Ilustrasi seorang murid yang sedang mengaji kepada seorang guru

Di grup WatsApp wali Santri Madrasah Diniyah (Madin) Baiturrahman yang saya ikuti, ada seorang wali Santri yang upload foto yang menggambarkan 3 murid yang sedang asyik menginjak-injak seorang guru. Menginjak-injak disini bukan berarti menginjak yang memiliki konotasi ketidaksopanan seorang murid kepada gurunya. Tapi lebih kepada makna dimintai tolong agar punggung seorang guru tersebut diinjak-injak karena, mungkin, terasa lesu.

Lalu ada seorang wali Santri Madin berkomentar bahwa foto semacam itu merupakan bentuk kepercayaan dan kedekatan antara murid dan guru. Benarkah? Mungkin iya dan mungkin juga tidak. Tapi, bagi penulis yang pernah merasakan langsung menjadi seorang Santri, ada hal lebih dari rasa percaya dan kedekatan. Apa itu? Barokah.

Ya. Saya percaya barokah (kebaikan di atas kebaikan lainnya). Gampangnya barokah, jika digambarkan dalam kehidupan nyata adalah sebagaimana bertambah tenangnya batin seseorang baik susah maupun bahagia. Kata Sujiwo Tejo, langgeng tanpa seneng tanpo susah antheng mantheng sugeng jeneng–artinya bisa tanya mbah google. Hehe…

Barokah, tentunya merupakan hal yang tak bisa diakal. Apalagi jika dilihat dari kenyataan bahwa seorang murid atau Santri yang dimintai tolong Ustadz atau Kyainya untuk injak-injak punggung atau memijatnya, apa standart keberhasilannya, atau apa indikasi hubungan antara memijat dengan ketenangan batin? Apalagi jika pakai mesin penghitung, semacam kalkulator, tentu bukan ukurannya, pak.

Saya, ketika masih diajari alif fatha aaa, alif kasroh iii, alif dhomma uuu, sering dimintai tolong oleh almarhum Abah (kakek saya dari jalur ibu) untuk menginjak-injaknya mulai punggung hingga telapak kaki. Bahkan pernah pula diperintahnya untuk berdiri kaki satu pada bagian leher belakangnya. Selain menjadi kakek, secara tidak langsung ia adalah guru bagi saya.

Lalu ketika saya duduk di bangku MI IMAMI, Kepanjen, ada seorang guru yang–masyaallah luar biasa disiplinnya–sering memintai saya untuk memijat betis kakinya. Beliau adalah Abah Mujani yang hingga kini masih diberikan kesehatan walau usia sudah senja–semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau.

Pun ketika berada di pesantren, walau bukan ahli pijat dan juga tak sesering tukang pijat, tapi saya pernah memijat ustadz saya. Sepertinya, memijat seorang guru bagi murid adalah hal yang sudah biasa. Padahal tidak demikian. Ada hal besar yang diharapkan seorang murid, yakni berkah doa agar kelak menjadi seorang yang bermanfaat bagi agama dan bangsa.

Begitu saya mengenal Santri-santri Madin Baiturrahman, sesekali saya meminta tolong agar pundak saya dipijat. Terutama ketika mata pelajaran shorof yang mengharuskan para santri untuk menghafalkan dengan sempurna. Jika tidak hafal, kadang saya menghukum dengan cara agar saya dipijat.

Dengan demikian, otot pundak saya terasa lebih ringan. Tapi yang bahaya adalah jika nanti satu kelas tidak ada yang hafalan, malah memilih hukuman untuk memijat. Aduh maaak… ini yang harus dihindari! Tapi alhamdulillah, hampir setiap pekan, peserta didik saya, lunas dalam menghafalkan shorof. Bahkan ada seorang Santri yang justru menawarkan diri untuk memijat, sedang hafalan dia sudah luar biasa sempurna.

Barulah sesekali waktu saya ceritakan pengalaman saya. Tentang masa lalu saya, ketika menjadi murid yang suka sekali jika dimintai tolong untuk memijat pak guru. Barang kini sudah dianggap menjadi ustadz oleh Santri Madin Baiturrahman, begini ternyata jadi Ustadz, enak ada yang bisa dimintai tolong untuk memijat. Tapi dalam hati, baik dikabulkan atau tidak, saya tetap mendokan seluruh Santri Madin, utamanya anak yang sedang memijati saya: semoga kelak menjadi generasi emas untuk perubahan bangsa yang lebih baik dan menjadi rujukan untuk menyelesaikan persoalan beragama. Jika doa saya terlalu berlebihan, semoga mereka adalah anak-anak yang tak pernah lupa untuk mendoakan kedua orang tuanya. Amin…

Royhan Rikza, Kepanjen, 10 Februari 2018

Silakan tulis komentar Anda

Tinggalkan Balasan