Kajian Aswaja, HMASS Denpasar, Selasa (16/07/2019) Pengurus Cabang Bali Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri (HMASS) mengadakan kajian Ahlussunnah wal Jamaah (Annajah) yang ketiga di Masjid Raya Baiturrahmah Kampung Jawa Denpasar, juga bekerja sama dengan Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) Bali.

Tema yang diangkat dalam kajian kali ini adalah “Selektif Belajar Ilmu Agama; Bedah Kitab Risalah Ahlus Sunnah wal Jamaah Karya KH. Hasyim Asy’ari”

Hadir sebagai pembicara, Ust. Ahmad Muntahal Hadi, Anggota Annajah Center Sidogiri dan Staf Pengajar Pondok Pesantren Sidogiri. Dalam prolog materinya, ia menegaskan:  “Perbedaan sudah lazim terjadi di kalangan umat Islam, namun lebih penting dari itu harus tetap saling menjaga persatuan, persaudaraan sesama muslim dengan tidak mudah mengkafirkan satu golongan dengan golongan yang lain”, tutur ust. Ahmad Muntahal Hadi.

Beliau menerangkan bagaimana ulama terdahulu sangat selektif betul dalam memilih guru, utamanya ilmu agama. Kalau kita sakit kita percayakan pada seorang dokter untuk merawat penyakit kita, demikian pula bila akidah keislaman kita bermasalah tentu kita harus mencari orang yang ahli dalam urusan akidah Islam untuk dijadikan guru bagi kita, jangan mencari tukang bangunan untuk mengobati luka, pasti tidak akan efektif dalam pengobatan, demikian pula jangan mengambil ilmu agama pada orang yang bukan ahlinya, apalagi pada orang yang suka berdusta.

Beliau menjelaskan tentang isi dari kitab karya KH. Hasyim Asy-ari  diberi nama Risalah, hingga beliau merumuskan inti dari Ahlussunnah wal jamaah adalah tawassuth/tengah-tengah. Tidak ekstrem kanan dan tidak ekstrem kiri. Sehingga terwujudnya persatuan, persaudaraan sesama muslim dan sesama anak bangsa.

Dipenghujung kajian, Ust. Ahmad Muntahal Hadi memberikan kenang-kenangan Kitab Risalah tersebut kepada takmir Masjid Raya Baiturrahmah. Acara ditutup dengan doa oleh Habib Umar Al-Qadri yang kebetulan hadir di tengah-tengah jamaah.

Para peserta semangat sekali dalam mengikuti kajian ini. Salah satu dari mereka mengatakan: “Alhamdulillah ada kajian seperti ini, untuk membuka wawasan kita tentang amaliah yg biasa kita lakukan ternyata ada dasarnya, tidak hanya orang yg berbicara bidah saja dengan bahasa kekinian, bahasa kampus dengan lantang dia bicara, perlu yang betul-betul alumni pondok yang harus bicara di depan seperti ini”.[]

Redaksi

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan