

Antusias: Para peserta antusias mendengarkan

Diakhir presentasinya, beliau menegaskan, Indonesia tidak akan pernah lahir tanpa ulama. Ulamalah yang menjadi titik sentral dalam perjuangan Indonesia. Jadi, kita harus ikut menjaganya. “Andai tidak ada ulama, tidak akan pernah ada Indonesia,” tegasnya.

Program Kajian Ilmiah ini merupakan program sinergi IASS dan HMASS Surabaya. Rencananya program ini akan dilaksanakan setiap bulan dengan tema yang berbeda-beda. Akan tetapi akan lebih menekankan pada masalah akidah dan kekinian. Sebab, di antara tujuan didirikannya IASS adalah untuk menjaga akidah alumni.

“Kajian Ilmiah ini bentuk sinergi IASS dan HMASS Surabaya. HMASS diamanahi untuk menentukan tema dan mencari pemateri. Tempat, biaya dan kebutuhan lainnya ditanggung oleh IASS. Kata (pengurus, red) IASS program ini untuk memberikan informasi ilmu pengetahuan secara umum, tapi lebih ditekankan masalah akidah,” ungkap Saifuddin Syadiri, ketua PC HMASS Surabaya.

Reporter: Syamsuddin
Editor: M. Albilaluddin

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan