Apa benar tahun 2017 ini akan menjadi tahun perbukuan bagi Indonesia? Saya tidak bisa memastikannya melalui angka-angka. Setidaknya kecenderungan saya, sekaligus keterlibatan saya di dunia perbukuan beberapa bulan terakhir, dapat menjadi tambahan informasi mengenai munculnya buku-buku baru, atau buku lama yang dicetak ulang kembali. Lebih khususnya buku-buku Nahdlatul Ulama (NU). Baik itu tentang NU, dari beragam sudut pandang atau dari orang-orang NU yang khas dengan tema agama dan kebangsaan.
Namun, sebelum membahas lebih jauh, kiranya saya ajukan beberapa hal yang turut melatar belakangi menjamurnya buku-buku tersebut. Pertama, memanasnya suhu perpolitikan di negeri ini. Sudah mafhum kiranya, jika ego berkuasa kelompok tertentu, lebih-lebih di diisi oleh orang-orang yang memilki kecenderungan fanatisme buta, akan menghalalkan segala cara agar tujuan dan cita-citanya tercapai.
Dalam hal ini, kecenderungan untuk mengetahui kebenaran atau tidaknya, bisa didapatkan melalui beragam referensi yang valid. Dengan demikian, buku-buku akan dicari untuk membenarkan apa yang diinginkan dan sesegera mungkin akan menyampaikan dari hasil bacaannya.
Lebih-lebih bagi kalangan akademisi. Tidak cukup hanya dengan menyuguhkan satu dua referensi. Sebisa mungkin, puluhan buku yang belum bisa diakses secara mudah di perpustakaan, akan mencari alternatif dengan membeli buku, baik pergi ke pertokoan buku, atau media online.
Kedua, berulang kalinya ‘iklan’ media, baik cetak atau pun elektronik–disebarluaskan pula melalui media sosial–yang membeberkan betapa merosotnya budaya membaca bagi bangsa Indonesia. Data yang disiarkan itu masih menggunakan data yang diperoleh dari Central Connecticut State Univesity. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. (http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia)
Hal yang sama pernah pula disiarkan di Metro TV pada paruh pertama tahun 2016 lalu. Bahkan untuk memantik kegiatan literasi, pihak media televisi ini menghadirkan Aan Mansyur, penyair yang kini tinggal di Makassar, dalam salah satu programnya.
Kabar rendahnya minat baca inilah yang kemudian mendorong sebagian kalangan untuk terlibat aktif menerbitkan buku. Bagaimana pun juga, buku tetaplah menjadi salah satu media ‘melek huruf’ yang sekaligus menjadi pengukuhan meningkatnya status sosial seseorang: banyak buku, banyak wawasan.
Ketiga, munculnya penerbit alternatif. Fenomena penerbit alternatif ini, memungkinkan bagi siapa pun untuk menjadi penulis. Dengan modal uang saku pas-pasan, seseorang sudah bisa menerbitkan karyanya sendiri mulai dari 1 sampai 5, bahkan puluhan eksemplar.
Penerbit alternatif, memungkinkan untuk menjadi terobosan baru bagi penulis produktif yang tidak ingin terikat oleh aturan penerbit besar, atau penerbit yang berkembang. Bak jalan alternatif bagi pengendara motor yang ingin segera sampai tujuan, akan dilihat pula motifnya. Ingin segera tenar, mendapatkan amplop seminar, atau memang untuk menyebarkan buku, dilihat pula maksud penulisnya.
Dengan segala kekurangannya, penerbit alternatif semacam ini tetaplah memberikan sumbangsih yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Lebih dari itu, penerbit semacam ini akan sering memunculkan buku-buku baru, tema baru, bahkan penulis baru.
Dengan latar belakang inilah, penulis menilai secara umum, perbukuan kembali marak di negeri ini. Namun demikian, baik memanasnya suhu perpolitikan di pusat maupun daerah, klise minat baca, atau munculnya penerbit alternatif, penulis akui merupakan fenomena yang tidak bisa dianggap final. Bisa jadi ada faktor lain yang lebih penting. Lalu bagaimana buku-buku NU? Akan hadir ditulisan selanjutnya. Wallahu a’lam.
Penulis Royhan Rikza. Tinggal di Kepanjen, Malang, Jawa Timur. Beberapa bulan terakhir terlibat dalam dunia perbukuan dan mendirikan Toko Buku Abah Book Corner (ABC) online dan offline.

