PERTANYAAN

Oleh: Ahmad Biyadi*

Pertama: Dualisme Paradigma Proses

Secara gambaran besar, proses belajar saat ini dilakukan melalui pengumpulan pernyataan-pernyataan, dihafal, dipahami. Dan nantinya dievaluasi melalui pertanyaan-pertanyaan pada proses ujian dan ulangan. Itu artinya, seorang pelajar tak ubahnya sebuah toko yang diisi beragam barang dalam waktu tertentu, yang nantinya diminta untuk menyebutkan barang itu secara acak.

Proses belajar seperti ini menuntut pelajar menjadi sebuah mini atau bahkan super market. Dan tidak jarang, satu barang dengan lainnya tidak menemukan kesesuaian yang menyebabkan chaos of data (kekacauan data). Proses belajar semacam ini adalah proses melalui pernyataan.

Di sisi lain, ada proses belajar yang diawali dari pertanyaan besar (big question). Pertanyaan ini dijadikan sebagai landasan awal untuk mengumpulkan pernyataan, data, dan segala informasi agar nantinya bisa menemukan kesimpulan jawaban.

Proses belajar melalui pertanyaan tak ubahnya meminta pelajar menjadi toko khusus barang tertentu. Misalnya toko mainan. Semua jenis mainan dikumpulkan, dibandingkan, untuk mencari mainan terbaik atau termahal dan meletakkannya di rak depan. Proses semacam ini disebut proses pertanyaan.

Kedua: Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan proses penyataan ini adalah soal kekayaan ilmu. Proses ini bisa membuat seorang pelajar menjadi ‘perpustakaan berjalan’. Tahu ini dan itu, segala bidang. Dan memiliki wawasan yang memadai untuk mengembangkan segala hal. Bahkan memiliki banyak solusi atas masalah apapun yang dihadapi.

Sedangkan di sisi yang lain, proses ini memiliki kelemahan-kelemahan. Misalnya kekacauan data pada pelajar dan dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk membentuk pribadi pelajar yang matang. Dua hal ini menjadi masalah besar dalam dunia pendidikan. Kekacauan data akan melahirkan pelajar-pelajar yang glambiar dalam keilmuan, tidak jelas talentanya. Dan tidak semua pelajar memiliki waktu dan sarana yang cukup untuk menyelesaikan proses itu. Sehingga ke-glambiar-an itu menjadi kian rumit dan sangat tidak matang sebagai pribadi dalam skala besar. Telur setengah matang bolehlah, tapi apa jadinya jika semua masakan setengah matang?

Lalu proses pertanyaan memiliki kelebihan membentuk keilmuan yang mendalam dalam bidang tertentu, tidak selama proses pernyataan, dan yang terpenting dapat didekatkan dengan kehidupan nyata. Melalui proses ini, pelajar dapat menyandingkan keilmuannya dengan kehidupan yang dialami. Pelajar dapat menjadi pribadi ahli dalam bidang tertentu. Meski demikian, proses ini juga menyisakan banyak masalah, seperti sarana yang benar-benar harus besar untuk mencakup semua bidang, tidak tercakupnya semua hal melalui proses ini mengakibatkan terbentuknya pribadi-pribadi yang blank pada keilmuan tertentu.

Ketiga: Proses Perpaduan

Proses ini merupakan pengoptimalan belajar dengan menggunakan dua proses di atas. Hal ini telah banyak dilakukan di berbagai lembaga atau unit pendidikan. Di perguruan tinggi, perkuliahan dalam sekian semester merupakan bagian dari proses pernyataan. Sedangkan penelitian ilmiah adalah bagian proses pertanyaan. Pada bagian ini pelajar diminta mencari jawaban dari rumusan masalah (pertanyaan) dengan mengkaji berbagai macam literatur, fenomena, dan data lapangan.

Di pesantren, proses pernyataan dilakukan di madrasah atau majelis taklim. Sedangkan proses pertanyaan ditempuh saat santri mengikuti program bahtsu masail dan musyawarah.

Pemaduan proses ini tidak hanya dapat dilakukan dalam desain besar seperti contoh di atas. Dalam skala lebih kecil (pembelajaran di kelas), pemaduan proses juga dapat dilakukan. Satu bab atau satu kompetensi dasar bisa diawali dengan memberikan daftar pertanyaan paling penting pada kompetensi dasar tersebut. Dengan daftar pertanyaan ini, pelajar dapat memahami poros utama pembahasan. Langkah selanjutnya menggunakan proses pernyataan, yakni mengisi pelajar dengan informasi, data, dan penjelasan-penjelasan seputar bab tersebut. Langkah terakhir adalah merangkai dan memadukan pernyataan dengan daftar pertanyaan.

Dengan pemaduan proses skala kecil tersebut, pelajar dapat memahami kerangka pembahasan dari satu kompetensi. Hal itu dapat mencegah terjadinya glambiar ide pada pelajar yang sering terjadi.

Keempat: Strata Pertanyaan

Sebuah Hadis riwayat Imam Tabrani menjelaskan bahwa Abdullah bin Umar ra berkata, “Pertanyaan yang baik adalah setengah dari ilmu.” Ungkapan ini menggambarkan bahwa pertanyaan sangat erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan.  Ada hubungan sejajar antara ilmu dan pertanyaan yang mendasarinya.

Setidaknya ada dua makna dalam ungkapan tersebut. Pertama, peranan penting pertanyaan bagi ilmu. Artinya jika pertanyaan itu berada dalam skala tertinggi (baik), ilmu yang dihasilkan akan baik. Skala pertanyaan diukur melalui tingkat urgensi, jangkauan, dan fundamentalnya. Pertanyaan yang baik adalah pertanyaan yang paling penting, luas jangkauannya, dan sangat fundamental.

Kedua, menyusun pertanyaan pun butuh ilmu. Maksudnya untuk mengukur baik-tidaknya suatu pertanyaan dibutuhkan ilmu pula. Pertanyaan yang didahului pembacaan luas, akan sangat baik karena dapat diketahui apa masalah paling mendasar dari berbagai fenomena dan objek bahasan. Wawasan yang luas dapat menuntun seseorang untuk menemukan apa masalah yang paling mendasar (real problem).

Dari sini muncul juga taksonomi atau teori strata ilmu. Pengetahuan seseorang pada sesuatu dapat diklasifikasi tingkatannya. Yang banyak dipakai adalah teori taksonomi Bloom, yaitu ilmu dibagi menjadi tiga ranah: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (skil).

Dalam kognitif, skalanya adalah: 1) pengetahuan, 2) pemahaman, 3) penerapan, 4) analisis, 5) sintesis, dan 6) evaluasi.

Dalam afektif, skalanya adalah: 1) penerimaan, 2) menanggapi, 3) penanggapan, 4) mengelola, 5) karakteristik.

Sedang dalam psikomotorik, skalanya adalah: 1) peniruan, 2) manipulasi, 3) pengalamiahan, 4) artikulasi.

Kelima: Penutup

Dari itu semua, pertanyaan dapat dijadikan sebagai kerangka dasar membangun ilmu. Pertanyaan yang urgen dapat menjadi pokok utama membangun ilmu yang urgen pula. Sebaliknya, jika ilmu dibangun melalui pertanyaan-pertanyaan yang tidak mendasar dan tidak penting, akan menjadi ilmu yang glambiar dan kabur. []

*Penulis adalah Pria asalah Malang, Alumni Pondok Pesantren Sidogiri dan Anggota HMASS

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan