habib-rizieq-doakan-partai-berkarya-lolos-ke-senayan-Rubcdk6j8o

Oleh: Moh. Nadi*

Pasca kepulangan Habib Rizieq Shihab–Ketua Pront Pembela Islam (FPI)–ke tanah air, perbincangan soal hal ihwal habib kembali mencuat ke permukaan. Di antaranya adalah polemik mengenai gelar habib. Siapakah sebenarnya yang pantas menyandang gelar habib dari zuriyat Nabi saw? Adakah syarat-syarat tertentu?

Prof. Quraish Shihab menyatakan bahwa gelar habib hanya diperuntukkan bagi keturunan Nabi saw yang alim dan memberi perhatian pada masyarakat (Tirto.id, 24/01/2017). Abdillah Toha (2020) mengatakan bahwa gelar habib dahulu hanya disandang dan diberikan oleh pengikutinya kepada orang-orang yang dianggap sebagai panutan dan telah mencapai maqâm atau tingkat keagamaan tertentu.

Pernyataan Quraish Shihab dan Abdillah Toha di atas mempunyai kesamaan sekaligus perbedaan. Kesamaannya, keduanya sama-sama menekankan bahwa gelar habib hanya pantas disandang oleh mereka yang alim atau telah mencapai maqâm keagamaan tertentu. Perbedaannya, Abdillah Toha berbicara secara umum, tidak tertentu pada zuriyat Nabi saw, sedangkan Quraish Shihab tertentu pada zuriyat Nabi saw.

Pertanyaannya kemudian adalah benarkah gelar habib hanya dapat disandang dan diperuntukkan bagi zuriyat Nabi saw yang alim?

Sebelumnya menjawab pertanyaan di atas, saya akan membahas terlebih dahulu tentang gelar “sayyid” dan “syarîf”. Bagaimana pun kedua istilah tersebut mempunyai hubungan yang amat erat dengan istilah habib dan agar pemahaman kita utuh, tidak ahistoris.

Dalam kitab, Lisân al-‘Arab, kata sayyid–secara semantis–menunjukkan makna majikan (al-rabbu), pemilik (al-mâlik), kepala keluarga (al-zauj), orang mulia (al-syarîf), orang terhormat (al-karîm), orang terpuji (al-fâdhil), murah hati (al-halîm), pemimpin (al-ra’îs), dan orang yang memikul kesulitan kaumnya (al-muhtamil).

Sementara itu, kata syarîf menunjukkan arti orang yang mulia sebab keturunan (asy-syarf bi al-‘abâ’). Dalam kitab, al-Qamûs al-Muhîd, disebutkan bahwa syarf berarti gelar agung nan mulia yang hanya dapat diperoleh melalui keturunan atau silsilah yang agung nan mulia juga.

Muhammad Abduh Yamani (1992) menyatakan bahwa pada masa awal-awal Islam, gelar “syarîf” diperuntukkan bagi semua Bani Hasyim. Namun, kemudian setiap daerah Islam berbeda-beda dalam menyematkan gelar “syarîf” pada Bani Hasyim–bisa jadi karena faktor politik. Penduduk Irak menyandangkan gelar “syarîf” hanya pada Bani Abbasiyah.

Adapun penduduk Syam dan yang lain, termasuk Mesir, hanya menyematkan gelar “syarîf” pada keturunan Sayidina Ali bin Abi Thalib. Bahkan, ketika Dinasti Fathimiyah berkuasa di Mesir, gelar “syarîf” hanya diperuntukkan bagi keturunan Sayidina Hasan ra dan Sayidina Husain ra. Dan hal itu bertahan hingga saat ini dipelbagai belahan dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Berbeda dengan di Hijaz yang secara khusus menyandangkan gelar “syarîf” pada zuriyat Sayidina Hasan ra dan Sayidina Husain ra yang menjadi pemimpin Makkah. Sedangkan, zuriyat yang tidak menjadi pemimpin Makkah, disematkan gelar “sayyid” pada mereka. Dari sini, sebenarnya tidak ada bedanya antara “syarîf” dan “sayyid”. Dalam arti keduanya sama-sama merupakan gelar khusus untuk zuriyat Nabi Muhammad saw.

Meskipun demikian, ada sebagian orang yang mengkhususkan gelar “sayyid” hanya pada zuriyat Sayidina Husain ra dan gelar “syarîf” pada zuriyat Sayidina Hasan ra. Hal itu karena Sayidina Hasan ra pernah dibaiat menjadi khalifah pasca kesyahidan ayahnya, Sayidina Ali ra, sedangkan Sayidina Husain ra belum pernah dibaiat. Namun, pada umumnya saat ini, umat Islam tidak membedakan dua gelar di atas. Keduanya sama-sama dapat disandangkan pada zuriyat Sayidina Hasan maupun Sayidina Husain.

Alhasil, semua zuriyat Nabi saw sama-sama dapat menyandang gelar “sayyid” dan “syarîf”, baik menjadi pemimpin maupun tidak. Sebab, datuk mereka merupakan pemimpin (sayyid) semua anak Adam, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Imam Muslim. Pun, secara silsilah tidak ada yang lebih mulia dan menandingi silsilah nubuwah yang disandang Nabi Muhammad saw.

Kemudian, secara semantis, kata al-habîb merupakan isim fâ’il dengan wazan fa’îl-un yang bisa mermakna fâ’il dan atau maf’ûl. Sebab itu, kata al-habîb bisa bermakna orang yang mencintai dan bisa pula bermakna orang yang dicintai.

Syekh Muhammad bin Salim asy-Syafi’i menerangkan dalam kitab, Is’âd al-Rafîq, bahwa orang-orang Hadhramaut menjadikan kata al-habîb sebagai gelar khusus yang disandangkan pada keturunan Sayid Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir. Dan sayid pertama yang menyandang gelar “al-habîb” adalah Sayid Umar bin Abdurrahman al-Attas.

Alasan utama umat Islam menyandangkan gelar “al-habîb”, menurut Syekh Muhammad bin Salim, adalah sebagai salah satu manifestasi dan bukti kecintaan orang-orang mukmin kepada ahlulbait, sebab ada perintah dalam al-Qur’an dan as-Sunah untuk mencitai mereka. Dari titik ini, pernyataan Quraish Shihab dan Abdillah Toha di atas adalah ahistoris. Semua zuriyat Nabi saw dapat menyandang gelar “al-habîb” meski tidak alim atau telah mencapai maqâm keagamaan tertentu.

Syekh Muhammad bin Salim mnenyatakan bahwa menurut para ahli ilmu, gelar “sayyid” dapat disandang siapa pun yang telah sampai pada maqâm tertentu dalam aspek keilmuan dan wilayah, sedangkan gelar “syarîf” hanya khusus pada zuriyat Nabi Muhammad saw.

Jadi, yang ada syarat harus alim adalah untuk gelar “sayyid” bukan “al-habib”. Gelar habib dapat disandang semua zuriyat Nabi saw tanpa ada syarat tertentu, sebagaimana gelar “syarif”. Ia hanyalah gelar yang disandangkan khusus kepada ahlulbait sebagai representasi dan manifestasi kecintaan orang-orang mukmin terhadap mereka sebagaimana diperintahkan Allah swt dalam al-Qur’an (QS 42: 23). Tidak lebih.

Lain dari itu, kewajiban mencintai dan memuliakan ahlulbait tidak akan pernah gugur meski, misalnya, mereka melakukan maksiat. Tersebab, kewajiban tersebut atas dasar qarabah (hubungan darah) bukan qurbah (spritualitas), sehingga semua ahlulbait layak dan pantas menyandang gelar habib.

*Ketua PC HMASS Yogyakarta

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan