Taujihat Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri
dalam Pelantikan Pengurus HMASS
Ahad, 27 Rabiuts Tsani 1442 H.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله ، الحمد لله ، والصلاة والسلام على رسول الله ، وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعد.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat dan anugerah-Nya, sehingga kita bisa berkumpul di sini, di tempat yang insya Allah merupakan salah satu tempat terbaik dalam hidup kita. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Baginda Rasulullah Muhammad , teladan sempurna kita dalam segala hal, khususnya dalam hal perjuangan menyebarkan kebaikan dan membawa umat ke dalam cahaya iman dan Islam.

Dalam kesempatan ini, saya hanya ingin menekankan bahwa pesantren itu adalah mengenai pandangan hidup. Hakikat pesantren itu bukan lembaganya, bukan sarananya, bukan tempatnya, tapi hakikat pesantren itu adalah pandangan hidupnya. Semua tempat hakikatnya adalah pesantren jika mempraktekkan pandangan hidup ala pesantren. Sebaliknya, selantang apapun sebuah lembaga menyebut dirinya sebagai pesantren, tapi di dalamnya tidak ada pandangan hidup pesantren, maka hal itu adalah klaim-klaim kosong yang tak memiliki esensi apa-apa tentang pesantren. Hal inilah yang tersirat dalam pandangan Almaghfurlah Kiai Hasani Nawawie ketika beliau membuat takrif santri.
Beliau tidak menyatakan bahwa santri itu adalah orang-orang yang berada di dalam lingkungan pesantren. Beliau tidak menyatakan bahwa santri itu adalah orang materi pelajarannya adalah kitab kuning. Tidak menyatakan bahwa santri itu yang ke mana-mana memakai sarung dan kopiah. Tidak! Beliau tidak menyatakan demikian. Beliau menyatakan bahwa santri itu adalah orang yang berpegang teguh kepada al-Qur’an dan Hadis, serta teguh dan istiqamah dalam memegang kebenaran, tidak terombang-ambing oleh arus kanan dan arus kiri.

Cukuplah, takrif santri dari Kiai Hasani itu sebagai bekal kalian. Di manapun kalian berada, di masjid, di pesantren, di kampus, di kantor, di pabrik, di sawah ataupun di terminal, jika kalian sesuai dengan takrif tersebut, maka kalian adalah santri hakiki. Jika tidak sesuai dengan takrif santri, maka meskipun ahli membaca kitab kuning, berkhotbah dari satu masjid ke masjid lain, disebut sebagai Gus, Kiai, Ustadz atau Panglima Santri sekalipun, maka semua itu hanyalah gelar-gelar kosong yang tak berarti apa-apa.

Tugas kalian sebagai Pengurus HMASS adalah menjaga hal ini. Mengawasi, menjaga, dan menuntun teman-teman kalian agar akidah, syariat, akhlak, pandangan hidup dan budaya mereka tidak menyimpang dari takrif santri. Syukur-syukur jika kalian bisa mewarnai kampus dengan prinsip-prinsip kesantrian itu.

Jumlah kalian mungkin tak seberapa dibanding organisasi pergerakan mahasiswa yang lain. Dibandingkan HMI, PMII, KAMMI, GMNI atau yang lain. Jumlah orang itu hanyalah angka. Yang paling menentukan adalah kualitas orangnya, ketangguhan mentalitas dan keteguhan prinsipnya. Umat Islam sudah terbiasa meraih kemenangan dengan jumlah mereka yang sedikit. Jangan minder, jangan pesimis, jangan merasa inferior hanya karena anggota kalian masih sedikit. Tunjukkan bahwa kalian adalah generasi yang dididik dengan sejarah Perang Badar dan Perang Mu’tah. Pasukan kecil yang melumat lautan pasukan musuh.

Musuh utama kalian dalam pemikiran adalah liberalisme Islam; dan musuh utama kalian dalam hal budaya adalah pergaulan bebas. Jadilah pasukan-pasukan Sidogiri di medan kalian, khususnya untuk melawan dua hal ini. Kalian bertugas untuk membawa HMASS ini agar betul-betul menjadi wadah para akademisi santri yang mampu menunjukkan kepada publik bahwa pandangan hidup pesantren sangat cocok untuk dibawa ke dunia manapun. Bahwa santri-santri yang sejati bisa mewarnai sisi kehidupan apapun di negeri kita ini, dengan warna yang positif, teduh, bermartabat, dan religius.

Satu hal yang harus kalian pahami bahwa Sidogiri tidak pernah melakukan sesuatu secara setengah-setengah. Apa yang sudah ditetapkan sebagai langkah dan misi Sidogiri, selalu kita garap dengan serius, bukan ala kadarnya, bukan sekadar formalitas. Itu tradisi Sidogiri. Oleh karena itu, laksanakanlah program-program HMASS dengan basis pencapaian tujuan dan target, bukan sekadar terlaksana secara formalitas. Sebuah program bisa dianggap benar-benar terlaksana, bukan sekadar karena program tersebut terselenggara secara fisik, namun yang lebih penting dari itu adalah tujuan dari program tersebut tercapai dengan baik, setahap demi setahap. Hanya dengan itu, apa yang kita lakukan bisa betul-betul menjadi langkah yang efektif untuk mencapai tujuan.

Jangan terbiasa menyandarkan keberhasilan sebuah program pada ketersediaan dana dan kecukupan finansial. Biasakanlah berpikir, bahwa ada dan tiadanya dana tidak akan mempengaruhi semangat kita untuk melangkah dan melaksanakan apa yang menjadi program kita. Jangan pernah berpikir, bahwa ketika tidak ada dana, maka kita tidak bisa berbuat apa-apa. Itu bukan cara berpikir santri. Terlalu bersandar pada dana berpotensi menyebabkan kita untuk mengorbankan prinsip dan melupakan tujuan hanya demi mendapatkan cairan.

Hari-hari ini kita sebagai santri sedang menghadapi tantangan yang sangat berat. Tantangan yang sudah menyangkut pertarungan pandangan hidup yang mungkin tidak pernah terjadi sebelumnya. Arus publik bangsa kita sedang menggiring opini terjadinya pertentangan antara Islamisme dan nasionalisme. Sikap sinis terhadap gerakan keislaman meningkat tajam dalam lima tahun terakhir. Sekat antara satu gerakan dakwah dengan gerakan dakwah yang lain juga menjadi semakin lebar. Fanatisme terhadap baju ormas semakin membabi buta. Sedangkan keteguhan terhadap manhaj semakin memudar dan terlupakan.

Kita harus super hati-hati dalam menyikapi hal ini. Jangan sampai terikut arus, sehingga melupakan pedoman-pedoman pokok yang telah digariskan oleh para Masyayikh dalam menyikapi persoalan keagamaan dan kebangsaan. Pegang dan sebarkan sikap dan pandangan santri tentang agama dan negara. Bahwa kita harus patuh kepada aturan pemerintah senyampang hal itu tidak bertentangan dengan ajaran agama, karena hukum agama berada di atas hukum negara. Negara diperlukan untuk keteraturan hidup kita di dunia, sedangkan agama untuk keteraturan hidup kita di dunia dan di akhirat. Ajaran agama adalah tujuan, sedangkan negara adalah sarana dan alat untuk mencapai tujuan.

Hormatilah para ulama dan para habaib, dengan segala manhaj dakwah mereka yang berbeda-beda. Perbedaan manhaj dakwah harus kita hormati, senyampang pandangan keagamaannya sesuai dengan Ahlussunnah Waljamaah dan manhaj gerakannya tidak bertentangan dengan pedoman-pedoman syariat.
Sekian sambutan saya, semoga bermanfaat. Selamat mengemban amanah dan melaksanakan tugas. Saudara-Saudara adalah jendela Sidogiri di seluruh penjuru Nusantara. Orang melihat Sidogiri dengan cara melihat kalian. Apa yang dilakukan oleh kalian, sedikit banyak akan membekaskan kesan tentang Sidogiri di benak masyarakat luas. Oleh karena itu, berhati-hatilah, bersungguh-sungguhlah, dan jangan main-main.
Jika kalian teguh dan memiliki komitmen kuat dengan langkah dan misi Sidogiri, insya Allah doa para Masyayikh akan terus menyertai kalian, di manapun kalian berada, di manapun kalian berkiprah. Semoga kalian semua dilindungi oleh Allah, dan terus tersambung dengan Sidogiri. Amin ya Rabbal Alamin.

Pasuruan, 26 R. Tsani 1442
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

d. Nawawy Sadoellah
Katib Majelis Keluarga Pondok Pesantren Sidogiri

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan