Oleh Kiai Bahrul Widad, Alumni PPS dan Kiai Muda NU
Sedih…. Kenapa menolaknya hanya gara-gara fisik?! Padahal perempuan itu baik, cerdas, faham agama pula. Pokoknya insya Allah ia sholihah, tapi kenapa ada yang menolaknya hanya gara-gara dia tidak cantik?!
Mereka, yang mementingkan kecantikan itu, mungkin beralasan dengan berkata bahwa cantik termasuk di dalam syarat-syarat wanita untuk dinikahi?! Mungkin mereka nggak baca sampai akhir kalimat bahwa memilih wanita yang baik agamanya itu lebih selamat!
Mereka mungkin terus bilang, kalau mencari istri yang baik agamanya yang kebetulan cantik boleh kan?! Ya memang boleh, tapi pas kebetulan nggak cantik langsung di tolak kan?!
Andai saja mereka tahu bahwa istri yang hebat dan bijak itu hanya ada pada istri yang sholihah. Dia lah yang qanaah, yang sanggup hidup dalam keadaan apapun yang diberikan suaminya kepadanya. Dia akan merasa cukup atas apa yang ada. Dan akan bersyukur atas kehidupan yang menyenangkan seperti dia akan bersabar atas kehidupan yang menyusahkan.
Mereka akan tahu istri mereka sebenarnya ketika mereka sudah serumah dengannya, bukan di rumah orang tua ataupun di rumah mertua. Karena di rumah sendiri akan tampaklah seorang istri itu sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai anak orangtuanya yang manja dan selalu diturutkan keinginannya, ataupun sebagai menantu yang rajin dan akan selalu menampakkan kebaikan kepada mertuanya.
Isteri yang sholihah, dialah yang qanaah.
Yang tahu hari tak selalu cerah tapi dia tak berubah.
Istri yang sholihah itu tidak harus kaya, kalau pun kaya Alhamdulillah. Dia juga tidak harus cantik, kalau pun cantik itu hadiah.
Isteri yang sholihah itu adalah yang qana’ah, senang-nya berada di rumah. Keluar rumah hanya dg suami-nya atau setidaknya dengan izinnya.
Dia tahu barang-barang telah mengalami kenaikan harga, dan tidak menyusahkan suaminya dengan segala tuntutannya.
Ada juga memang wanita yang bekerja di luar rumah, tapi yang sholihah, dia mau berhenti kerja kalau suaminya memerintahkannya, dan tetap bekerja kalau suaminya meridhoinya.
Yang jelas, jangan memakai harga mati pada yang cantik,karena yang cantik seperti bintang di langit. Mungkin dia mudah ditemukan, bahkan di gelap malam, tetapi sadarilah dia tak mudah dijangkau tangan. Ketika itu pun kau mungkin melihatnya berkilauan, tetapi sadarilah ketika siang dia menghilang.
Isteri yang sholihah itu seperti mutiara di dasar laut, tak selalu putih terkadang terbungkus lumut. Di dalam cangkangnya dia senang berada, menjaga diri dan tak mudah digoda.
Kau mungkin harus menyelam untuk menemukannya.
Tapi kau akan tahu seberharga apa dia ketika kau mendapatkannya.
“Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah.” (HR Ibn Majah)

