pELIT

Kisah menarik dari kitab Qomi’ at Thughyan.

Cabang Iman ke Enam belas yaitu Bakhil dengan agama islam

Walau dalam mempertahankannya harus dengan dibunuh atau dibakar dalam api, itu lebih ia sukai daripada harus menukarkan keimanannya dengan kekufuran. Karena ia yakin bahwa agamanya lebih mulia daripada seluruh anak turunan dan harta bendanya.

Diriwayatkan : Pada masa ke khalifahan Umar bin Abdul Aziz , beliau mengirim pasukan (bala tentara) untuk berperang dengan pasukan kaisar romawi, perangpun berkecamuk dan ada dua puluh prajurit khalifah yang ditawan. Dalam sidang, tawanan kaisar romawi memanggil salah satu dari tawanan.

Kaisar berkata: jika engkau mau meninggalkan agamamu dan mengikuti agamaku dan menyembah berhala, maka engkau aku bebaskan dan engkau aku angkat sebagai ‘aamir (setingkat gubernur) dari sebuah wilayah yang luas lengkap dengan segala fasilitas kenegaraan dan persenjataan, tapi jika engkau menolaknya, maka bagimu hukuman pancung (penggal kepala).

Tawanan pertama menjawab: Aku tidak akan pernah menjual agamaku.

Kaisar memerintahkan algojo untuk memenggal kepala tawanan tersebut disebuah lapangan. Setelah kepala tawanan tersebut terpenggal dari badannya, kepala yang terpenggal itu berputar-putar di medan tersebut dan mulutnya membaca ayat

يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي إلى ربك راضيةمرضية فادخلي في عبادي وادخلي جنتي

*Marahlah kaisar romawi menyaksikan hal tersebut

Kemudian dipanggillah tawanan kedua, dan kaisar pun menyodorkan tawaran yang sama.

Kaisar: masuklah pada agamaku, engkau akan aku jadikan aamir disebuah kota, jika tidak, maka aku akan penggal kepalamu seperti temanmu

Tawanan Kedua: Tidak akan aku jual agamaku dengan dunia, engkau punya kekuasaan memenggal kepalaku namun engkau tak akan mampu memenggal keimananku.

Maka kaisar pun memerintahkan algojo untuk memenggal kepala tawanan itu, dan kepala terpenggal itupun berputar-putar dan mulutnya membaca ayat فهو في عيشةراضية في جنة عالية قطوفها دانية

Dan kepala itu pun berhenti dekat kepala dari tawanan yang pertama

*Kaisar pun semakin marah dengan dua kejadian itu

Kemudian dipanggilah tawanan ketiga

Kaisar: Apa yang akan kau katakan padaku, apakah engkau akan masuk agamaku dan engkau menjadi ‘Aamir ?

Tawanan Ketiga  : Aku akan memilih masuk agamamu dan aku memilih jabatan yang engkau tawarkan daripada memilih akhirat.

Kaisar berkata: wahai perdana menteri, berikan kebebasan dan jabatan seperti yang aku janjikan pada tawanan ini.

Perdana menteri menjawab: “kaisar… bagaimana kita akan langsung memberikan jabatan ini padanya tanpa harus di uji dulu.

Kemudian perdana menteri berkata kepada tawanan ketiga: Jika engkau sungguh2 terhadap ucapanmu, maka sekarang bunuhlah salah satu temanmu, jika itu engkau lakukan maka kami percaya.

Maka tawanan ketiga terlaknat ini mendatangi salah satu temannya dan ia membunuhnya.

Kaisar berkata:  “Berikan padanya apa yang telah aku janjikan”.

Perdana menteri menjawab: Wahai kaisar… Apa yang dilakukan tawanan ini tidak bisa diterima akal sehat, demi membuktikan kesungguhannya ia rela membunuh temannya sendiri, tawanan ini tidak segan dan sungkan melakukannya padahal yang dibunuh adalah temannya sendiri, ia datang dari negara dan keyakinan yang sama. Lalu bagaimana ia bisa kita percaya dan menjaga hak2 kita?

Maka kaisar pun faham dengan ucapan sang perdana menteri, maka ia pun memerintahkan algojo untuk membunuhnya. Setelah kepala tawanan ketiga terpenggal, kepala itupun berputar tiga kali mengelilingi medan itu, dan dari mulutnya ia membaca ayat

أفمن حق عليه كلمة العذاب أفأنت تنقذ من في النار

Dan kepala itupun berhenti di ujung medan, kepala dari tawanan ketiga ini tidak berkumpul dengan dua kepala temannya, maka tetaplah ia dalam adzab Allah, Na’udzu billahi min al dholal

Semoga hikayah ini membawa hikmah dan manfaat, Amin

Kiai Bahrul Widad, Alumni PP Sidogiri.

Editor: Ust Biyadi Busyral Basyar

 

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan