HMASS- PC. HMASS Surabaya menyelenggarakan Halal Bihalal, Sabtu (29 Syawal 1438 H/ 22 Juli 2017 M) di PP. Nurul Huda, Sencaki No. 64, Simolawang, Simokarto, Surabaya. Acara yang dibarengkan dengan RAKERCAB ini dihadiri kurang lebih 30-an peserta, terdiri dari anggota HMASS Surabaya dan Pengurus IASS Surabaya.
Acara ini dimulai dengan Suratul Fatihah. Dilanjut dengan lantunan ayat Al-Quran, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan-sambutan, taujihat, dan doa. Setelah itu, dialnjutkan acara Rapat Kerja Cabang (RAKERCAB).
Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk merekatkan silaturrahim dan memupuk kebersamaan antar kader HMASS. Juga, dengan pengurus IASS Surabaya. Sehingga HMASS Surabaya bisa ber-harakah dengan militansi luar biasa, tapi tetap berada dalam rel Pondok Pesantren Sidogiri. Hal ini tergambar dari tema, “Menyatukan Visi-Misi, Menggelorakan HARAKAH dan Semangat Mengabdi”.
“Satu visi-misi berarti kita mengedepakan kebersamaan. Menggelorakan HARAKAH, artinya kita benar-benar bergerak. Namun, semua itu kita dasari dengan semangat khdimah pada Pondok Pesantren Sidogiri,” begitulah kurang lebih kata Ketua PC. HMASS Surabaya, Saifuddin Syadiri saat memberi sambutan.
Pengurus Pusat HMASS, yang diwakili oleh Ust. Fauzi Palestin mengungkapkan dalam sambutannya, kader HMASS Surabaya harus benar menjadi mahasiswa pergerakan. Aktif dalam segala hal. Tidak hanya diam. Agar memiliki banyak pengalaman. Mumpung masih mahasiswa. Jika sudah bukan mahasiswa, sulit sekali untuk meraih hal itu. Namun demikian, kesantriannya tetap dibawa dalam situasi dan kondisi apa pun. Biarkan orang berkata apa saja.
IASS Surabaya juga berharap sama. Ust. Sholeh Ismail, perwakilan pengurus IASS Surabaya mengatakan setuju dengan apa yang disampaikan Ust. Fauzi. Beliau mengutip taujihat KH. Fuad Nurhasan bahwa santri Sidogiri harus bervariasi. Nah, mungkin kader-kader HMASS inilah yang bisa mewujudkan hal itu.
Selain itu, PW. IASS Surabaya mengharap kader HMASS Surabaya berpartisipasi dalam acara yang diadakan PW. IASS. Misalnya ngaji kitab, sesibuk apa pun, disempatkan ikut. Sebab, mengikuti pengajian kitab itu wajib bagi seluruh alumni Sidogiri.
Adapun pengisi taujihat adalah KH. Abdurrahman Navis, Lc, M. HI, dan Ust. H. Anwar Sadad, M.Ag. Keduanya adalah para pakar IASS. Namun, Ust. Anwar Sadad berhalangan hadir.
Dalam taujihatnya, KH. Abdurrahman Navis mengatakan, kesuksesan tidak bisa didapat dengan biasa-biasa. Harus ada usaha yang luar biasa. Juga, harus tahan menghadapi tantangan yang juga luar biasa.
“Untuk menjadi luar biasa, harus usaha luar biasa. Tapi, tantangannya juga luar biasa. Kalau biasa-biasa saja, ya jadi orang biasa-biasa saja,” begitulah kata beliau.
Beliau juga mengintruksikan, saat menjalankan tugas di HMASS harus murni karena khidmah. Tidak boleh ada kepentingan peribadi. Sebab, jika pergerakan HMASS dikotori dengan kepentingan peribadi, sampai kapan pun tidak akan sukses.
“Kalau karena Khidmah lil ma’had, insyaallah akan berhasil (dalam menjlankan tugas di HMASS, red). Tapi kalau karena peribadi, maka akan gagal,” dawuh penggagas ASWAJA Centren JATIM itu.
Selain itu, beliau juga mengatakan, berorganisasi harus mengedepakan kebersamaan. Saling melengkapi satu sama lain. Saling memahmi dan memaklumi. Yang diutamakan adalah HMASS. Bukan ego peribadi.
“Kekurangan santri itu dua; bahasa dan organisasi. Bahasa, kadang bahasa Indonesia saja masih dicampur bahasa Madura. Organisasi, kadang saat ada rapat dan mengusulkan, tapi tidak diterima, ngambul (kecewa). Lalu tidak ikut rapat lagi. Dalam organisasi itu harus teamwork. Harus kerja sama,” kata Pengasuh PP. Nurul Huda Surabaya itu.
Beliau juga menantang PC. HMASS Surabaya untuk mengadakan acara yang spektakuler. Acara yang ‘wah’ dan menjadi sorotan public. Beliau menunggu hasilnya.
“Mudah-mudahan nanti pada acara RAKERCAB bisa menghasilkan program yang spektakuler,” kurang lebih begitu kata beliau. (SS)

