Kamis, 26 Dzul Qa’dah 1436 H.
Dwy Sadoellah
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى أله وصحبه ومن والاه. أما بعد
Imam al-Ghazali mengibaratkan hubungan santri dan guru sebagai pasien dengan dokter. Maksudnya, ada jarak yang sangat jauh antara pengetahuan dokter dengan pengetahuan pasien tentang penyakit. Apa yang diketahui oleh dokter tentang penyakit dan terapi penyembuhan, tidak banyak diketahui oleh pasiennya. Kadangkala dokter memberikan terapi yang menurut nalar dari pasien sepertinya tidak masuk akal, tapi hal itu justru merupakan terapi yang harus dilakukan. Apabila pasien itu ngotot dengan pendapatnya sendiri yang berdasarkan pengetahuan yang dangkal tentang pengobatan, maka tentu saja akan sulit tercapai keinginannya untuk sembuh.
Analogi ini merupakan inspirasi yang sangat tepat bagi para alumni Sidogiri untuk melahirkan keseimbangan antara hati dan nalar, antara kiprah dan landasan. Para Masyayikh Sidogiri memiliki pengalaman yang jauh lebih mendalam dan wawasan yang jauh lebih luas dalam memahami hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk. Ada banyak hal yang memiliki potensi sangat baik menurut nalar sebagian orang, tapi tidak demikian menurut para Masyayikh. Tentu bukannya para Masyayikh itu tidak tahu mengenai adanya potensi baik tersebut, akan tetapi beliau lebih berhati-hati karena melihat bahwa di balik potensi besar itu, ada ancaman bahaya yang jauh lebih besar. Sehingga, ada beberapa hal yang tampaknya baik dan potensial, tapi para Masyayikh justru melarangnya.
Oleh karena itu, Sidogiri tak boleh dilihat sekadar sebagai potensi besar yang bisa diapakan saja, tapi harus juga disikapi sebagai tanggung jawab besar yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh kelestariannya. Maka, merupakan suatu yang sangat prinsip bagi orang-orang pesantren, bahwa setinggi apapun nalar rasional mereka berkembang, nalar tersebut tetap harus tunduk pada hati dan kemantapan. Ilmu yang tinggi, wawasan yang luas atau kemampuan yang mumpuni, jangan sampai membikin jumawa sehingga mencerabut dari akar jiwa kesantrian. Jangan sampai kemampuan dan pengalaman justru melunturkan tata krama, etika, dan akhlak luhur kesantrian yang telah diajarkan di pesantren.
Di samping itu, alumni harus pintar-pintar untuk menyeimbangkan kiprah yang dibangun dengan landasan yang dipegang. Hal ini sangat penting untuk senantiasa diingat, sebab kadang sebagian orang lupa, karena terlalu bersemangat untuk mengembangkan, sehingga lupa pada landasannya. Begitu banyak tokoh alumni yang mengusulkan agar Sidogiri begini dan begitu. Tentu saja niat mereka baik untuk mengembangkan Sidogiri, akan tetapi mereka seringkali lupa mengingat, apa sebenarnya tujuan para Masyayikh mendirikan Sidogiri?
Tentu, alumni dipersilahkan mengembangkan Sidogiri melalui instrumen-instrumen yang ada, seperti IASS, DKS, DASS, LAZ, Koperasi Sidogiri dan lain sebagainya. Namun, dengan catatan tetap harus memposisikan instrumen-instrumen itu sebagai alat, bukan tujuan. Instrumen organisasi dan instansi yang bermacam-macam itu dibuat bukan untuk organisasi atau instansi itu sendiri, tapi untuk membantu Sidogiri mencapai tujuan yang telah digariskan oleh para Masyayikh. IASS, DKS, DASS, LAZ, Koperasi Sidogiri dan semacamnya adalah kaki Sidogiri untuk melangkah, bukan tubuh lain yang memiliki kehendak dan pikiran sendiri-sendiri.
Dengan demikian, siapapun tak perlu bersusah payah mengembangkan Sidogiri, jika ternyata apa yang diupayakan itu justru tidak dikehendaki oleh para Masyayikh. Tidak perlu repot-repot membangun Sidogiri, jika Sidogiri yang ia bangun hanyalah sekadar namanya saja yang Sidogiri, tapi hakikatnya bukanlah Sidogiri. Di zaman seperti sekarang ini, begitu banyak nama yang tidak sesuai dengan isinya. Namanya A, tapi isinya adalah B. Maka, adalah penting untuk sering-sering berpikir tentang hakikat sesuatu, agar tidak mudah terjebak ke dalam hakikat-hakikat yang palsu.
Barangkali, begitu banyak orang yang terkagum-kagum pada Sidogiri. Akan tetapi bagaimanapun perlu dipertanyakan jangan-jangan kekaguman itu diakibatkan kesalahan mereka dalam memandang Sidogiri, karena sebagian orang yang berafiliasi pada Sidogiri memang salah dalam menampilkan Sidogiri kepada mereka. Oleh karena itu, haluan yang telah digariskan oleh para Masyayikh tidak perlu diutak-atik. Hal-hal mendasar yang tidak dikehendaki oleh para Masyayikh mesti dijauhi, tidak usah dicari-cari takwilnya dengan alasan perkembangan waktu, seolah-olah para Masyayikh tidak peka dalam membaca keadaan dan perkembangan zaman di kemudian hari.
Landasan yang digariskan oleh para Masyayikh itu sudah terbukti membuat Sidogiri bisa bertahan dan berkembang pesat hingga 300 tahun. Maka, tak perlu silau dengan hal-hal baru yang sekilas tampak maju, sehingga meninggalkan nilai-nilai lama yang sudah terbukti. Begitu banyak hal yang tampak sangat indah dan menjanjikan, tapi semua itu hanyalah fatamorgana yang menipu mata. Ibarat sepakbola, silakan kita berlari maju membuat terobosan-terobosan, tapi jangan sampai terjebak offside. Jangan sampai IASS ini dibawa dan digunakan untuk tujuan yang bukan tujuan dari para Masyayikh.
Mencintai dan mematuhi Sidogiri harus dilakukan dengan benar. Begitu banyak orang yang mengungkapkan cinta, tapi sebenarnya yang dia ungkapkan itu hanyalah nafsu belaka. Ada banyak orang yang menyatakan sangat mencintai Sidogiri, tapi sebenarnya sedang bernafsu pada Sidogiri. Orang yang sungguh-sungguh mencintai justru jarang mengungkapkan cintanya, karena ungkapan seringkali hanyalah cara orang untuk menggoda dan merayu. Orang yang benar-benar mencintai Sidogiri adalah orang yang mau berbuat untuk Sidogiri sesuai dengan keinginan Sidogiri. Dia rela meninggalkan pikirannya sendiri, demi mengikuti pikiran Sidogiri yang dicintainya. Sungguh berbeda antara orang yang benar-benar mencintai, dengan orang yang hanya mengaku mencintai, seperti perbedaan antara yang alim dan orang yang ingin terlihat alim.
Begitu pula, kepatuhan kepada Sidogiri juga mesti diungkapkan dengan benar. Hal ini penting, karena begitu banyak orang yang memaknai kepatuhan dengan standar yang ganda. Hakikat kepatuhan itu adalah mengikuti kehendak dari guru, sesuai dengan tuntunan yang diajarkannya. Bukan hanya semangat ketika perintahnya sesuai dengan keinginan, tapi justru berpikir panjang ketika perintahnya tidak sesuai dengan keinginan hati. Inti kepatuhan kepada para guru adalah kepatuhan ukhrawi, bukan kepatuhan duniawi. Janganlah ketika diajak untuk kepentingan ukhrawi atau perjuangan agama, justru malah beringsut dan ribut menanyakan dalilnya. Tapi, ketika diajak untuk mencapai kepentingan-kepentingan duniawi, justru langsung bersemangat maju dan mencari-carikan dalilnya. Seperti dawuh Almaghfurlah Kiai Hasani Nawawie, bahwa kepatuhan bukanlah ketika santri berdiri di pinggir jalan menyilangkan tangan untuk menghormati Kiai. Hakikat kepatuhan itu adalah sejauh mana santri tersebut mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh Kiai.
Maka, kepatuhan kepada Sidogiri menjadi sumber bagi tercapainya kebaikan-kebaikan yang dicita-citakan oleh Sidogiri. Membantu perjuangan Sidogiri berarti membantu perjuangan agama. Berkhidmah kepada Sidogiri berarti berkhidmah kepada umat. Begitu pula, berkiprah untuk agama dan umat berarti berkhidmah kepada Sidogiri. Sidogiri dan umat merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Jadi membantu Sidogiri berarti membantu umat. Membantu Sidogiri merupakan khidmah yang sangat murni kepada agama dan umat. Begitu pula, santri Sidogiri yang mengamalkan ilmunya di masyarakat secara otomatis dia sudah berkhidmah kepada Sidogiri. Demikianlah penjabaran dari “Khidmah lil Ma’had Khidmah lil Ummah” yang menjadi slogan Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS); khidmah kepada ma’had adalah khidmah untuk umat.
Selanjutnya, adalah penting untuk dikemukakan di sini bahwa kekuatan yang paling besar dari alumni Sidogiri itu adalah terletak pada persatuan dan persaudaraan mereka yang didasarkan pada ruh perjuangan Sidogiri. Bukan terletak pada kemampuan atau keinginan dari individu-individunya. Alumni harus senantiasa menjaga persatuan di antara mereka, jangan sampai saling menjatuhkan karena adanya kepentingan dari kelompok yang berbeda di antara mereka. Oleh karena itu, jangan sampai membawa kepentingan di luar perjuangan Sidogiri ke dalam IASS ini, karena hal itu pasti akan merusak alumni itu sendiri. Kekuatan alumni pada dasarnya karena mereka menjadi kaki dari Sidogiri. Dan, tanpa Sidogiri, alumni tidaklah berarti apa-apa.
Selain itu, ukuran yang harus diterapkan dalam segala hal yang dilakukan dalam IASS adalah seberapa ikhlas dalam melakukan hal itu untuk tujuan pahala. Di sini perlu ditanamkan keyakinan bahwa bisa saja di dunia ini tidak ada balasan yang didapat, tapi di akhirat kelak mendapatkan balasan yang jauh lebih besar dan lebih berharga. Seperti halnya para Masyayikh membangun Sidogiri dengan perjuangan yang luar biasa, mereka tidak mendapatkan keuntungan duniawi apapun dari itu. Kalaupun ada keuntungan duniawi yang terhampar, tapi para Masyayikh tidak berkenan untuk mengambilnya, karena bagi mereka, jika keuntungan itu tidak diambil di dunia, maka akan diberikan dengan jauh lebih besar lagi di akhirat nanti. Konon, Kiai Abdul Adzim bin Oerip ketika melihat kenikmatan dunia, beliau dawuh, “Di dunia sudah begini indah, bagaimana kelak di surga nanti.” Jadi, bagaimanapun indahnya dunia ini, tapi bukanlah apa-apa dibandingkan keindahan akhirat nanti.
Pasuruan, 26 Dzul Qa’dah 1436 H.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
- Nawawy Sadoellah
sumber: iass.or.id

